Testimonial

 

Saya Mewajibkan kepada Para Ustaz, Ustazah, Guru-Guru dan Santri di Lingkungan Pesantren yang Saya Pimpin untuk Mengikuti Pelatihan.

 

Usia saya lebih dari 60 tahun, saya senang sekali mencari ilmu khususnya ilmu agama yang saya geluti sejak kecil. Sebagai seorang santri, saya belajar di pesantren hingga akhirnya menjadi pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda. Telah lama saya mencari dan belajar untuk mencapai khusyuk dalam shalat tetapi belum memuaskan saya hingga akhirnya di usia senja ini saya bersyukur kepada Allah, karena telah menemukan cara mencapai khusyuk dengan Metode 3T ( Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur ). Metodenya sangat sederhana, mudah dipahami yang digali dari hadis dan Al-Qur’an, karena itu saya mewajibkan kepada para ustaz, ustazah, guru-guru dan santri di lingkungan pesantren yang saya pimpin untuk mengikuti pelatihannya. Saya berharap ilmu ini dapat dikembangkan untuk pesantren-pesantren diseluruh Indonesia khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya.

 

  1. A. Juaini Th.

Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda, Depok

Hikmah Dibalik Penyakit Kanker yang Saya Derita

 

Shalat Khusyuk dengan Metode 3T dan Terapi Qur’ani memberikan cakrawala berpikir baru bagi saya tentang hubungan manusia dengan Allah Yang Maha Besar. Saya mendapatkan jalan untuk mengenal Allah dimulai dari hal yang paling dekat dengan saya yaitu tubuh saya sendiri yang selama ini saya pahami hanya dengan ilmu kedokteran.

Shalat Khusyuk dengan Metode 3T dan Terapi Qur’ani membuka persepsi baru dalam memaknai semua aspek kehidupan duniawi yang telah saya capai saat ini sekaligus menjawab kehausan saya dalam “pengembaraan” saya dalam mencari makna hidup sejati dan bagaimana mempersiapkan diri untuk hidup yang lebih abadi di alam akhirat kelak.

Saya dapat memaknai hikmah dibalik penyakit kanker yang saya derita saat ini dan bagaimana menyikapinya. Shalat Khusyuk dengan Metode 3T dan Terapi Qur’ani mengarahkan saya pada penghayatan makna dan kasih sayang Allah, sehingga saya semakin khusyuk dalam shalat dan berdo’a. Penyakit kanker itu sendiri saya serahkan kepada Allah, karena kesembuhan hanyalah milik Allah. Setelah saya mengenal Kebesaran dan Kasih Sayang Allah maka suasana jiwa saya menjadi tenteram dan tenang saat semua orang akan merasa ketakutan menghadapi penyakit yang mematikan ini.

Saya menemukan nikmatnya berkomunikasi dengan Allah serta menyerahkan semua hasil usaha pengobatan selama ini kepada Nya. Keyakinan akan pertolongan Nya semakin hari semakin besar.

Ya Allah, terima kasih Engkau telah memberi aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Betapa besarnya kasih sayang Mu yang memberi aku keluarga yang selama ini dengan tulus ikhlas merawatku siang dan malam. Kini aku ikhlas menerima semua ketetapan Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Penolong Ya Hayyu Ya Qoyyuum …

 

Prof. dr. Istiantoro. SpM.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan

Dokter Mata Indonesia & Council Member Asia

Pacific Academy of Ophtalmology (APAO)

 

Penderitaanku Berakhir melalui Shalat Khusyuk dengan

Metode 3T dan Terapi Qur’ani

 

Aku dilahirkan dan dibesarkan di keluarga dan ling- kungan yang taat beragama. Sejak kecil, selain sekolah formal, hari hariku selalu diisi dengan pelajaran keaga- maan dari masjid ke masjid, dari membaca Al-Qur’an sampai terjemahannya. Itu belum cukup, ditambah dengan belajar hadis dan pelajaran keagamaan lain. Aku tidak tahu tujuan dari semua itu, aku hanya mengikuti perintah orangtua dan ikut-ikutan teman-teman di sekelilingku, yang aku tahu belajar agama adalah untuk mendapatkan pahala. Yang terpenting bagiku saat itu adalah belajar agama agar mahir dalam berdebat.

