Shalat Khusyuk dan Fikiran

 

oleh: Ustz. Drs. H. Lukman Hakim

Pendahuluan Tulisan ini merupakan bagian buku yaitu “CARA CEPAT MENCAPAI SHALAT KHUSYUK DENGAN METODE 3 T (TUMA’NINAH, TAFAKKUR, TADABBUR)” yang telah beredar di toko-toko buku diseluruh Indonesia. “Cara Cepat” dalam judul buku itu menjelaskan bahwa khusyuk bisa diperoleh secara cepat. Setiap orang mudah mencapai khusyuk, hanya dalam waktu 20 menit khusyuk dapat dicapai untuk satu ayat dalam surat Al-Faatihah. Dengan demikian mencapai khusyuk saat membaca surat Al-Faatihah yang terdiri dari 7 ayat hanya memerlukan waktu 7 X 20 menit = 140 menit. Tetapi ketika saya tanyakan kepada setiap orang “Apakah mencapai khusyuk dalam shalat itu mudah atau sulit?”. Hampir setiap orang menjawab sulit, bahkan ketika ditanyakan kepada seorang yang berusia diatas 65 tahun, dimana orang tersebut telah melaksanakan shalat ±60 tahun lamanya, menjawab hal yang sama. Padahal bacaan yang wajib dibaca dalam shalat adalah Al-Faatihah, bila mengikuti metode 3T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) dalam membaca surat Al-Faatihah hanya memerlukan waktu 140 menit saja untuk khusyuk, tidak perlu puluhan tahun.

Selain itu “Cara Cepat” yang saya maksud adalah waktu yang diperlukan untuk menjelaskan kepada jamaah atau peserta seminar, hanya memerlukan waktu 2 hari saja, sedangkan saya mempelajari dan mencari rumusannya yang tepat, perlu waktu hampir 40 tahun.

Berkaitan dengan tema tulisan ini “ Shalat Khusyuk dan Pikiran “ akan diuraikan bahwa khusyuk sangat erat kaitannya dengan kegiatan pikiran, bahkan faktor utama mencapai khusyuk adalah pikiran. Faktor pikiran ini menjadi kunci mencapai khusyuk. Kesimpulan ini diperoleh dari fakta bila seseorang ditanya “ Bagaimana rasanya tidak khusyuk ? “, kebanyakan orang akan menjawab “ Pada saat shalat, pikiran kemana-mana “. Demikian juga yang saya rasakan selama puluhan tahun melaksanakan shalat.

Pemilihan tema ini terinspirasi dari pengalaman hidup saya mencari makna khusyuk sejak usia muda. Ketika saya berusia 18 tahun saya merasa hambar dalam melaksanakan shalat, pikiran saya kemanamana. Keadaan ini membuat saya frustasi karena saya merasa berbohong dalam shalat. Berbohong kepada diri sendiri dan kepada Allah. Kata ustaz, shalat itu berdialog dengan Allah Tuhan Pencipta alam, tetapi saya tidak merasakannya. Bahkan dalam shalat saya tidak menghiraukan keberadaan Allah yang Maha Besar, Maha Mulia, Maha Agung. Saya merasa berdosa bila saya berbohong terus menerus seperti ini. Saya berpikir lebih baik keluar dari islam kemudian menjadi seorang ateis (tidak ber-Tuhan) dari pada terus berbohong pada diri sendiri.

Alhamdulillah dengan pertolongan Allah, keadaan ini tidak berlangsung lama, akhirnya saya kembali mengimani ajaran islam. Anehnya saya merasakan kebenaran islam itu pada saat menjadi seorang ateis. Perjalanan saya menjadi seorang ateis tidak perlu ditiru, cukuplah hanya saya sendiri yang mengalaminya. Mungkin ini cara Allah membimbing saya untuk lebih meyakini bahwa islam adalah satu-satunya agama yang benar. Kebenaran islam yang saya rasakan itu disebabkan ketika saya menjadi seorang ateis, hidup saya terasa gelap gulita, saya cenderung melakukan maksiat dan kejahatan karena tidak ada yang ditakuti lagi. Saya merasakan perbedaan yang jelas antara hidup seorang ateis dan seorang muslim. Ketika saya menjadi seorang muslim hidup saya terasa lebih tenteram, damai, karena setiap hari mencurahkan isi hati kepada Allah dan berwudhu yang membuat diri saya lebih segar. Setelah kembali mengimani agama islam, saya mulai lagi mencari bagaimana cara mencapai khusyuk yang benar karena menurut Al Qur’an khusyuk adalah wajib [QS. Al Baqarah ( 2 ) : 238] dan yang berpahala adalah yang khusyuk dalam sahalatnya [QS. Al Mukminuun ( 23 ) : 1 – 2 ]. Bermacam-macam pelajaran khusyuk saya terima dari para guru, ustaz dan buku-buku, termasuk mengikuti aliran tarikat dan latihan

latihan meditasi selama puluhan tahun. Sekalipun demikian saya masih belum puas dan saya terus berusaha dan berdo’a agar Allah memberikan bimbingan kepada saya untuk mencapai khusyuk yang sebenarnya. Dalam perjalanan saya mencari khusyuk dalam shalat ini saya menemukan bermacam-macam pandangan, diantaranya ada orang yang hanya berteori membahas ayat Al-Qur’an dan Hadis tentang khusyuk tetapi tidak bisa mempraktekkannya. Perjalanan mencari khusyuk dalam shalat adalah perjalanan panjang yang melelahkan, bila saat itu saya menemukan seseorang yang mampu mengajarkan khusyuk dengan benar, menyeluruh dan terprogram dengan baik tentu akan jauh lebih mudah dan tidak terjerumus menjadi seorang ateis. Perjalanan panjang dan melelahkan ini memberikan pelajaran kepada saya, ternyata ilmu tentang khusyuk yang benar adalah ilmu yang sangat berharga dan mahal karena harus dibayar dengan waktu belajar yang panjang dan melelahkan, dana yang besar, latihan bertahun-tahun. Tetapi sayangnya ada sebagian orang yang belum memahami, kurang bisa menghargai dan menganggap remeh ilmu ini sehingga tidak sungguhsungguh mempelajarinya. Ada faktor lain yang menghambat seseorang untuk belajar khusyuk dengan sungguh-sungguh, diantaranya karena ingin belajar instan, tergesa-gesa, ingin cepat, merasa khusyuk tidak penting karena shalat gerakan dan ucapan lidah sudah banyak pahalanya, merasa sudah lama melaksanakan shalat sehingga tinggal sedikit lagi belajarnya yaitu tentang khusyuknya saja. Faktorfaktor penghambat inilah yang menyebabkan seseorang semakin sulit mencapai khusyuk, faktor penghambat lainnya akan diuraikan pada bagian berikutnya. Sebelumnya saya kurang menyadari pentingnya khusyuk dalam shalat karena pelajaran yang saya terima selama ini tentang shalat adalah hanya gerakan badan dan ucapan lidah, bila keduanya dilakukan maka shalatnya sah dan mendapat banyak pahala. Dari pelajaran yang saya terima selama ini seolaholah penilaian Allah atas shalat yang kita lakukan hanya sebatas gerakan badan dan ucapan lidah saja, tetapi yang sebenarnya Allah akan menilai isi hati, pikiran, perasaan dan jiwa kita saat melaksanakan shalat. Bila diibaratkan makanan bergizi yang terbungkus kemasan yang bagus maka shalat berupa gerakan badan dan ucapan lidah adalah bungkusnya atau kemasannya, sedangkan isi makanan yang bergizi sesungguhnya adalah khusyuknya yang berada dalam pikiran, perasaan dan jiwa. Karena itu bila kita melaksanakan shalat hanya sebatas gerakan badan dan ucapan lidah secara fisik sedangkan pikirannya, perasaannya, jiwanya tidak shalat maka kita hanya memperoleh bungkusnya saja sedangkan isi makanannya yang bergizi tidak ada. Karena itulah betapa pentingnya khusyuk dalam shalat, khusyuk adalah kegiatan jiwa yang dinilai oleh Allah dan khusyuk inilah yang akan membentuk akhlak mulia, diantaranya mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Perintah melaksanakan shalat khusyuk adalah cara untuk membimbing, melatih dan mendidik pikiran, perasaan dan jiwa yang akhirnya membentuk akhlak mulia. Pelajaran lain yang saya lakukan adalah memperhatikan orang-orang arab yang melakukan shalat di Masjidil Haram, karena saya beranggapan bahwa yang paling khusyuk shalatnya adalah orang-orang arab karena mereka paling memahami bahasa arab.

Khusyuk bukan sekedar memahami arti dalam bahasa arab tetapi memerlukan pembelajaran lainnya yang ada di dalam diri manusia.

Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah, apakah orang arab atau orang yang fasih berbahasa arab otomatis khusyuk shalatnya ? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan kata-kata, atau hanya dengan penjelasan seorang ustaz atau membaca buku-buku, tetapi harus dijawab dengan kenyataan dan fakta-fakta. Bila anda pernah melaksanakan ibadah haji, coba anda perhatikan bagaimana orang-orang arab melaksanakan shalat, apakah semuanya tertib ?. Saya sengaja memperhatikan orang-orang arab yang sedang melaksanakan shalat di Masjidil Haram, ternyata tidak semua orang arab melaksanakan shalat dengan khidmat dan tertib, bahkan ada yang matanya melirik ke kiri, ke kanan, ada juga shalatnya cepat sekali dan lain-lain. Contoh lain adalah, ada bebarapa kawan saya yang puluhan tahun belajar di Arab Saudi dan Kairo – Mesir menyelesaikan sekolahnya di bidang agama, diantaranya ada yang bergelar doktor dan profesor, bahasa arab mereka lebih fasih dari bahasa Indonesia, mereka berterus terang kapada saya bahwa mereka mengalami kesulitan besar untuk mencapai khusyuk dalam shalat.    Kenyataan ini menjadi pelajaran bagi saya bahwa bahasa arab yang fasih tidak menjamin kekhusyukan dalam shalat. Boleh jadi bahasa arabnya sangat fasih tetapi kesadaran, keinsyafan dan keyakinannya kepada Allah sangat lemah. Mungkin juga hawa nafsu duniawi sangat kuat menguasai dirinya pada saat shalat, sehingga pikiran kebendaan dan keduniaan sangat menguasai pikirannya, atau keimanan dan penghayatannya masih kurang mantap. Khusyuk bukan sekedar memahami arti dalam bahasa arab tetapi memerlukan pembelajaran lainnya yang ada di dalam diri manusia. Contoh lainnya adalah banyak sekali orang Indonesia yang fasih, mengerti dan memahami bacaan surat Al Faatihah tetapi shalatnya tetap tidak khusyuk. Contoh-contoh tersebut memberikan pelajaran kepada kita bahwa khusyuk bukanlah kegiatan gerakan fisik shalat atau ucapan lidahnya yang fasih yang bisa dilihat dan didengar saja tetapi lebih kepada kegiatan pikiran, perasaan, hati dan jiwa yang ada didalam diri seseorang, hanya dirinya dan Allah yang mengetahui secara pasti. Karena itu shalat khusyuk membimbing kita untuk belajar mempraktekkan sifat jujur pada diri sendiri, karena khusyuk bersifat rahasia dan tersembunyi. Oleh karena itulah saya ingin berbagi pengalaman kepada Bapak, Ibu dan Saudara-saudara yang membutuhkan dengan harapan dapat memberi manfaat yang sebesar-besarnya serta mempermudah jalan memperoleh khusyuk yang sebenarnya dalam shalat. Beberapa pelajaran tentang khusyuk yang saya terima Pelajaran mencapai khusyuk dalam shalat, saya peroleh dari para ustaz, buku-buku dan guru-guru agama serta dari para ulama. Bermacam-macam cara mencapai khusyuk yang saya terima antara lain sebagai berikut : melihat ke tempat sujud; harus shalat berjamaah; menutup mata dan menyumbat telinga dengan kapas (alat penyumbat); membayangkan huruf Allah; membayangkan ka’bah; membayangkan awan; membayangkan Tuhan di langit; Tuhan adalah cahaya; menangis saat shalat; fokus; konsentrasi; kosongkan pikiran; mencari tempat sunyi; meditasi tingkat tinggi; mengerti arti bacaan shalat; mempelajari bahasa arab; tajwidnya harus bagus; mengikuti ajaran tasawuf dan lain-lain. Semua pelajaran yang diberikan itu telah saya praktekkan selama puluhan tahun. Berikut ini saya uraikan pelajaran khusyuk yang saya terima dari berbagai sumber sebagai berikut : 1. Saya diminta untuk berkonsentrasi atau fokus kepada Allah, saya berusaha mencobanya bertahuntahun tetapi saya mengalami kesulitan karena timbul pertanyaan dalam pikiran saya, konsentrasi atau fokusnya seperti apa. Kadang-kadang saya memaksakan diri dan membayang-bayangkan sesuatu seolah-olah Allah ada dihadapan saya. Kemudian saya menyadari boleh jadi secara tidak sengaja saya berbuat syirik, karena Allah tidak bisa dibayangkan. 2. Saya diminta untuk membayangkan seolah-olah shalat berada didepan Ka’bah, sayapun melakukannya, tetapi setelah berlangsung lama, saya berfikir bahwa Allah itu bukan Ka’bah. Menghadap Allah bukan menghadap Ka’bah, Allah tidak sama dengan Ka’bah. Bagaimana dengan orang yang tidak pernah melihat Ka’bah, apakah mereka tidak bisa menghadap Allah?. Orang yang shalat didepan Ka’bah belum tentu khusyuk apalagi hanya membayangkan. Saya khawatir hal ini menimbulkan syirik. 3. Saya diminta untuk menghafal arti bacaan dan mengulang artinya ketika saya shalat. Saya mencoba fokus pada arti bacaan shalat tetapi saya tidak merasakan khusyuk, shalat saya masih terasa hambar. 4. Saya diajarkan agar tidak fokus kepada artinya karena bila fokus kepada artinya tidak akan fokus

kepada Allah. Bagaimana mungkin saya bisa fokus kepada Allah sedangkan Allah tidak bisa dilihat atau dibayangkan. Fokus kepada benda sangat mudah tetapi fokus kepada Allah bagaimana?. 5. Saya diajarkan meditasi, ada yang menyebut meditasi tingkat tinggi, belajar tentang cakra-cakra, menghentikan kegiatan pikiran dan sebagainya sambil menyebut Allah dalam hati. Setelah saya melakukannya bertahun-tahun, memang ada ketenangan tetapi tidak ada hubungannya dengan bacaan shalat, tidak ada hubungannya dengan makna-makna yang diajarkan dalam shalat. Yang ada adalah hubungannya dengan pelajaran meditasi itu sendiri. Ini tidak sesuai dengan yang diajarkan nabi Muhammad SAW. 6. Pada usia 22 tahun, atau 35 tahun yang lalu saya diajari zikir sekaligus bermeditasi. Saya melakukannya beberapa jam sampai terlihat adanya cahaya, itulah Allah, Allah adalah cahaya sesuai Al-Qur’an surat An-Nur (24) : 35 yang artinya “Allah itu cahaya langit dan bumi”. Bila kita berzikir dengan memejamkan mata maka kemudian akan terlihat cahaya kuning, putih, dipelupuk mata itulah Allah. Setelah saya memahami lebih jauh bisa jadi ini perbuatan syirik karena mempersamakan Allah dengan benda, tetapi mengambil dalil Al-Qur’an. Saya juga merasakan keluarnya sesuatu dari dalam tubuh saya. Katanya yang keluar itu adalah ruh atau korin, saya melihat diri saya sendiri tetapi orang lain tidak melihatnya. Kata guru saya inilah khusyuk yang sebenarnya sesuai ajaran islam. Banyak orang yang berzikir mencari keadaan seperti ini, bahkan ada yang memaksakan diri agar ruhnya keluar dari tubuhnya. Banyak orang yang merasa bangga dengan keadaan seperti ini. Setelah saya pelajari lebih jauh ternyata keadaan ini bukan khusyuk karena hal ini bisa dialami oleh orang musyrik atau orang kafir sekalipun. Mereka bisa mencapai keadaan ini dengan cara berlatih meditasi dalam waktu yang lama. Ini gejala alami biasa, bahwa setiap orang bisa melakukan ini termasuk yang ateis, musyrik, munafik dan kafir. Khusyuk itu hanya dapat dirasakan oleh orang beriman saja. Sedangkan orang kafir, musyrik tidak mungkin bisa khusyuk dalam shalatnya, karena khusyuk menyangkut keyakinan yang paling dalam pada diri manusia. 7. Saya diajari menyebut nama Allah didalam hati dengan memaksakan diri untuk menundukkan jiwa dan badan, katanya nanti Allah akan membimbing kita secara langsung. Sayapun melakukannya tetapi saya merasa hampa karena memaksa-maksa diri untuk tunduk, saya tidak memahami tunduk seperti apa?, tunduk bagaimana?, tunduk kepada siapa?. Padahal Allah tidak bisa dilihat, kesadaran tidak ada, keyakinan tidak ada. Ada banyak kejadian yang kurang baik akibat hal ini, banyak kawan saya yang mengalami sakit jiwa karena memaksakan diri, dia merasa sudah memiliki ilmu yang tinggi dan mencapai puncaknya, mikrajul mukminin, dia selalu mendengar bisikan-bisikan halus dalam dirinya. Dia sulit dinasehati karena dia merasa bisikan ini adalah bisikan dari Allah. Dia terus berhalusinasi, dia tidak menyadari bahwa dia telah terkena penyakit jiwa. 8. Saya diajari untuk menyebut Allah dalam hati kemudian bermeditasi, kemudian timbul getaran halus dalam diri, kulit bergetar. Setelah itu saya disuruh merasakan ada gerakan kecil, kemudian badan, tangan, kaki bisa bergerak sendiri dan terus diikuti. Katanya ini gerakan dari Allah. Suatu saat ada kawan saya mengeluh karena badannya sering bergerak sendiri diluar kontrol, dan akhirnya dia kebingungan dan bertanya apakah gerakan ini dari Allah atau dari syaitan. Diapun bingung bagaimana membedakan gerakan dari Allah dan dari syaitan. 9. Saya diajari membayangkan huruf Allah supaya khusyuk, sayapun melakukannya. Tetapi akhirnya saya menyadari saya sedang menyembah bayangan huruf, boleh jadi ini juga perbuatan musyrik. 10. Saya diajari untuk membayangkan bahwa Allah itu tinggi diatas langit, bersemayam diatas arsy. Ajaran ini berpedoman kepada Al-Qur’an surat Al-Ma’arij (70) : 3 – 4 dan surat Al-A’la (87) : 1. Setelah lama saya berfikir, kalau demikian adanya, maka Allah itu terlalu jauh sedangkan Allah memahami isi hati, ini bagaimana?. 11. Saya diajari untuk menghadirkan Allah dalam hati, seolah-olah Allah itu sebelumnya tidak hadir, sekarang dihadirkan. Padahal Allah selalu hadir yang mengurus diri kita dan alam semesta selamalamanya. Sayapun bertanya, hadirnya seperti apa?. 12. Saya diminta untuk menyebut Allah dalam hati terus menerus sambil menundukkan kepala, ketika saya tanya mengapa menundukkan kepala?, dijawab karena khusyuk artinya ketundukan. Saat melakukannya dan saya tidak merasakan apa-apa. Tetapi katanya sudah tersambung dengan Allah sambil dirasarasakan sudah connect atau ada hubungan. Rasanya seperti apa, saat itu saya menduga bahwa saya diajari untuk berhalusinasi seolah-olah merasakan hubungan dengan Allah. Padahal tak ada satu manusiapun bisa merasakan hubungan dengan Allah, karena Allah Maha Esa tidak bisa dirasakan.

