BID’AH OBAT ATAU RACUN

1.  BID’AH OBAT ATAU RACUN

  • Friday, 27 December 2013, 17.19 WIB

“ KULLU BID’ATIN DHALALAH “ artinya setiap bid’ah itu sesat. ( Al Hadits )

 

Kebingungan masyarakat.

Tulisan ini terinspirasi setelah menyaksikan fenomena umat islam yang terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia. Pada awalnya umat islam hidup bersama dengan penuh keharmonisan bahkan dikenal dengan masyarakat yang ramah tamah, suka bergotong royong, suka berkumpul dan mengaji, mereka semua merasakan hidup bersama yang sangat menyenangkan. Namun suatu saat mereka dikejutkan dengan istilah “Bid’ah“ yang dibawa oleh orang tertentu, katanya bid’ah itu sesat, kesesatan ganjarannya adalah neraka. Setelah munculnya istilah ini sifat masyarakat yang semula ramah-tamah senang berkumpul berubah menjadi egois, yang semula saling menghormati berubah menjadi suka mencela, yang semula rendah hati berubah menjadi sombong merasa paling benar.  Rasa persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekajap mata.

Tidak jelas apa artinya bid’ah, tetapi yang pasti kata-kata ini telah menyebabkan kebingungan dikalangan umat islam. Orang beribadah menjadi serba takut, kreatifitas beramal salehpun menjadi terbunuh.

Ilustrasi dibawah ini dapat menjadi renungan bagaimana dampak negative yang terjadi   setelah vonis “bid’ah” diberlakukan kepada umat islam yang sedang belajar untuk menjadi mukmin yang baik.

Vonis “bid’ah” ini menjadi mesin pembunuh kreatifitas dalam beramal saleh dan sebagian orang menjadikan sebagai alat efektif untuk memecah belah umat islam.

Kronolgi kejadian dibeberapa daerah yang sering kita dengar, ada sekelompok orang yang sedang bergairah belajar ilmu agama, mereka bersemangatnya melaksanakan amal saleh, tiba-tiba semangatnya beramal saleh menurun dan sangat ketakutan, kreatifitasnya mati dan bingung disebabkan kata bid’ah. Mereka adalah kaum perempuan yang kurang pendidikannya, nenek-nenek dan kakek-kakek, orang-orang yang baru belajar islam bahkan ada diantaranya yang mualaf.

Cara belajar Al Qur’an mereka adalah menghafal secara bersama-sama maklumlah mereka tidak sehebat orang-orang tamatan pesantren atau sarajana IAIN, mereka hanya punya waktu sedikit, pengajianpun hanya seminggu sekali hanya cara itu yang dapat mereka lakukan. Tiba-tiba terdengar kata “Bid’ah“ yang menakutkan, mengerikan, katanya “ tidak ada dalilnya  ngaji dengan cara bersama-sama, siapa yang melakukan akan masuk neraka “ setelah mendengar kata-kata ini mereka yang baru belajar itu lari tunggang langgang ketakutan. Kata Bid’ah menjadi moster yang menakutkan, mengerikan. Perkumpulan dan persaudaraan hilang seketika kemudian berubah menjadi saling curiga, saling mencela, hubungan bathin antara sesama muslim menjadi rusak karena sebagian dari mereka merasa paling berhak masuk surga, sedangkan yang lain merasa tersudutkan karena divonis masuk neraka. Akhirnya orang mualaf kembali keagamanya, sebagian orang muslim menjadi murtad karena kebingungan.

 

Memanfaatkan kata “bid’ah” untuk kepentingan diri atau kelompok.

Ilustrasi lainnya, ada sekelompok jamaah pengajian yang berlajar cukup lama kepada seseorang. Dari kelompok ini ada  beberapa orang muridnya yang mencoba belajar ketempat lain untuk menambah wawasan, murid ini pun semakin pandai karena banyak gurunya. Rupanya pelajaran agama yang diperoleh dari orang lain sedikit berbeda dan lebih aplikatif, ilmu ini tidak dimiliki oleh gurunya yang lama, maklumlah semua manusia tidak sempurna ada kelebihan dan kekurangannya. Melihat keadaan ini sang guru lama  merasa khawatir muridnya menjadi kurang loyal dan jumlahnyapun berkurang, akhirnya sang gurupun mengeluarkan senjata  pamungkas yang menakutkan yaitu fatwa “Bid’ah“  kepada ajaran orang lain sebagai cara mempertahankan kepentingannya.