Pelajaran agama yang aku dapat dan syariat agama yang aku kerjakan dengan kedisiplinan, tidak mengubah karakter dan akhlakku menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sifat-sifat buruk tetap saja terpelihara, dari mulai suka berbohong, pemarah, suka minuman yang beralkohol dan banyak lagi sifat buruk yang melekat dalam diri ini. Semua itu aku anggap biasa-biasa saja tanpa memikirkan akibat dosanya, toh aku sudah melakukan syariat agama dengan tertib, mendirikan shalat, puasa, dan kewajiban lainnya—itu sudah cukup bagiku.

Saat kuliah di Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Surabaya, membawaku ke pergaulan yang lebih buruk, aku sudah mulai mencoba berbagai jenis narkotika dan mulai kecanduan. Beruntung aku dapat menyelesaikan kuliah dan segera mendapatkan pekerjaan.

Memasuki dunia kerja, tidak membuat aku lebih dewasa, bahkan karakter dan kebiasaan burukku tidak berubah, bahkan tingkat ketergantungannya semakin bertambah. Semua itu membuat kehidupanku semakin terpuruk, rumah tanggaku hancur dan yang lebih me- nyakitkan adalah aku terancam kehilangan pekerjaan bahkan terkena permasalahan hukum yang rumit, akibat kecerobohanku dalam bekerja. Permasalahan ini membuatku putus asa karena hampir secara rasional permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan dan tidak ada jalan keluarnya.

Dalam keputusasaanku, aku bertemu seorang teman kerja yang baru aku kenal. Pada awal pertemuan itu, tidak tahu mengapa aku merasakan kesejukan dan kedamaian pada saat bertemu dan berteman dengan beliau, sehingga aku tidak khawatir dan tidak ragu untuk menceritakan segala permasalahanku. Dengan sabar dan penuh perhatian serta empati, beliau mendengarkan cerita dan segala keluh kesahku.

Benar yang aku duga sebelumnya bahwa beliau bisa membimbing aku untuk menemukan jalan dalam menghadapi permasalahan hidup ini. Dengan penuh kesabaran beliau membimbingku untuk mengenal Tu- han, mengenal siapa jati diri kita dan menyadarkan aku apa makna hidup yang sebenarnya. Beliau adalah Bapak Lukman Hakim. Singkat cerita, yang tidak pernah aku bayangkan adalah melalui shalat khusyuk dengan metode 3T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur) dan Terapi Qur’ani yang diajarkan beliau, sakit kecanduan narkoba dapat sembuh dalam waktu empat hari, dimana bertahun-tahun sebelumnya aku mencoba mencari alternatif penyembuhan, namun tidak kunjung tersembuhkan.

Selain itu, yang membuat aku semakin yakin dan sangat bersyukur kepada Allah adalah seluruh permasalahan hidup yang aku hadapi secara berangsur-angsur terselesaikan. Aku seperti dilahirkan kembali, sejak saat itu rasa terima kasihku kepada Allah semakin luar biasa dan hari-hariku dihiasi dengan keindahan dan kelapangan batin untuk selalu mengabdi kepada-Nya, memperbaiki diri secara terus-menerus tanpa henti hingga saat ini, ibadah kepada Allah terasa begitu nikmat dan indah.

Demikianlah sekelumit pengalamanku dalam mempraktikkan shalat khusyuk dengan metode 3T dan Terapi Qur’ani. Semoga pengalaman ini dapat menjadi inspirasi dan pelajaran bagi para pembaca.

 

Ir. G. Marhendra

Mantan Pencandu Narkoba