  1. Ada juga yang mengajarkan untuk tidak mempelajari khusyuk secara mendalam karena islam itu mudah tidak perlu sulit-sulit. Orang bodohpun bisa ingat Allah dengan khsuyuk, karena Allah sudah memberikan keimanan dalam diri setiap orang saat diciptakan-Nya ruh. Bila pendapat ini yang saya anut maka selamanya saya menjadi orang bodoh dan kemungkinan pada suatu saat akan tersesat. 14. Banyak lagi pelajaran yang saya peroleh dari pencarian khusyuk selama puluhan tahun. Saya merasakan kebingungan, semakin saya belajar makrifatullah, filsafat ketuhanan, mikrajul mukminin menurut literatur atau buku-buku dan pandangan para pakar, saya semakin bingung. Inilah perjalanan panjang mencari khsuyuk yang saya alami. Boleh jadi masih banyak orang yang melakukan pencarian khusyuk seperti yang saya lakukan. Tetapi tidak semua orang memiliki tekad yang kuat untuk belajar terus menerus dalam jangka panjang, saya kira banyak yang berhenti kemudian mengikuti saja ajaran seseorang dan merasa sampai dipuncaknya yaitu mikrajul mukminin sehingga tidak mau lagi belajar yang lain. Ada juga yang merasa sudah sempurna khusyuknya padahal sesungguhnya dia terjebak dalam kekeliruan tetapi tidak menyadari.

Saya khawatir banyak orang yang terjebak karena hal-hal instan, misalnya ingin cepat khusyuk tetapi hanya belajar sedikit sudah merasa sempurna, belajar hanya teori merasa sudah pandai. Mungkin hasil yang diketahuinya hanya khusyuk yang bersifat instan. Karena itu saya menggolongkan khusyuk instan ini dalam empat jenis yaitu khusyuk terpaksa, khusyuk rakayasa, khusyuk menduga-duga dan khusyuk memaksa diri. Disamping ada khusyuk instan, ada 3 jenis shalat dalam Al-Qur’an selain shalat khusyuk yaitu Shalat Mabuk [QS. An Nisa’ (4) : 43], Shalat Munafik [QS. An Nisa’ (4) : 142] dan Shalat Celaka [QS. Al Ma’un (107) : 4 – 5 ]. Boleh jadi shalat yang kita lakukan selama ini termasuk dalam jenis shalat yang disebutkan Al-Qur’an ini tetapi kita tidak sadar bahkan merasa banyak pahalanya. Setelah puluhan tahun saya berkelana mencari khusyuk akhirnya saya kembali kepada Al-Qur’an surat Thaha (20) : 14 : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah (mengabdilah kepada) Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. Salah satu bentuk pengabdian kepada Allah adalah shalat. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa hakikat shalat adalah untuk mengingat Allah. Apanya yang diingat tentang Allah ?. Bila kita mengingat Zat-Nya mustahil bisa diingat karena Allah bukan benda, tetapi Allah Maha Esa yang berarti tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan, tak terbatas, tak terhingga, tak bisa dibandingkan dengan apapun, hanya satu-satunya Allah yang seperti ini [QS. Al-Ikhlas (112)]. Kalau demikian berarti yang diingat bukan Zat Allah tetapi peran Allah dan sifat Allah yang bisa dipelajari melalui tanda-tandanya dalam kehidupan karena Allah berperan penuh di alam semesta ini dan pada diri kita secara terus-menerus. Allah mengurus makhluk-Nya siang dan malam tanpa henti, tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur [QS. Al-Baqarah (2) : 255]. Kemudian apalagi yang diingat?, yang diingat adalah sifat-sifat-Nya dalam Asma’ul Husna, seperti Maha Kasih Sayang, Pemurah, Pengampun, Adil, Penolong, Dermawan, Menghukum yang bersalah, Mulia, Baik, Agung, Berilmu, Perkasa dan sebagainya. Untuk memahaminya kita perlu berpikir, merenung dan menghayati secara mendalam. Misalnya memahami Keesaan Allah, ingat Allah Maha Besar, Maha Besar Kekuasaan-Nya, Maha Besar Kemulyaan-Nya, Maha Besar Keperkasaan-Nya, Maha Besar Kasih Sayang-Nya, Maha Besar Keagungan-Nya, Maha Besar Keilmuan-Nya dan lain-lain Kemaha Besaran-Nya.

Cara mudah dan alami untuk memahami rasa khusyuk dalam shalat adalah dengan mengajukan pertanyaan sederhana yang berlawanan dengan rasa khusyuk.

Peranan dan sifat Allah inilah yang kita ingat saat mendirikan shalat, melalui bacaan shalat yang sudah ditentukan. Misalnya kata Allahu Akbar, Sami’ Allah, Surat Al-Faatihah dan sebagainya. Melalui bacaan ayat-ayat inilah kita mengingat peran Allah dengan khusyuk. Semua bacaan shalat harus dimengerti dan difahami, inilah yang disebut Tafakkur. Perintah untuk Tafakkur ini dijelaskan dalam banyak ayat dalam AlQur’an diantaranya QS. Ar-Rum (30) : 21. Orang yang tidak mengerti apa yang diucapkannya dalam shalat oleh Al-Qur’an disebut mabuk shalatnya [QS. An-Nisa (4) : 43]. Selanjutnya menghayati secara mendalam maknanya yang lebih luas yang disebut Tadabbur. Perintah Tadabbur ini ada dalam Al-Qur’an diantarnya QS. Muhammad (47) : 24. Khusyuk artinya ketundukan, maknanya adalah kita menyadari, menginsyafi dan meyakini, yang disebabkan karena memahami (Tafakkur), menghayati (Tadabbur) siapa Allah Yang Maha Besar itu dan siapa diri kita yang laahaula walaa quwwata illa billah, tak punya daya dihadapan-Nya (bukan dalam arti berhadap-hadapan) tetapi memahami keadaan makhluk manusia tidak ada apa-apanya karena memahami siapa Allah Yang Maha Besar. Shalat untuk mengingat Allah Menyadari dua keadaan ini (menyadari siapa Allah dan siapa diri dihadapan Allah) maka kita akan merasa tunduk sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Besar. Kita menjadi hamba dan mengabdi kepada-Nya karena memahami peran Allah pada diri. Hidup, mati kita dan segalanya tergantung penuh pada-Nya [QS. Al-Ikhlas (112) : 2]. Praktek shalat adalah usaha mengingat kembali apa yang telah dipahami dan diyakini dengan melakukan Tafakkur dan Tadabbur yang terbimbing oleh bacaan shalat yang diucapkan. Praktek ini adalah cara yang dilakukan dalam rangka meningkatkan keyakinan (Ilmul Yakin, ‘Ainul Yakin dan Haqqul Yakin) sekaligus memelihara ingatan agar tidak mudah lupa. Salah satu fungsi shalat adalah untuk mengingatingat kembali yang telah dipahami dan diyakini karena manusia memiliki sifat lupa. Misalnya ketika shalat shubuh, kita mengingat Allah melalui bacaan shalat yang dipahami dan dihayati hingga meresap kedalam jiwa. Setelah shalat kita disibukkan kembali dengan urusan duniawi yang menyebabkan kita lupa. Kemudian Allah memerintahkan shalat zuhur untuk mengulang, mengingat dan memperbaharui penghayatan bacaan shalatnya agar ingat, sadar dan insyaf kembali, demikian seterusnya. Pelaksanaan shalat dilakukan dengan tenang secara lahiriah dan bathiniah, tenang pikirannya, perasaannya dan hatinya, inilah yang disebut Tuma’ninah. Tuma’ninah menjadi syarat memperoleh khusyuk karena menurut hadis HR Bukhari disebutkan bahwa orang yang tidak tuma’ninah dalam shalatnya dianggap belum shalat. Melaksanakan shalat khusyuk dalam ajaran islam harus sesuai dengan ketentuan syariat yang diatur bacaan dan gerakannya. Berbeda dengan meditasi yang diserahkan sepenuhnya kepada cara masingmasing, karena itu shalat khusyuk tidak sama dengan meditasi. Ada sebagian orang tergesa-gesa ingin mencapai khusyuk, akhirnya terjebak dalam khusyuk instan dan berhalusinasi seolah-olah sudah mencapai puncaknya yaitu perjumpaan dengan Allah, mikrajul mukminin, merasa sudah sempurna, tidak memperdulikan arti dan makna yang dibacanya, karena dia menganggap shalat khusyuk sama dengan meditasi. Mencapai khusyuk dengan methode 3T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) merupakan cara cepat tetapi bukan instan. Khusyuk dan Pikiran Cara mudah dan alami untuk memahami rasa khusyuk dalam shalat adalah dengan mengajukan pertanyaan sederhana yang berlawanan dengan rasa khusyuk yaitu “Seperti apa rasanya tidak khusyuk ?“. Pertanyaan ini sering saya tanyakan kepada banyak orang, sebagian besar menjawab rasanya tidak