Ilustrasi lain, ada seorang pengusaha ingin mencari kekayaan dengan cara menebang kayu illegal didalam hutan. Tetapi mereka harus menghadapi para santri yang suka datang kedalam hutan. Pengusaha ini sangat kebingungan bagaimana caranya agar santri tidak masuk hutan. Akhirnya sang pengusaha berinisitatif mendekati guru para santri tersebut  untuk mendukung idenya.  Sang gurupun mulai membatasi ruang gerak muridnya agar tidak masuk kedalam hutan dengan mengeluarkan  fatwa “ Mendekati hutan itu bid’ah karena tidak ada haditsnya”. Para santripun menjadi ketakutan tak ada yang berani masuk hutan maka sang pengusaha dengan leluasa menebang hutan tanpa ada masalah lagi.

 

Taklid buta dan tekstual

Anehnya banyak juga orang-orang yang sudah mengaji lama dan cukup berpendidikan begitu patuh kepada gurunya tanpa mengkaji lebih dalam makna yang sesungguhnya dari kata bid’ah ( taklid buta ). Padahal kata bid’ah merupakan vonis (hukuman) berat yaitu  masuk neraka, sungguh vonis yang sangat mengerikan. Mungkin banyak yang tidak sadar akan hal ini. Bagi mereka yang pemahamannya serba dalil, tekstual, terlulis, mereka menafsirkan kata bid’ah dengan perbuatan baik yang tidak ada hadits tertulisnya. Ada beberapa kemungkinan yang membuat mereka memiliki padangan ini diantaranya :

  1. Mereka orang malas membaca dan tidak ada kemampuan membeli buku dan hanya berpedoman kepada satu buku saja, sehingga tidak menemukan hadits tertulisnya padahal mungkin saja ada pada hadits lain yang belum diketahuinya. Umumnya mereka merasa dirinya paling sempurna.
  2. Mereka termasuk taklid buta ( apa kata gurunya  dianggap Maha Benar.)
  3. Mereka ikut-ikutan lingkungannya,  pokoknya bid’ah saya tidak perduli.
  4. Mereka yang tidak sadar bahwa untuk memvonis bid’ah harus memiliki pengetahuan yang luas khususnya memahami dengan baik  seluruh isi Al Qur’an yang jumlah ayatnya ribuan dan memahami seluruh hadits yang jumlahnya puluhan ribu. Kadang-kadang baru tahu satu, dua ayat Al Qur’an dan beberapa potong hadits sudah berani memvonis bid’ah.
  5. Mereka tidak tahu tetapi sok tahu.

 

Beberapa mubaligh yang insyaf.

Saya pernah menjumpai beberapa orang mubaligh yang begitu keras memvonis bid’ah kepada sebuah kelompok pengajian, namun setelah beberapa tahun kemudian saya bertemu kembali ternyata mubaligh tadi berbalik  mengikuti kelompok yang ditentangnya tersebut. Saya bertanya kepada mereka mengapa anda sekarang mengikuti faham yang dahulu pernah anda vonis bid’ah dan masuk neraka. Mereka menjawab sederhana ” dulu saya belum memahami ”.

Dari kejadian ini dapat kita tarik hikmah mungkin saja kita salah dalam memberikan vonis bid’ah. Sungguh hal ini sangat mengerikan, tapi ironinya vonis ditimpakan kepada kepada orang lain seenaknya saja, bahkan ada juga yang menjatuhkan vonis sedangkan mereka tidak faham.

 

Ada sebuah kondisi yang terbalik yaitu sesuai hadits tapi disalahkan.

