Latihan Terapi Qurani

PETUNJUK LATIHAN TERAPI QUR’ANI

 

A’uuzubillaahi minasysyaithoonirrojiim, bismillaahirrohmaanirrohiim.

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuhu

Bapak, Ibu dan Saudara-saudara yang dirakhmati Allah, Terapi Qur’ani terdiri dari Terapi Taubat, Terapi Ikhlas, Terapi Tawakkal, Terapi Syukur, Terapi Perlindungan dan Terapi Ihsan, kesemuanya itu merupakan perintah Allah yang ada dalam Al Qur’an. Perintah Allah tersebut bila dipahami, dihayati dan diterapkan dalam hidup akan memberi manfaat yang besar bagi orang beriman, terutama untuk kesehatan lahir-batin serta meraih kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Karena itu Al Qur’an disebut sebagai obat dan rakhmat bagi orang beriman (QS. Al Isra’ : 82). Pelaksanaan Terapi Qur’ani dilakukan dengan cara 3 T (Tuma’ninah, Tafakkur, Tadabbur)Tuma’ninah artinya dilakukan dengan ketenangan pikiran, perasaan dan jiwa. Tafakkur artinya dipahami arti dan maksudnya. Tadabbur artinya dihayati maknanya sehingga meresap kedalam jiwa. Terapi Qur’ani dilakukan dengan cara berlatih berulang-ulang yang tujuannya untuk membuat memori dalam pikiran agar mudah mengingatnya yang akhirnya akan membentuk jiwa taubat, jiwa ikhlas, jiwa tawakkal, jiwa bersyukur, jiwa yang selalu dalam perlindungan Allah, jiwa ihsan yang selalu merasa bersama Allah, kesemuanya itu merupakan bagian dari akhlakul karimah. *) Sebelum melakukan latihan diwajibkan memamahami isi buku Terapi Qur’ani untuk kesembuhan dan Rizki Tak Terduga terlebih dahulu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam latihan Terapi Qur’ani :

  1. Dengarkan dan hayati masing-masing kata dalam latihan ini dengan penuh penjiwaan.
  2. Pada awal latihan ada arahan bahwa selama melakukan latihan, agar kita dalam kondiri istirahat, baik istirahat pikiran maupun istirahat perasaan. Disamping itu ada arahan agar merasakan bahwa kita bersama Allah yang Maha Pengasih, Penyayang, Pema’af, Pengampun, Penolong yang sangat memahami pikiran kita, perasaan kita, isi hati kita dan sangat menyayangi kita. Arahan-arahan tersebut diulang-ulang sebanyak 3 (tiga) kali dengan maksud agar kasih sayang Allah benar-benar dirasakan dan merasuk dalam jiwa.
  3. Pada pertengahan latihan, ada jeda suara atau suaranya berhenti beberapa detik, hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan mengulang kata-kata latihan dengan bahasa sendiri.
  4. Didalam latihan ini ada arahan untuk menarik dan menghembuskan nafas, tujuannya adalah untuk mempercepat proses menenangkan piriran. Menarik dan menghembuskan nafas tersebut boleh dilakukan, boleh juga tidak, bila dirasakan kurang nyaman maka menarik dan menghembuskan nafas tidak perlu dilakukan.
  5. Tidak diperkenankan berlatih pada saat menyetir mobil atau bekerja.

*)   Penjelasan singkat :

  • Jiwa Taubat yaitu kondisi  jiwa yang selalu merasa belum sempurna dan selalu melakukan perbaikan dan pembenahan diri mulai dari dalam hati, perasaan,  pikiran, perilaku serta hasil kerjanya dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaannya selalu memohon ampun kepada Tuhannya karena menyadari kekurangannya dihadapan Allah Yang Maha Suci dan Maha Sempurna, dia meyakini Allah Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemaaf dan menerima taubatnya.
  • Jiwa Ikhlas yaitu kondisi jiwa yang selalu merasa bahwa Allah sebagai tujuan akhir atas segala yang dirasakannya baik dalam keadaan susah maupun senang, dia meyakini segalanya berasal dari Allah, segalanya milik Allah, segalanya hanya tertuju kepada Allah, segalanya kembali kepada Allah, dia merasa apapun keadaan hidup ini tidak ada yang sia-sia dihadapan Allah. Segala yang dilakukannnya secara bathiniah dan lahiriah hanya tertuju dalam rangka menghambakan diri kepada Allah.
  • Jiwa Tawakkal yaitu kondisi jiwa yang selalu merasa bahwa Allah Yang Maha Perkasa, Maha Menentukan, Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan segalanya tergantung kepada Allah. Dia meyakini bahwa Allah Maha Penolong, Pengasih, Penyayang. Karena itu dia selalu menggantungkan harapannya dan menyerahkan semua keadaan hidupnya terutama beban dan masalah kepada Allah dan dia meyakini bahwa Allah sangat memahami yang terbaik untuk dia.
  • Jiwa Syukur yaitu kondisi  jiwa  yang selalu merasa bahwa seluruh kehidupan ini adalah nikmat dan rakhmat dari Allah, baik dalam keadaan senang maupun susah, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, tidak ada yang sia-sia apapun yang Allah ciptakan. Dia meyakini bahwa kehidupan ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, sehingga dia merasakan kehidupan ini penuh dengan makna, nilai dan rakhmat. Dia merasakan apa yang ada pada dirinya dan diluar dirinya dalah nikmat dan rakhmat, karena itu dia selalu berterima kasih kepada Allah apapun keadaannya dan kebahagian selalu menyertainya dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Dia selalu memelihara dan mengembangkan apapun dalam hidupnya agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan.  Dia selalu memberi penghargaan kepada kebaikan sekecil apapun dan berterima kasih kepada siapapun.
  • Jiwa Ihsan yaitu kondisi jiwa yang selalu merasa bahwa dirinya selalu dalam kasih sayang Allah, bersama Allah dimanapun dia berada, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Karena itu dia selalu memelihara diri dan berbuat kebajikan semata-mata hanya dalam rangka menghambakan diri kepada Allah.