Tanya Jawab

Tanya : Apa pengertian sabar menurut Islam? Apakah kebanyakan kita hanya pura-pura sabar?

Jawab : Mungkin sebagian besar dari kita memang melakukan pura-pura sabar.  Kondisi ini akibat tidak lengkapnya pembelajaran tentang istilah sabar. Termasuk didalamnya adalah tentang istilah Sabar yang dipahami dalam dunia psikologi.

Sabar biasanya diartikan sebagai tidak marah atau hanya diam saja, atau tidak melakukan sesuatu meskipun didalam hati timbul gejolak yang luar biasa dalam menghadapi suatu masalah atau keadaan, misalnya adanya gejolak kemarahan, tetapi gejolak itu hanya dipendam didalam hati. Dengan hanya diam saja, kita tidak tahu apakah kita sedang bersabar atau hanya diam saja atau terpaksa bersabar?.

Masalah sabar itu memang perlu dikaji secara lebih mendalam.  Secara garis besarnya, sabar itu dalam istilah psikologi disebut dengan adversity quotient,  yang berarti memiliki daya tahan yang tinggi dalam menghadapi segala keadaan. Dalam mencapai sesuatu atau menghadap segala permasalahan hidup, memang diperlukan sekali kesabaran, karena kita berhadapan dengan situasi jiwa dan emosional yang tidak stabil terhadap perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat.

Definisi sabar sebagai sesuatu yang diam, tidak marah, dan sebagainya, hanyalah sebagian kecil dari komponen-komponen sabar.  Sabar yang sebenarnya adalah kesabaran dalam menghadapi keadaan-keadaan hidup yang dilakukan dengan cara-cara yang sangat baik, memiliki daya tahan yang tinggi di dalamnya, tidak menyerah untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan atau masalah-masalah yang dihadapi, sehingga berbagai masalah kehidupan dapat diselesaikan dengan baik sekali.  Kondisi sabar seperti ini, memerlukan ketahanan, keuletan, perjuangan dan sebagainya.  Inilah definisi sabar yang sesungguhnya yang harus kita pahami.

Jika, sabar ini dipahami sebagai adanya daya tahan dan perilaku yang dinamis dalam perjuangan menjalani kehidupan ini, maka dengan sendirinya kesabaran ini merupakan kesabaran yang sesungguhnya. Tetapi, jika kita artikan sabar sebagai sesuatu yang bersifat instan, hanya sebentar, sementara atau dapat diartikan sebagai diam, pasif dan tidak marah. Maka, mungkin saja kesabaran seperti ini hanyalah tindakan pura-pura (pura-pura sabar).

Tanya : Apakah yang dimaksud dengan Allah Maha Pencemburu?

Jawab : Allah Maha Pencemburu sebenarnya adalah kata-kata yang kurang tepat untuk menggambarkan Allah. Biasanya kata cemburu itu disandangkan pada orang-orang yang sedang jatuh cinta, yang tidak diperhatikan oleh pasangannya atau perhatian pasangannya beralih kepada orang lain. Seolah-olah seseorang yang sedang jatuh cinta itu benar-benar sangat membutuhkan cinta dari orang yang dicintainya.

Untuk menggambarkan siapa Allah yang sebenarnya, haruslah menggunakan perspektif yang ada dalam Al Qur’an. Lebih tepatnya kalau kita melihat atau merenungkan bagaimana sebenarnya kedudukan manusia dihadapan Allah SWT.  Jika kita renungkan dengan sebenarnya tentang hidup kita, maka kita akan menyadari bahwa Allah-lah yang menghidupkan kita, memberikan kehidupan ini, mengurus kita, memberikan semua nikmat-Nya kepada kita. Dengan fakta-fakta seperti itu dan kondisi-kondisi yang sebenarnya, maka sudah seharusnya manusia mengutamakan Allah SWT dalam hidup ini, bukan yang lain. Jika manusia berpaling dari Allah atau menomorduakan Allah SWT di dalam kehidupannya, maka itulah sikap yang tidak logis dan tidak proposional.

Pada saat manusia berpaling dari Allah SWT dan mementingkan kehidupan keduniawian, hawa nafsu, jabatan, dan lain-lain, maka hal ini menjadi tidak proporsional. Allah mengingatkan kepada manusia untuk mendahulukan Allah terlebih dahulu karena segalanya bersumber dari Allah SWT dan bukan yang lain, inilah mungkin yang dimaksud dengan Allah Maha Pencemburu itu.

Jadi, Allah SWT sebetulnya memberikan arahan kepada manusia agar kamu menjadi manusia yang proporsional dalam memberikan perhatian karena segalanya yang utama adalah berasal dari Allah SWT dan bukanlah dari yang lain.