khusyuk dalam shalat adalah “pada saat shalat pikiran kemana-mana“, dengan jawaban ini kita dapat menyimpulkan bahwa tidak khusyuk itu sumbernya adalah pikiran kemana-mana. Sekarang pertanyaan yang harus dijawab adalah “Seperti apa rasanya khusyuk ?“. Bila mengacu kepada pertanyaan sebelumnya tentang rasa tidak khusyuk, maka jawaban tentang rasa khusyuk adalah “pada saat shalat, pikiran tidak kemana-mana atau fokus”. Pertanyaan berikutnya adalah “fokusnya kepada apa, atau kemana ?”, kebanyakan orang menjawab fokusnya kepada Allah. Pertanyaan berikutnya adalah “fokus kepada Allah seperti apa ? “, inilah jawaban yang perlu dicari. Bila fokus kepada benda, pekerjaan, atau sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan sangat mudah dipahami, tetapi fokus kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa yang keberadaanNya tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan, dibandingkan, disamakan, tak terbatas dan tak terhingga, tentu tidak mudah. Karena itulah untuk fokus kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa perlu belajar dengan sungguh-sungguh melalui proses pembelajaran yang benar, teratur dan terprogram dengan baik. Bila hal ini tidak dilakukan maka selamanya kita akan mengalami kesulitan untuk mencapai khusyuk yang sebenarnya. Proses pencarian khusyuk inilah yang saya lakukan sehingga memerlukan waktu yang cukup lama. Sesungguhnya belajar untuk mencapai khusyuk yang benar ini tidak memerlukan waktu yang lama, namun karena saya belum menemukan cara dan metode yang benar dan tepat sehingga saya harus mencari khusyuk dalam waktu yang lama. Saya harus mempelajarinya dengan berguru kepada orang lain, para ulama, mengikuti berbagai macam pelatihan, berbagai buku agama, mempelajari dan mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan jiwa, pikiran, otak manusia serta pelajaran-pelajaran meditasi dan sebagainya. Saya juga harus belajar berbagai disiplin ilmu yang terkait dengan masalah khusyuk serta harus mempraktekkan selama puluhan tahun. Perjalanan ini sangat melelahkan karena saya belajar secara parsial, tidak teratur dan tidak terprogram dengan baik. Makna shalat dan khusyuk harus dipahami secara utuh dan menyeluruh Ada kelemahan cara belajar kita selama ini sehingga khusyuk sulit dicapai, kelemahan itu adalah kurang memahami secara mendalam dan menyeluruh makna shalat dan khusyuk. Selama ini kita belajar tentang makna shalat dan khusyuk hanya sepintas lalu saja, parsial, tidak utuh dan tidak menyeluruh. Contohnya adalah memahami makna shalat, shalat hanya dipahami sebagai gerakan dan hafalan, ritual kewajiban. Ada juga yang mengatakan shalat itu berkomunikasi dengan Tuhan tetapi tidak jelas komunikasi seperti apa, apakah sama komunikasi dengan Tuhan dan komunikasi dengan sesama manusia. Dengan pemahaman yang serba sedikit, kita merasa sudah lebih dari cukup. Bila kita mengkaji lebih jauh ternyata pelaksanaan shalat dan khusyuk diperlukan adanya kesadaran, keinsyafan, dan keyakinan. Ketiganya adalah pondasi utama yang perlu dibangun terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat. Dengan kesadaran, keinsyafan dan keyakinan akan lahir keinginan untuk memuja, memuji, memulyakan dan mengagungkan Allah dalam shalat, berterimakasih, berdo’a dan memohon. Kemudian kekhusyukan akan mengikutinya yaitu rasa berendah diri dan rasa tunduk kepada Allah tumbuh didalam diri. Seiring dengan itu bacaan shalat akan menjadi pembimbing jiwa karena setiap ucapan dipahami dan dihayati dengan Tafakkur dan Tadabbur. Makna khusyuk yang saya pahami selama ini sebagai sebuah kata yang memiliki arti konsentrasi, fokus. Setelah saya mempraktekkannya ternyata khusyuk tidak bisa dipahami secara parsial (sebagian

sebagian) hanya sebatas arti katanya saja, tetapi harus dipahami secara utuh dan menyeluruh. Misalnya kata rumah, kata ini memiliki makna menyeluruh karena rumah terdiri dari bermacam-macam hal atau komponen yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Rumah terdiri dari dinding; pintu; jendela; atap; ruangan-ruangan dsb. Bila jendela kita letakkan tersendiri dilapangan yang luas terpisah dari rumah maka apakah jendela bisa dikatakan rumah?. Tentunya jendela tidak bisa disebut rumah. Demikian juga dengan arti kata khusyuk, tidak bisa hanya disebut dengan konsentrasi atau fokus saja karena khusyuk terdiri dari beberapa hal atau komponen yang harus ada dan dirasakan dalam diri kita, diantaranya kita merasakan adanya kesadaran, keinsyafan, keyakinan, bahwa Allah benar-benar Tuhan yang memiliki peran di alam semesta dan pada diri kita, bahwa Allah benar-benar memahami pikiran, perasaan dan hati kita, kita merasa Allah menyaksikan diri kita sedang memuja dan mengagungkan Allah serta memohon kepada-Nya. Didalam keadaan khusyuk, kita benar-benar memahami makna, hakikat dan tujuan shalat, memahami arti masing-masing bacaan shalat, adanya penghayatan yang dilakukan dalam shalat diantaranya menghayati bacaan shalat, fokus pada semua hal itu dan konsentrasi melakukannya, dsb. Didalam khusyuk itu ada pemahaman dan penghayatan tentang peran Allah, ke Maha-Besaran Allah, tahu siapa Allah yang sebenarnya, tahu diri dihadapan Allah. Karena itu khusyuk tidak bisa hanya diartikan sebagai fokus atau konsentrasi saja. Mengkaji arti dan makna khusyuk yang sebenarnya Arti khusyuk secara bahasa adalah ketundukan, berendah diri, berkhidmat. Kemudian timbul pertanyaan yang perlu kita jawab secara pasti, ketundukan seperti apa ?. Apakah sama rasa tunduk kepada Allah dengan rasa tunduknya seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya, rakyat kepada rajanya, buruh kepada majikannya ?. Jawabnya pasti berbeda antara ketundukan kepada Allah dan ketundukan kepada sesama manusia. Khusyuk adalah rasa ketundukan, berendah diri dan berkhidmatnya jiwa sebagai makhluk dihadapan Tuhannya. Lalu seperti apa rasanya ?. Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita perlu merenung lebih dalam dan lebih luas tentang peran Allah di alam semesta, kita bisa menyaksikan betapa luasnya alam semesta yang diciptakan dan dipelihara oleh Allah, karena itu dapat dipastikan bahwa Allah memiliki kekuasaan Yang Maha Luas, tak terbatas dan tak terhingga. Demikian juga kita perlu merenungkan peran Allah pada diri, yang telah menjadikan, memelihara diri kita sejak tiada, di alam kandungan hingga hari ini. Dengan perenungan yang sungguh-sungguh maka kita akan menyadari sepenuhnya bahwa Allah Maha Berkuasa atas diri kita, sehingga keyakinan kita kepada Allah menjadi lebih kuat, bahwa Allah sungguhsungguh Maha Besar sedangkan kita adalah makhluk yang sangat lemah, kecil, bagaikan debu yang tak berarti dibanding ke Maha-Besaran Allah yang menguasai alam semesta. Kesadaran ini akan membuat kita lebih menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tak punya daya dihadapan Allah. Seperti inilah rasa tunduknya kita dihadapan Allah, karena itu lambang ketundukan umat islam saat shalat adalah sujud menyatakan ketidakberdayaan diri yang sesungguhnya dihadapan Allah Yang Maha Besar. Untuk mencapai ketundukan seperti ini, Allah telah memberikan bimbingan-Nya kapada kita melalui kalimat azan. Saat kita mendengar azan, Allah Akbar kita menjawab Allahu Akbar (Allah Maha Besar), tetapi pada saat kita mendengar hayya ‘ala sholah maka kita menjawab laa haula walaa quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah). Inilah bimbingan Allah tentang ketundukan kita dihadapan-Nya. Kita benar-benar menyadari bahwa kita adalah makhluk yang tak berdaya dihadapan Allah yang Maha Besar. Inilah makna khusyuk yang terbimbing oleh ajaran Rasulullah, ketundukan seperti ini akan dapat dirasakan bila kita memahami (Tafakkur) dan menghayati (Tadabbur) akan peran Allah di alam semesta, dan peran Allah pada diri kita. Dengan Tafakkur dan Tadabbur ini akan tumbuh kesadaran, keinsyafan dan keyakinan bahwa kita adalah makhluk yang tak berdaya dihadapan Allah (laa haula walaa quwwata illa billah).