Pada suatu hari ada seorang melaksanakan wudhu seperti biasa membasuh muka, tangan, kepala, kemudian dia hanya mencuci kaki kirinya saja yang kanan tidak, maka orang-orang islam sekelilingnya heran dan mencap orang ini bid’ah karena hanya mencuci kaki kirinya saja. ( benarkah ini bid’ah ? )

Kemudian dijumpai pula seorang yang sedang melakukan sholat dan dia selalu membawa saputangan atau selendang disakunya. Saat sholat dia selalu membuang ludahnya disaputangannya dan dilipat-lipat dimasukannya kesakunya. Saat ditanya kamu sholat selalu membuang ludah itu bid’ah dan jorok. ( benarkah dia bid’ah ? )

Ada seseorang yang buang air selalu membelakangi kiblat katanya ajaran nabi, apakah ini ajaran bid’ah ? kata ulama seharusnya tidak demikian.

Tugas anda mencari hadits yang tidak umum ini dari tumpukan dalil lebih dari 50.000 hadits yang layak dipercaya, kasus ini baru masalah kecil dari dari jutaan masalah umat yang harus diselesaikan. ( Renungkan )

 

Memvonis hukuman yang tidak adil adalah tindakan dholim.

Vonis hukuman untuk orang yang berbuat bid’ah adalah kesesatan yang akhirnya adalah neraka, hukuman ini sangat berat. Mungkin sabda Rosulullah ” Kullu bid’atin dholala ” ini ditujukan untuk menyelamatkan prinsip-prinsip islam agar tidak disalah gunakan. Disamping itu untuk menjaga persatuan umat islam agar tidak simpang siur sehingga membahayakan existensi ajaran islam itu sendiri. Tetapi saat ini justru terbalik, kata bid’ah dipakai untuk memvonis umat islam lain yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka, sedangkan sebagian yang lain untuk membuat pembenaran atas ajarannya sendiri, ada juga untuk mempertahankan jamaahnya. Bayangkan orang-orang yang berniat baik dan baru belajar islam, mereka tidak kafir, tidak munafik, tidak fasik, tidak musyrik tidak berbuat dosa besar, tidak menyakiti orang lain, tiba-tiba divonis bid’ah masuk neraka. Mungkin saja vonis bid’ah ini tidak benar tetapi hanya beda penafsiran.  Bila kita salah menjatuhkan vonis bid’ah kepada orang lain maka berarti kita mendhalimi orang lain. Allah memerintahkan kepada kita untuk berbuat adil, menjaga persatuan umat, bertindak bijaksana, berkasih sayang terhadap sesama muslim dan seterusnya. Mari kita renungkan dan belajar lebih banyak agar kita tidak mudah menjatuhkan vonis berlebihan yang akhirnya membahayakan diri kita sendiri dan memecah belah umat islam. Memelihara persatuan umat islam adalah kewajiban kita bersama.

 

Kesimpulan :

Keberadaan hadits ” Kullu Bid’atin Dhalala ” ditujukan untuk melindungi umat islam dari perpecahan, penyalahgunaan, serta memagari umat islam dari membuat sesuatu aturan sesenaknya sendiri. Bisa jadi kita salah dalam memvonis bid’ah kepada orang lain, ini berarti kita telah melakukan bid’ah itu sendiri. Bila diibaratkan umat islam dalam keadaan sakit yang disebabkan perpecahan, maka hadits ini berfungsi sebagai obat untuk mempersatukan umat islam. Tetapi bila dosisnya tidak tepat atau salah menggunakannya bisa jadi akan menjadi racun bagi umat islam itu sendiri. Kita perlu berhati-hati.

 

Sebagai bahan renungan marilah kita kaji bersama Al Qur’an QS. Al Hujurat ( 49 ) : 11 – 12

 

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka ( yang mengolok-olokan )……. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain ….. ”

 

Renungan :

Merendahkan orang lain dan berprasangka buruk saja adalah dosa yang dilarang oleh Allah apalagi memvonis sesama orang beriman dengan bid’ah atau masuk neraka. Kita belum tentu lebih baik dari mereka dalam pandangan Allah, bisa jadi ilmu kita yang belum sempurna. Memang betul bid’ah dan kesesatan itu ada didunia ini tetapi untuk menjatuhkan vonis bid’ah bukan seenaknya,  perlu pengkajian yang mendalam dan menyeluruh bila perlu melibatkan ulama sedunia. Karena itu hendaknya kita semua berhati-hati, jangan bicara asal bunyi atau ikut-ikutan yang akhirnya akan merusak persatuan umat islam dan mendholimi diri sendiri dan orang lain.