Mempelajari khusyuk dengan cara sederhana yaitu memahami cara kerja pikiran Hampir semua orang merasa kesulitan mencapai khusyuk dalam shalat, bagi yang bersungguh-sungguh kesulitan ini biasanya diusahakan dengan belajar dan mencari keluar diri yaitu bertanya kepada para ustaz, membaca buku atau melalui pelajaran lainnya. Sebenarnya selain mencari keluar diri, memahami makna khusyuk dapat juga dilakukan dengan belajar kedalam diri yaitu memperhatikan yang dirasakan sendiri. Dari penjelasan sebelumnya bahwa rasa tidak khusyuk dalam shalat adalah pikiran kemana-mana dan tidak sejalan dengan bacaan shalat, karena itu untuk mencapai khusyuk, pusat perhatian kita harus ditujukan pada pembelajaran tentang pikiran. Mempelajari pikiran diawali dengan beberapa pertanyaan yaitu : apa pikiran itu ?; bagaimana pikiran terbentuk ?; apa isi pikiran kita ?; bagaimana pikiran kita bekerja ?; bagaimana pikiran mengingat ?; apa lintasan pikiran itu ?; apa jalan pikiran itu ?; bagaimana rasanya pikiran kacau, pikiran buntu, pikiran jernih, pikiran jalan-jalan, dsb. ?. Kita mulai menjawab pertanyaan : Apa jalan pikiran itu ?; bagaimana mengendalikan pikiran ? Sebelum kita menjawab berbagai pertanyaan tadi, coba anda jawab beberapa perkalian angka-angka berikut ini : 4 X 3 X 2 = …….  5 X 3 X 6 = ……  8 X 4 X 2 = ……. dsb. Perhatikan pikiran anda, pada saat menghitung angka-angka tersebut, pikiran anda kemana ?, apakah pikiran anda bisa pergi ke tempat lain saat menghitung?. Tentu jawabnya adalah pikiran fokus pada hitungan dan tidak bisa pergi ke tempat lain. Bagaimana bila pertanyaan hitungan itu ditanyakan kepada orang Papua (Irian) yang tinggal di hutan pedalaman dan tidak pernah sekolah, apakah sama keadaan pikirannya dengan pikiran anda saat menghitung?, tentu tidak sama. Pikiran orang yang tidak pernah belajar tidak akan sama dengan yang pernah belajar. Orang yang pernah belajar dengan matang, memiliki memori lengkap didalam sel-sel otaknya, kemudian memori tadi dilatih dan diulang-ulang selama bertahun-tahun hingga mahir, keadaan pikiran yang seperti ini dinamakan bahwa orang tersebut telah memiliki jalan pikiran, artinya seseorang dengan mudah mengingat jalan pikiran yang pernah dipelajarinya. Contohnya adalah jalan pikiran hitungan perkalian tersebut. Orang yang bisa menggunakan jalan pikiran berupa angka-angka perkalian tersebut adalah orang yang pernah belajar berhitung. Proses terbentuknya jalan pikiran adalah adanya informasi tentang hitungan perkalian angka-angka yang dimasukkan ke dalam sel-sel otak melalui penglihatan, pendengaran dan latihan berulang-ulang sehingga informasi dan latihan tersebut menjadi memori. Memori pelajaran berhitung yang telah dimasukan ke dalam sel-sel otaknya akan mudah diingat karena terlatih bertahun-tahun. Sedangkan orang yang tidak pernah belajar, tidak ada memori hitungan perkalian angka-angka. Karena itu apabila kita ingin menggunakan jalan pikiran apapun, harus membuat memori pikiran dan melatihnya terlebih dahulu agar jalan pikiran bisa digunakan dengan lancar. Bila tidak ada memorinya, maka mustahil bisa menggunakan jalan pikiran itu. Jalan pikiran dibuat dalam sebuah proses belajar, dengan pembelajaran yang teratur, terarah dan terprogram serta terlatih dengan baik. Hasilnya adalah memori-memori dalam pikiran tersusun dengan baik sehingga mudah diingat. Memori-memori yang telah terbangun dan tersusun tersebut menjadi sebuah jalan pikiran. Pelajaran berhitung tersebut diatas menjadi sebuah jalan pikiran berhitung, sehingga pada saat menjawab pertanyaan berhitung, pikiran akan bergerak sesuai dengan jalan pikiran yang telah terbangun. Pada saat itu pikiran terfokus pada jalan pikiran yang telah terbangun sehingga pikiran tidak bisa beralih pada jalan pikiran yang lainnya. Membangun jalan pikiran shalat khusyuk Memori-memori pelajaran berhitung yang terlatih bertahun-tahun membentuk jalan pikiran yang mudah diakses atau diingat. Contoh jalan pikiran berhitung inilah yang akan kita jadikan acuan yang alami untuk membangun jalan pikiran shalat khusyuk. Jalan pikiran shalat khusyuk ini dibangun secara bertahap dan berkesinambungan melalui proses pembelajaran yang teratur dan tersusun. Proses ini adalah memasukkan informasi ke sel-sel otak yang kemudian menjadi memori yang tersusun dengan baik yang kemudian memori-memori itu terhimpun menjadi pikiran. Memori-memori pikiran yang

berisi shalat khusyuk secara keseluruhan inilah yang akan dimasukkan ke dalam sel-sel otak kita. Demikian juga dengan bacaan dan gerakan shalat yang harus dipelajari dan dilatih. Memori gerakan shalat dan bacaannya dalam bahasa arab sudah mahir dilakukan karena sudah dilatih sejak kecil, tetapi khusus untuk memahami, menghayati makna bacaan shalat masih banyak yang belum tahu. Ada sebagian yang sudah tahu terjemahnya tetapi tidak dipakai dalam shalat, ada juga yang sudah mampu menghayatinya tetapi belum tentu dipakai dalam shalat. Karena itulah khusyuk sulit dicapai pada saat shalat.  Untuk mencapai khusyuk dalam shalat diperlukan memori arti, penghayatan makna yang lebih luas tentang bacaan shalat, melatihnya hingga lancar serta memakainya pada setiap melaksanakan shalat. Bila tidak dilatih dan dipakai, maka memori arti dan penghayatan makna tersebut lama kelamaan akan sulit diakses dan kemudian hilang dengan sendirinya. Seseorang yang tidak khusyuk dalam shalatnya, dia merasakan saat shalat pikirannya kemana-mana atau tidak sejalan dengan pelaksanaan shalat dan bacaan yang diucapkannya saat shalat. Oleh karenanya usaha untuk khusyuk adalah mengusahakan agar pikiran sejalan dengan shalat dan bacaannya. Khusyuk artinya ketundukkan, berendah diri dan khidmat kepada Allah dalam shalat. Pengertian Khusyuk telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Untuk memperoleh khusyuk perlu dibangun jalan pikiran tentang ke Maha-Besaran Allah, yang berarti kita perlu merenungkan peran Allah di alam semesta, peran Allah pada diri dan akhirnya kita memahami bahwa semua makhluk di alam semeta ini dan diri kita memiliki status tak bardaya dihadapan Allah (laa haula walaa quwwata illa billah). Inilah jalan pikiran yang harus dibentuk secara bertahap dan terus menerus sepanjang hidup terutama saat akan melaksanakan shalat yang terbimbing oleh azan. Alur jalan pikiran yang perlu diulang untuk meraih kembali rasa khusyuk adalah : 1. Membangun kesadaran, keinsyafan dan keyakinan. 2. Menghayati kembali peran Allah di alam semesta. 3. Menghayati kembali peran Allah pada diri. 4. Menghayati kembali bahwa diri kita adalah makhluk yang tak berdaya dihadapan Allah. 5. Menghayati kembali posisi kita dihadapan Allah sebagai hamba-Nya. 6. Jiwa kita sujud berendah diri dihadapan Allah yang Maha Besar (bukan membayangkan Allah, tetapi memahami posisi diri dihadapan Allah). 7. Memahami dan menghayati makna-makna bacaan shalat. 8. Menjadikan khusyuk sebagai sebuah cara untuk membimbing, melatih dan mendidik pikiran yang terbimbing dengan bacaan shalat. Jalan pikiran yang berubah-ubah Bila kita memperhatikan kondisi pikiran kita, maka kita akan merasakan bahwa jalan pikiran selalu berubahubah. Perubahan itu sangat cepat dari suatu lintasan pikiran ke lintasan pikiran lainnya. Lintasan pikiran akan berubah menjadi jalan pikiran bila kita terus memperdalam dan mengikuti pikiran kita. Jalan pikiran yang muncul dan terus diikuti disebut berkhayal atau melamun. Khusyuk merupakan jalan pikiran yang memorinya telah dibangun dengan pemahaman, penghayatan bacaan shalat sebelumnya, jalan pikiran khusyuk ini diulang kembali pada saat shalat.    Rasa khusyuk yang pernah kita rasakan perlu dilatih dan diulang-ulang agar perubahan pikiran dapat dikurangi dan kita mampu lebih fokus pada mempertahankan kekhusyukan dalam shalat. Dengan sering mengulang dan melatihnya