 

 

 

Bekasi, 22  November 2007

( Lukman Hakim)

 

 

 

 

 

 

 

  1. Bukhari  No. 244  (Shahih Bukhari Penerbit Fa Wijaya Jakarta )

” Apa bila kamu sedang shalat……. janganlah kamu meludah ke arah kiblat tetapi kekiri atau kebawah tapak kakinya. Kemudian nabi mengambil ujung cedarnya, lalu beliau meludah disitu, kemudian dilipat-lipatnya seraya bersabda ” atau perbuatlah begini ”.

 

  1. Bukhari No. 100 Buku sda.

…… Rasulullah berwudhu muka, tangan, kepala dst, …… Sesudah itu disauknya air, lalu dibasuhnya kaki kirinya. Kemudian ia berkata ” Beginilah saya lihat Rosulullah saw berwudhuk ”

 

  1. Bukhari No. 107  Buku sda.

Abdullah bin umar r.a. menceritakan “ saya naik keloteng rumah Hafsah untuk suatu keperluan, kelihatan oleh Rosulullah sedang buang air membelakang kiblat dan menghadap ke Syam “

 

Masih banyak lagi hadits sejenis ini

 

 

2. Shalat dalam pandangan umum

Masyarakat pada umumnya memahami arti shalat sebagai bacaan, hafalan yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam, serta gerakan-gerakan yang sudah ditentukan mulai dari berdiri sampai dengan bersujud.

Pada bagian akhir buku ini dijelaskan tata cara shalat menurut hadis-hadis sahih, dalam bab Gerakan Fisik Shalat Nabi.

Sebagai seorang muslim, shalat merupakan kewajiban yang harus kita jalankan. Namun, kewajiban tersebut kerap menjadi beban bagi kita, seakan-akan shalat yang kita lakukan merupakan sebuah keterpaksaan yang berada dibawah ancaman. Bacaan shalat pun sebatas lancar di lidah karena hafal bahasa Arab-nya, tetapi artinya belum tentu kita pahami dengan baik.

Karena pola pembelajaran seperti inilah, shalat yang dilakukan tidak dapat mencapai kekhusyukan yang sebenarnya. Apabila kita mau jujur pada diri sendiri, kualitas shalat yang telah dijalankan selama ini masih bersifat ritual. Kita melaksanakan shalat hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Padahal, seharusnya kualitas shalat kita semakin meningkat, baik dalam bacaan maupun dalam pemahaman kata, arti, dan makna yang sesungguhnya seiring bertambahnya usia kita.

Lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan kualitas shalat. Apabila lingkungan mendukung, kualitas shalat kita akan meningkat. Tetapi, apabila justru sebaliknya, kita akan mengalami kesulitan mencapai kekhusyukan dalam shalat. Selama ini, kita mungkin merasa memiliki banyak hambatan dalam meningkatkan kualitas shalat, seperti:

  1. Shalat menjadi kebiasaan rutin dan menganggap shalat kita adalah yang terbaik.
  2. Mengikuti imam masjid apa adanya selama puluhan tahun.
  3. Merasa sudah menjalankan shalat seperti Rasulullah.
  4. Adanya anggapan masyarakat bahwa memperbaiki kualitas shalat adalah tindakan berlebihan dalam beragama.
  5. Kebingungan karena hadis dan mazhab yang berbeda-beda.
  6. Ditakut-takuti orang lain yang tidak menyukai latih- an shalat khusyuk dengan berbagai alasan, termasuk ancaman api neraka.
  7. Bacaan dan gerakan shalat yang cepat dan sudah menjadi kebiasaan.
  8. Waktu shalat hanya dua atau tiga menit dianggap sudah cukup sah dan mantap.
  9. Merasa nyaman dengan shalat yang telah dijalani dan menolak perubahan.
  10. Ingin belajar shalat khusyuk secara tergesa-gesa (instan).

Bila kita perhatikan dengan seksama bahwa shalat yang dilakukan nabi terdiri dua bagian yang tak terpisahkan yaitu shalat secara fisik dan shalat secara jiwa. Shalat secara fisik yang dilakukan nabi dapat dilihat jelas, karena itu para sahabat nabi mudah meniru dan mencatatnya dalam hadis-hadis yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Pelaksanaan shalat secara fisik ini sangat mudah dipelajari.

Shalat secara jiwa disebut dengan khusyuk, kondisi khusyuk tidak dapat dilihat oleh mata, karena itu sahabat nabi tidak bisa meniru atau mencatatnya sehingga hadis-hadis yang berkaitan dengan khusyuk jumlahnya sedikit. Dari ±62.170 hadis yang ditulis para ahli hadis dalam kitab sembilan Imam, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Darimi tercatat kurang dari 10 hadis yang berkaitan dengan khusyuk, itupun tidak ada penjelasan yang lengkap. Demikian juga didalam Al-Qur’an terdapat kurang dari 5 ayat yang menyebutkan kata khusyuk, sehingga tidak mengherankan bila kita mengalami kesulitan merasakan khusyuk dalam shalat.

Kita tidak perlu berputus asa menghadapi kesulitan ini, sebaliknya kita perlu bersyukur bahwa Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menggunakan akal pikir dan berusaha mempelajari lebih dalam tentang khusyuk.

Kita perlu menyadari bahwa sebagian masyarakat ada yang meremehkan atau kurang peduli terhadap kewajiban khusyuk dalam shalat ini. Mereka ini merasa cukup sempurna hanya melaksanakan shalat secara fisik sesuai sunnah nabi tetapi lalai didalam jiwanya. Selain itu perlu diwaspadai juga pandangan yang lebih mementingkan hasil shalat yaitu mencegah perbuatan keji dan munkar tetapi tidak peduli dengan khusyuk pada saat pelaksanaan shalat. Adapula yang merasa nyaman dengan keadaan shalatnya seperti sekarang ini, mereka tidak mau repot belajar lagi, mereka merasa sudah berbuat semampunya dan pasti ada pahalanya. Bila kita mengikuti ketiga pandangan ini maka akan tumbuh rasa malas untuk mempelajari shalat khusyuk. Waspadalah!

Mengapa kurang bergairah melaksanakan shalat?

Penyebab kurangnya gairah dalam menjalankan shalat salah satunya karena kita tidak memahami dengan baik manfaat shalat. Shalat yang dilakukan hanya karena kebiasaan atau takut berdosa, dapat menyebabkan suatu saat akan mengalami kejenuhan.

Untuk memotivasi diri agar lebih bergairah dalam mempelajari dan melaksanakan shalat, akan dijelaskan manfaat shalat dari berbagai aspek dalam pembahasan selanjutnya. Secara garis besar, manfaat shalat yang dikemukakan para ahli dapat Anda pelajari pada Buku Bagian 2. Para ahli tersebut diantaranya adalah Prof. H.M. Hembing Wijaya Kusuma, Dr. Herbert Benson dan William Proctor, Dr. Bernard Grad, Dr. Muhammad Soleh, Kazuo Murakami, Ph.D., Masaru Emoto, Prof. Dr. H.M. Amin Syukur.

 

Khusyuk sebenarnya seperti apa?

Banyak pertanyaan mengenai shalat khusyuk yang sebe- narnya: rasanya seperti apa?, seperti apa gambarannya?.

Pada umumnya yang diinginkan adalah jawaban yang instan dan mudah. Padahal, jawaban pertanyaan ini tidak sederhana. Anda akan memperoleh gambaran khusyuk yang sebenarnya secara utuh setelah mempelajari dan memahaminya secara keseluruhan. Khusyuk berarti tunduk, gambaran sepintas rasa tunduk adalah ketundukan seseorang kepada orang lain yang derajatnya dianggap lebih tinggi, seperti rakyat kepada raja, adik kepada kakak, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, pembantu kepada majikan, anak kepada orangtua, dan umat kepada rasul. Rasa ketundukan terhadap sesama manusia tentunya berbeda dengan ketundukan kepada Tuhan-nya, karena Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya.

Suatu saat, saya pernah belajar shalat khusyuk kepada seseorang. Dia mengatakan bahwa shalat khusyuk itu sangat mudah, cukup hanya dengan melakukan relaksasi dan menyebut Allah… Allah beberapa kali, langsung bisa terhubung dengan Allah.