Dorongan hawa nafsu dan syaitan luar biasa besar, terus menerus, selamanya, keduanya memalingkan pikiran dan jiwa untuk tidak khusyuk, itulah sifat alami keduanya.

diharapkan rasa khusyuk akan mudah dicapai. Bila kita memperhatikan jalan pikiran, ternyata jenis jalan pikiran sangat banyak. Otak kita hanya satu, kemampuan manusia hanya dapat menggunakan satu jalan pikiran pada saat yang sama. Contohnya pada saat kita menggunakan jalan pikiran berhitung perkalian seperti tersebut di atas maka jalan pikiran yang lain tidak berfungsi. Oleh karena itu jalan pikiran dalam sel-sel otak kita dipergunakan secara bergantian, sesuai keadaannya. Perubahan jenis jalan pikiran yang satu ke jenis jalan pikiran yang lain tidak bisa dilakukan dengan cepat. Misalkan saat ini pikiran kita pergunakan untuk bekerja, kemudian dalam jangka waktu satu menit kemudian kita melaksanakan shalat, maka jalan pikiran masih berada pada posisi bekerja, tetapi lambat laun pikiran bisa menyesuaikan diri dengan penghayatan makna bacaan shalat. Dalam pikiran kita ada masa transisi, masa ini perlu ada jeda atau istirahat untuk menyesuaikan diri dari jalan pikiran yang lama ke jalan pikiran yang baru. Ini adalah puncak dari permasalahan klasik yang hampir semua orang yang melakukan kegiatan shalat mengalaminya. Dengan analogi jalan pikiran berhitung tersebut, setiap orang yang mengikuti pelatihan/kajian shalat khusyuk ini biasanya tersentak karena ketika mereka bisa sedemikian fokus menggunakan jalan pikiran berhitung dan menonaktifkan jalan pikiran yang lain. Lalu kenapa mereka sangat kesulitan ketika mengaktifkan jalan pikiran shalat dan menonaktifkan jalan pikiran yang lain ketika mendirikan shalat?. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?. Adakah metode untuk membangun keadaan alam pikiran agar dapat mensetting jalan pikiran shalat ketika mendirikan shalat?. Sifat Alami Pikiran 1. Dalam otak manusia ada ratusan milyar sel tempat menyimpan jutaan memori dari berbagai jenis diantaranya memori gerak otomatis yang dibawa sejak dari kandungan dan memori kehidupan yang dirasakan, yang dilihat, yang didengar, yang dialami serta memori dihimpun melalui proses pembelajaran diantaranya adalah pelajaran berhitung. 2. Memori-memori yang masuk kedalam otak bermacam-macam, kemudian secara otomatis akan dikelompokkan menurut jenisnya secara otomatis pada saat tidur. 3. Kelompok-kelompok memori bergerak silih berganti berupa lintasan pikiran, sedangkan memori yang lebih jelas, terang, matang, terlatih meningkat menjadi jalan pikiran (seperti pelajaran berhitung yang mahir dan lancar). 4. Jalan pikiran yang baik dan utuh dibuat melalui proses pembelajaran yang teratur, terprogram dan tersusun dengan baik, menjadi alur berfikir yang baik, sedangkan bila tidak demikian maka jalan pikiran yang dihasilkan tidak utuh, sepotong-sepotong dan kurang baik. 5. Jalan pikiran yang dilatih dan diulang-ulang akan menguasai pikiran, lancar dan mudah diingat. Bila pengulangannya tidak cukup memadai atau hanya sekedarnya saja maka akan sulit diingat karena didalam sel-sel otak terdapat jutaan jalan pikiran. 6. Memori-memori yang akan menguasai diri adalah yang memenuhi syarat yaitu penuh, lengkap, utuh menyeluruh, melalui proses pembelajaran secara bertahap dan berlatih terus menerus. Demikian juga bila ingin khusyuk dalam shalat, maka semua memori tentang shalat khusyuk dan bacaannya harus dilakukan seperti ini serta melatihnya dengan metode 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur). 7. Lintasan pikiran dan jalan pikiran jumlahnya jutaan jenis dan terus bergerak silih berganti secara tidak teratur. Bila kita ingin agar pikiran bergerak teratur maka perlu dibuat antrian jalan pikiran yang tersusun mengikuti prosedur, protap atau SOP. Misalnya saat membaca surat surat Al Faatihah perlu disusun makna bacaan secara berurutan : bismillah, alhamdulillah, arrohmaanirrohiim, maaliki yaumiddiin dst. Antrian ini harus dibentuk dan dilatih diluar shalat. 8. Hawa nafsu, syaitan, pikiran dan shalat khusyuk. Didalam shalat khusyuk ada yang bertentangan dengan hawa nafsu dan ada yang sejalan (misalnya meminta rizki), tetapi bagi syaitan semuanya bertentangan, karena itu syaitan berusaha keras agar umat islam tidak khusyuk dalam shalatnya. 9. Dorongan hawa nafsu dan syaitan luar biasa besar, terus menerus, selamanya, keduanya memalingkan pikiran dan jiwa untuk tidak khusyuk, itulah sifat alami keduanya. Karena itu untuk khusyuk dalam shalat perlu perjuangan besar, terus menerus dan selamanya. Biarkan syaitan bekerja, kitapun bekerja terus menerus dengan mengendalikan hawa nafsu dan memohon pertolongan kepada Allah serta berusaha keras untuk membangun kekhusyukan dalam shalat dengan sungguh-sungguh, itulah caranya melakukan perlawanan terhadap syaitan. Semoga Allah menolong kita, amin.

Mencapai khusyuk dengan metode 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) Metode 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) adalah metode alamiah yang sangat sesuai dengan keadaan alam pikiran manusia. Metode ini mengikuti proses alami pembentukan memori di dalam sel-sel otak manusia sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Metode 3 T ini adalah teknik alami untuk membuat rekaman dan membangun memori dalam sel-sel otak. Metode ini digali dari Al Qur’an dan hadits yang menjadi pedoman setiap muslim sebagai berikut :

Tuma’ninah : Kata tuma’ninah artinya keadaan tenang, tentram, damai dan nyaman secara fisik dan jiwa. Pada saat tuma’ninah kita merasakan keadaan pikiran, perasaan, jiwa dan seluruh tubuh dalam keadaan tenang, tentram, damai dan nyaman. Keadaan pikiran, jiwa dan tubuh yang tuma’ninah berarti frekwensi gelombang otak menurun dari gelombang beta ke gelombang alfa. Frekwensi otak pada gelombang alfa adalah kondisi yang paling baik untuk menyimpan memori dalam sel-sel otak. Oleh karena itu tuma’ninah adalah saat terbaik untuk membuat rekaman memori dalam sel-sel otak. Disamping itu tuma’ninah adalah cara terbaik mengendalikan pikiran agar mudah diarahkan untuk mengingat kembali atau mengakses memori-memori yang pernah disimpan dalam sel-sel otak. Dalam hal ini memori yang disimpan adalah memori tentang hal-hal yang berkaitan dengan kekhusyukan dalam shalat yaitu kesadaran, keinsyafan, keyakinan, arti dan makna-makna bacaan shalat dan sebagainya. Mencapai kondisi tuma’ninah pikiran, perasaan dan jiwa bukan pekerjaan mudah dan perlu diusahakan dan dilatih terus menenus. Latihan 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) dilakukan diluar shalat, sekali lagi diluar shalat. Cara mencapai kondisi tuma’ninah : 1. Perintahkan kepada diri sendiri agar tenang, tentram, damai dan nyaman dengan kata-kata : Tenangkan pikiran kita, perasaan kita, hati kita, jiwa kita dan seluruh tubuh kita, kendorkan otot-otot tubuh kita dari kepala sampai ujung kaki, terutama otot bahu dan otot perut bagian bawah. Selama melakukan latihan, kesemuanya itu tetap dalam keadaan tenang, tentram, damai dan nyaman. 2. Untuk mempercepat proses tuma’ninah dibantu dengan menarik nafas perlahan-lahan dan menghembuskan nafas perlahan-lahan. Hal ini boleh dilakukan dan boleh juga tidak, bila menarik dan menghembuskan nafas ini bermanfaat silahkan dilakukan, bila kurang bermanfaat tidak perlu dilakukan. 3. Tuma’ninah perlu dilatih karena menenangkan pikiran dan jiwa tidaklah mudah. 4. Manfaat tuma’ninah adalah memudahkan kita mengendalikan pikiran dan membuat rekaman dalam selsel otak agar mudah diingat.

Tafakkur : Tafakkur artinya berpikir, menggunakan pikiran untuk memahami. Tafakkur merupakan perintah Allah dalam Al Qur’an. Kita diwajibkan mengerti apa yang kita ucapkan dan lakukan. Bila tidak mengerti yang kita lakukan maka kita akan mudah terjerumus pada hal-hal yang merugikan diri kita. Sebaliknya bila kita mengerti, memahami, mengetahui ilmunya maka setiap perbuatan kita akan memberi manfaat yang semakin besar bagi diri kita. Khususnya dalam shalat, banyak hal yang harus dipahami diantaranya makna dan hakikat shalat, serta makna dan hakikat khusyuk. Demikian juga perlu memahami bacaan-bacaan shalat untuk dimengerti dan dipahami dengan menggunakan pikiran.

Tadabbur : Tadabbur artinya menghayati lebih dalam dan lebih luas hingga meresap kedalam jiwa. Tadabbur adalah perintah Allah dalam Al Qur’an, salah satu manfaatnya adalah untuk membentuk akhlak yang baik. Cara melakukan tadabbur adalah dengan merenungkan, menghayati lebih dalam tentang bacaan-bacaan shalat. Tadabbur bisa juga dilakukan dengan cara membuat pertanyaan dan mencari jawabannya atas masing-masing bacaan shalat. Misalnya Allahu Akbar artinya Allah Maha Besar, pertanyaannya adalah Maha Besar-Nya seperti apa ?; ruang lingkup Maha Besar-Nya seperti apa ?; Maha Besar dalam bidang apa saja ?; jangkauan Maha Besar Kekuasaan-Nya seperti apa ?; Maha Besar Kasih Sayang-Nya seperti apa ?, dan sebagainya.

Cara melakukan latihan 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur dan Tadabbur) dilakukan bersamaan dalam latihan diluar shalat. Praktek pelatihan dapat anda baca dalam buku dan audio yang telah disediakan, atau mengikuti pelatihan secara langsung, atau mengakses pada website www.shalatkhusyuk3t.com. Metode ini sangat sajalan dengan arti khusyuk yaitu ketundukan, berendah diri dan khidmat. Dengan tuma’ninah, kita mengkondisikan diri dalam keadaan tentram, tenang dan damai sehingga kita dapat dengan mudah membuat rekaman memori dalam sel-sel otak dan memudahkan kita untuk mengendalikan dan mengarahkan jiwa dan pikiran kita kepada Allah. Sedangkan tafakkur dan tadabbur adalah cara memahami dan menghayati makna shalat dan bacaannya sehingga jiwa kita benar-benar merasa tunduk, berendah diri dan berkhidmat dihadapan Allah sebagai seorang hamba yang tak berdaya dihadapan Tuhannya. Membangun memori bacaan shalat khusyuk dengan cara 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat memori dan membangun jalan pikiran shalat khusyuk dengan metode 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) yaitu : 1. Jalan pikiran shalat khusyuk dibangun atau dibentuk melalui proses pembelajaran yang teratur, terarah, terencana dan terprogram dengan baik dan terus menerus. 2. Memori yang disimpan dalam sel-sel otak harus ditambah dengan ilmu-ilmu yang lebih lengkap serta dilatih terus menerus hingga mahir. 3. Memori yang telah dibangun perlu dipelihara, dipakai dalam shalat dan diulang-ulang. 4. Bila jalan pikiran shalat khusyuk yang telah dibangun kemudian dibiarkan begitu saja maka jalan pikiran tersebut akan hilang karena dikalahkan oleh jalan pikiran lain yang ada dalam memori sel-sel otak yang jumlahnya banyak sekali yang datang dan pergi silih berganti sesuai keadaannya. 5. Tata cara membangun memori dapat dipelajari melalui ceramah shalat khusyuk dan pelatihan shalat khusyuk. Tingkat burung beo, anak usia 5 tahun, dewasa, dewasa terlatih, dewasa mahir Khusyuk dalam shalat tidak terlepas dari kesungguhan untuk meningkatkan ilmu dan pemahaman yang berkaitan dengan ketuhanan dan kehambaan diri dihadapan Allah. Bimbingan menjadi hamba Allah yang khusyuk dalam shalatnya terbimbing oleh bacaan-bacaan dalam shalat. Karena itulah pemahaman makna bacaan shalat perlu ditingkatkan terus menerus. Pemahaman bacaan shalat dilakukan dalam sebuah proses pembelajaran alami menurut tingkatannya sebagai berikut :

Tingkat keyakinannya mencapai haqqul yakin bahwa Allah ada, berperan, mengurus alam semesta dan mahkluk-Nya serta dirinya secara terus menerus tanpa henti, sehingga dia meyakini betul peran dan kehadiran Allah sehingga bagi dia, Allah itu nyata keberadaanNya dan pekerjaan-Nya di dunia ini.

  1. Tingkat burung beo yaitu seseorang yang hanya menghafalkan bunyi bacaan shalat yang diajarkan, misalnya Allahu Akbar, bila kata Allahu Akbar ini diajarkan kepada burung beo, maka burung tersebut mampu melakukannya. 2. Tingkat anak usia 5 tahun yaitu seseorang yang hanya mengerti arti bacaan shalat, misalnya bismillaahirrohmaanirrohiim, artinya dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang bila artinya ini diajarkan kepada anak usia 5 tahun maka anak ini mampu mengerti artinya. 3. Tingkat dewasa yaitu seseorang yang mengerti artinya dan mampu menjabarkan maknanya yang lebih luas dan mendalam misalnya bismillaahirrohmaanirrohiim artinya dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang kemudian mampu menjelaskan kasih sayang seperti apa?, kepada siapa saja?, apa buktinya kasih sayang Allah itu, sejauh mana kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya?, dan lain-lain. 4. Tingkat dewasa terlatih yaitu seseorang yang sedang berusaha melatih dirinya agar antara ucapan, arti dan makna bacaan shalat berjalan seiring. 5. Tingkat dewasa mahir yaitu seseorang yang telah lancar mengucapkan, mengerti artinya, memahami makna bacaan shalat dan berjalan otomatis antara lidah dan pikirannya dalam keadaan apapun. Dalam hal ini jalan pikiran telah terbentuk dan bergerak otomatis. Hambatan mewujudkan shalat khusyuk 1. Merasa berpahala hanya dengan melaksanakan shalat gerakan badan dan ucapan lidah saja, sehingga khusyuk tidak penting baginya. 2. Telah terbiasa dengan shalat yang cepat karena contoh para imam mesjid. 3. Khusyuk dianggap bukan kewajiban dalam shalat. 4. Bermacam-macam penjelasan para ustaz tentang khusyuk sehingga membingungkan. 5. Malas mempelajari secara sungguh-sungguh. 6. Lebih cenderung mencontoh sunnah nabi yang bersifat fisiknya saja, seperti jenggotnya, jubahnya, celana menggantung, cara sujud dsb., dan tidak tertarik dengan masalah khusyuk. 7. Enggan memperdalam dan berlatih menghayati makna-makna bacaan shalat diluar shalat. 8. Sangat tergantung dan taklid kepada ustaz tertentu sehingga pikirannya terbelenggu. 9. Tidak mau berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan harta untuk dirinya sendiri dalam hal shalat khusyuk. 10. Telah terbiasa menyediakan waktu paling lama hanya 5 menit untuk shalat atau lebih cepat lebih baik. 11. Ingin belajar khusyuk yang instan, tergesa-gesa, ingin cepat, merasa sudah lama melaksanakan shalat tinggal sedikit lagi yaitu khusyuk. Tidak mau belajar yang teratur, terencana dan terpogram dengan baik. Mempercepat proses kesembuhan dan menyelesaikan permasalahan hidup dengan Terapi Qur’ani Selain untuk mencapai shalat khusyuk, metode 3 T ini juga bermanfaat untuk mempercepat proses kesembuhan dan menyelesaikan permasalahan hidup. Penjelasan selengkapnya dapat anda baca dalam buku “ Terapi Qur’ani untuk Kesembuhan dan Rizki Tak Terduga “. Metode 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur dan Tadabbur) adalah sebuah cara untuk mempercepat proses kesembuhan. Dengan latihan 3 T membuat pikiran menjadi lebih tenang, tentram dan damai. Pikiran yang tenang ini dinamakan Tuma’ninah. Orang yang sedang sakit memerlukan ketenangan pikiran yang lebih baik agar kesembuhannya lebih cepat. Pasien perlu beristirahat lebih banyak agar recovery sel-sel tubuh lebih cepat dan sel-sel imun (sel-sel kekebalan tubuh) berkerja lebih baik. Keadaan pikiran yang tenang ini sangat dianjurkan oleh para dokter untuk mempercepat proses kesembuhan. Sebaliknya pikiran yang tegang, tidak tenang, beban-beban pikiran yang bertambah akan memperberat penyakit pasien. Disamping memperoleh ketenangan dan keadamaian, akan lebih baik lagi bila pasien yang sakit diberikan bimbingan pemahaman dan penghayatan (Tafakkur dan Tadabbur) rasa syukur, rasa ikhlas, rasa tawakkal, rasa taubat, rasa ihsan dan memohon perlindungan kepada Allah. Cara ini kami namakan Terapi Qur’ani yang terdiri dari Terapi Taubat, Terapi, Ikhlas, Terapi Tawakkal, Terapi Syukur, Terapi Perlindungan dan Terapi Ihsan. Terapi Qur’ani ini adalah sebuah cara pengobatan yang kami namakan Religi Terapi yaitu terapi yang berbasis keimanan dan keyakinan. Sedangkan proses bimbingan untuk memahami dan