Katanya, tidak perlu susah-susah belajar agama, memahami arti bacaan shalat tidak diperlukan dalam mencapai khusyuk, mustahil bisa mencapai khusyuk apabila perhatian kita tertuju pada arti bacaan shalat. Dengan hanya relaksasi, meditasi, dan menyebut Allah… Allah, maka Tuhan pasti membimbing kita secara langsung.

Setelah saya renungkan, apabila pandangan seperti ini terus dibiarkan, akan membahayakan ajaran Islam secara keseluruhan, umat Islam tidak lagi mau memahami Al-Qur’an, ilmu tauhid, makrifatullah, atau memahami surah Al-Fatihah yang menjadi bacaan wajib dalam shalat, hanya dengan relaksasi, meditasi, dan menyebut Allah, seseorang sudah mencapai puncaknya, yaitu perjumpaan dengan Tuhan (Mikrajul Mukminin). Umat Islam akhirnya cenderung mencari kenikmatan, ketenangan, kenyamanan, dan tidak mau repot-repot belajar memahami Al-Qur’an.

Saya saksikan saat orang melakukan zikir menyebut Allah… Allah disertai gerakan-gerakan tertentu, akhirnya menderita sakit jiwa. Bahkan, ada juga yang sampai membunuh ibu kandungnya sendiri. Saat ditanya mengapa berbuat seperti itu, mereka menjawab: “Saya telah mendapat bimbingan langsung dari Tuhan karena saya dalam keadaan zikir”. Untuk menghindari dampak negatif, maka setiap muslim wajib mempelajari Al-Qur’an, termasuk arti dan maknanya. Apabila belum bisa mempelajari sendiri, dapat dipandu oleh ahlinya.

Kini, telah terjadi kesimpangsiuran dan kerancuan pemikiran dalam memahami khusyuk. Banyak yang menyamakan khusyuk dengan relaksasi dan meditasi untuk mencapai ketenangan, padahal mencapai ketenangan dengan cara ini dapat dilakukan oleh siapapun termasuk orang kafir, musyrik, munafik. Kerancuan pandangan ini dikarenakan tidak ada definisi yang baku tentang khusyuk, sehingga orang mencari-cari dan mereka-reka dalam pikirannya masing-masing. Istilah relaksasi dan meditasi sering diartikan sebagai khusyuk, padahal masing-masing istilah ini jauh berbeda dari segi arti dan maknanya. Seandainyapun ada penjelasan tentang khusyuk, sebagian orang mengatakan khusyuk itu terfokus atau konsentrasi pada tempat sujud, gerakan anggota badan, ucapan bacaan shalat, arti bacaan shalat atau kepada Allah. Kesemuanya itu ada baiknya agar pikiran tidak kemana-mana. Khusus konsentrasi kepada Allah ini sangat menyulitkan karena Allah Maha Esa, tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan, dibayangkan, dibandingkan, tak terbatas dan tak terhingga.

Khusyuk terdiri dari dua macam yaitu khusyuk instan dan khusyuk sebenarnya. Khusyuk instan adalah pandangan tentang shalat khusyuk akibat proses pembelajaran yang tergesa-gesa, mencari yang paling mudah dan tidak mau repot-repot yang akhirnya terjebak didalamnya. Sedangkan, khusyuk sebenarnya akan diulas secara keseluruhan dalam buku ini.

Didalam buku ini dijelaskan cara cepat mencapai khusyuk, hanya dalam 20 menit khusyuk dapat dirasakan. Cara cepat mencapai khusyuk sebenarnya yang dijelaskan dalam buku ini bukan cara yang instan dan tergesa gesa tetapi cara alami didalam memori pikiran manusia yang bisa dilatih dengan metode tertentu sehingga hasilnya bisa lebih cepat. Metode tertentu dapat mempercepat dan mempermudah dalam memahami sesuatu, misalnya membaca Al-Qur’an dengan metode Iqra’ atau metode lainnya yang memungkinkan seseorang mampu membaca Al-Qur’an lebih cepat dibandingkan cara sebelumnya.