memantapkan jiwa dilakukan dengan memberikan pencerahan untuk memperbaiki jalan pikiran agar dapat berpikir poisif, cara ini kami namakan Persepsi Terapi. Religi Terapi dan Persepsi Terapi ini dilakukan secara intensif dan berulang-ulang dalam sebuah latihan yang teratur. Selain untuk mempercepat proses kesembuhan, terapi-terapi ini sangat bermanfaat bagi yang sedang mencari solusi dalam menghadapi permasalahan hidup. Manfaat yang akan dirasakan bila melakukan Religi Terapi dan Persepsi Terapi ini adalah sebagai berikut : 1. Merasakan kesegaran dan kebugaran, jiwa dan raga akan lebih sehat dari sebelumnya. 2. Penyakit-penyakit yang ada dalam tubuh berangsur-angsur akan berkurang. 3. Memulihkan keseimbangan dan keselarasan sistem kerja sel-sel tubuh. 4. Menurunkan aktifitas emosi negatif dalam diri. 5. Membantu menyelesaikan masalah-masalah hidup yang dialami seperti : gelisah, resah, galau, cemas, khawatir, kecewa, stress, penyakit lahiriah, gangguan jin, teluh, santet, masalah keluarga, usaha, bisnis, karir dan sebagainya. 6. Membantu meningkatkan kepercayaan diri, inner beauty, akhlak mulia, gairah hidup, memperlambat proses penuaan (awet muda), dll. 7. Membantu meraih sukses dalam segala hal, lahir-bathin, dunia-akhirat. Khusyuk dan Menemui Allah Ada sebagian orang yang merasa sudah bertemu dengan Allah hanya dengan menyebut kata Allah. Untuk mengetahui kebenarannya, kita perlu memahami apa hakikat pertemuan dengan Allah itu. Didalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) : 45 – 46, Allah berfirman: “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. Menurut ayat ini orang yang khusyuk adalah orang yang memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah. Tingkat keyakinannya mencapai haqqul yakin bahwa Allah ada, berperan, mengurus alam semesta dan mahklukNya serta dirinya secara terus menerus tanpa henti, sehingga dia meyakini betul peran dan kehadiran Allah sehingga bagi dia, Allah itu nyata keberadaan-Nya dan pekerjaan-Nya di dunia ini. Dia haqqul yakin akan keberadaan dan peranan Allah dimanapun, di dunia maupun di akhirat. Keyakinan yang haqqul yakin seperti inilah yang dikatakan menemui Tuhannya. Kata menemui Tuhan bukan menemui dalam arti kebendaan seperti melihat-Nya. Karena Allah Maha Esa yang berarti tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan, dibandingkan, tak terbatas, tak terhingga. Keesaan Allah ini berlaku hingga di akhirat. Karena itu dengan haqqul yakin, setiap orang akan menemui Tuhannya bukan hanya di akhirat tetapi di dunia-pun akan menemui-Nya. Untuk mencapai tingkat haqqul yakin harus belajar secara bertahap melalui proses yaitu ilmul yakin artinya mencari informasi melalui kitab Al-Qur’an dan sumber-sumber yang dipercaya, kemudian ‘ainul yakin artinya melakukan tadabbur atau perenungan, melihat kenyataan kekuasaan Allah dalam kehidupan dan akhirnya tahap haqqul yakin yaitu keyakinan yang tak tergoyahkan karena mengalami, merasakan, melakukan riset ilmiah. Proses belajar biasanya dimulai dengan berpikir untuk memahami (tafakkur) kemudian pendalaman dan penghayatannya melalui tadabbur. Dengan cara itulah keyakinan ditingkatkan hingga mantap sampai haqqul yakin. Ada sebagian orang ingin mengikuti tata cara shalat nabi, tetapi hanya mempelajarinya dari hadis dan Al-Qur’an yang menyangkut bacaan dan gerakan shalat saja. Sedangkan yang dipikirkan, yang dirasakan, yang diyakini oleh nabi ketika melaksanakan shalat tidak dipelajari. Karena itu pada saat shalat pikiran dan perasaannya kemana-mana, tidak sesuai dengan yang dibaca dalam shalat. Bila ingin mencontoh shalat nabi seharusnya yang dibaca dalam shalat sama dengan apa yang dipikirkan, sama dengan apa yang dirasakan, sama dengan apa yang diyakini, sama dengan yang dilakukan nabi. Karena itu wilayah yang dipelajari dalam khusyuk adalah pikiran, perasaan dan hati (Jiwa). Sedangkan pelajaran di wilayah fiqih menyangkut hanya gerakan dan bacaan shalat. Semoga Allah membimbing kita untuk mencapai khusyuk yang sebenarnya bukan khusyuk yang instan.

10 Keadaan dan Keyakinan Jiwa Saat Melaksanakan Shalat Khusyuk

  1. Saya sangat yakin ada kekuatan yang Maha Besar yang menciptakan, mengurus, memelihara, berperan, menguasai penuh alam semesta ini.
  2. Saya sangat yakin ada kekuatan yang Maha Besar yang menciptakan, mengurus, memelihara, berperan dan menguasai penuh diri saya.
  3. Saya sangat yakin Dia Maha Esa : tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan, diserupakan, dibandingkan dengan apapun, tak terhingga, tak terbatas.
  4. Saya sangat yakin Dia hidup, menyayangi, terus menerus mengurus makhluk-Nya siang dan malam, tidak pernah mengantuk dan tidak tidur.
  5. Saya sangat yakin Dia Maha Besar yang dapat dipelajari dan dipahami lebih dalam dengan Asmaul Husna.
  6. Saya sangat yakin semua makhluk-Nya bergantung penuh kepada-Nya, berada dalam genggaman-Nya secara mutlak termasuk diri saya (laahaula walaa quwwata illa billah).
  7. Saat saya shalat, saya sangat yakin sedang disaksikan oleh Penguasa alam, Dia memahami isi hati, perasaan, pikiran dan keadaan saya. Dia melihat dan menyaksikan saya. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya.
  8. Saat saya shalat, saya sedang mengingat peranan dan sifat-sifat-Nya bukan Zat-Nya, dengan pemahaman menyeluruh, holistik tentang Dia, memuja, memuliakan, memuji dan mengagungkan-Nya, memohon ampunan dan pertolongan kepada-Nya dengan berendah diri sebagai makhluk yang tak berdaya kepada Yang Maha Besar Keperkasaan-Nya, Kemulyaan-Nya, Keagungan-Nya.
  9. Saya berusaha sekuat tenaga menyesuaikan diri dengan shalat Nabi Muhammad S.A.W dan para shalihin yang khusyuk dalam shalatnya dengan cara mengerti, memahami, menghayati setiap bacaan shalat sehingga sesuai antara yang diucapkan, dipikirkan, dirasakan dan diyakini dalam shalat.
  10. Setelah shalat, saya mengabdikan diri sebagai hamba kepada-Nya dan berusaha sekuat tenaga menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya yaitu mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hal-hal tersebut diatas merupakan penerapan beberapa ayat berikut dibawah ini: QS. Thaha (20): 14; Al-Baqarah (2): 255; Al-Hasyr (59): 22 – 24; Al-Ikhlash (112): 1- 3; Al-Faatihah (1): 1 – 7; Al-Baqarah (2): 45 – 46; Qaaf (50): 16. Penjelasan selengkapnya dapat ada baca dalam buku berjudul “Cara Cepat Mencapai Shalat Khusyuk dengan Metode 3 T ( Tumaninah, Tafakkur, Tadabbur )” oleh Drs. H. Lukman Hakim dan ikuti Pelatihannya serta kunjungi website www.shalatkhusytuk3t atau HIMAPA di google.

Bekasi, 12 Agustus 2014 Drs. H. Lukman Hakim