Syukur

Himpunan Masyarakat Peduli Akhlak

( H I M A P A )

Perumahan Harapan Jaya Blok B 276

Bekasi Utara

 

Kajian hari Sabtu tanggal  09.03.2002

 

 

SYUKUR

 

Kita sudah tidak asing lagi dengan kata syukur karena telah didengungkan berpuluh tahun yang lalu bahkan ratusan tahun yang lalu sejak jaman Rosulullah. Sejak kecil kita sudah mendengar istilah ini dari orang tua dan para ustadz.

 

Ungkapan syukur secara sederhana sering terlontar pada acara-acara resmi dalam pidato pembukaannya, para pengurus mesjid selalu mengingatkan kita agar senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.

Selama puluhan tahun kita mendengar himbauan ini namun apa yang terjadi pada diri kita, rasa syukur yang ada didalam diri kita semakin hari semakin memudar, kata syukur kian tidak bermakna, jiwa bersyukur tidak terasa dalam diri. Nasehat untuk bersyukur yang kita terima setiap hari datang dan pergi seperti angin lalu.

 

Ada apa gerangan didalam diri kita sehingga bersyukur yang seharusnya menjadi jiwa seorang muslim telah sirna tak berbekas. Ada beberapa pengertian bersyukur yang selalu dinasehatkan kepada kita antara lain   “ Apa bila kamu mendapat nikmat berupa, kenaikan pangkat, kenaikan sekolah, banyak rezki, melahirkan,  menikah, untung besar, dapat proyek, sembuh dari sakit dll, hendaknya kita perlu bersyukur, mengadakan tasyakuran mengundang tetangga makan-makan bersama “

 

Ilmu bersyukur ini telah diajarkan para ustadz kepada kita sejak puluhan tahun yang lalu, kesan yang kita terima bahwa bersyukur itu sifatnya hanya temporer, khusus pada saat kita mendapat kelebihan rizki, dan wujud syukur itu dalam bentuk makan-makan.  Kesimpulan syukur yang difahami masyarakat dewasa ini seperti itu dan telah membudaya menjadi sebuah istilah yang baku dimasyarakat.

 

Kemudian ada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar apakah bersyukur itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang mendapat rezki atau kelebihan lainnya yang bersifat materi. Jika demikian halnya besyukur tidak perlu dilakukan oleh mereka yang miskin, sengsara, menderita sakit, dalam peperangan, atau dalam kesempitan lainnya. Kita ketahui berjuta-juta manusia hidup dalam kemiskinan, kebodohan, penderitaan, kesengsaraan apakah mereka tidak berhak untuk bersyukur dalam dirinya.

 

Jika demikian halnya kita perlu merenungkan kembali makna syukur yang kita simpulkan selama ini, kita perlu mengkaji ulang pemahaman syukur yang lebih universal agar siapapun manusia dan dalam kondisi apapun hidup dalam bersyukur.

 

Kesimpulan pengertian bersyukur yang kita ketahui selama ini yaitu suatu ungkapan kegembiraan atas kenikmatan rezki dan kelebihan lainnya berupa materi yang diwujudkan dengan cara memberikan sebagian rezki kepada orang lain.

 

Ada pula yang memberikan arahan kepada kita bahwa kita harus mensyukuri seluruh nikmat yang diberikan kepada kita mulai dari nikmat penciptaan pada diri kita misalnya, syukur atas nikmat panca indera, rizki, ilmu, kesehatan, dll.

 

Kata syukur dalam kehidupan sehari-hari mengandung ungkapan perasaan dari beberapa hal antara lain.

  • Kesadaran diri akan adanya sesuatu yang memberikan kebaikan kepada kita.
  • Merasakan bahwa yang diberikan itu sangat diperlukan.
  • Menghargai dan merasa senang dengan pemberian itu.
  • Adanya ungkapan rasa terima kasih didalam diri.
  • Adanya penghargaan atas jasa yang besar kepada pemberi.

 

 

Kesadaran diri akan adanya sesuatu yang memberikan kebaikan kepada kita

 

Salah satu ungkapan dari syukur adalah adanya kesadaran pada diri kita bahwa ada pihak lain yang telah memberikan sesuatu kepada kita secara cuma-cuma untuk dinikmati dan  dipergunakan. Tidak setiap orang memiliki kesadaran ini, ada sebagian orang yang merasa bahwa kebaikan yang diterimanya sama sekali tidak ada yang memberikan, tetapi nikmat itu ada dengan sendirinya berdasarkan hukum alam. Pada orang seperti ini tidak akan tumbuh rasa syukur, jika mendapat nikmat biasa saja semuanya dianggap hal yang wajar dan seharusnya terjadi.

 

Kesadaran diri akan adanya yang memberikan sesuatu yang berharga kepada kita amat penting artinya bagi pemahaman rasa syukur yang sebenarnya, jika pemahaman ini tidak ada maka syukur yang diucapkan terasa hambar dan bersifat basa-basi saja.

 

Yang Maha Pemberi telah memberikan segalanya kepada kita, tanpa ikatan apapun, tanpa pamrih sedikitpun, maka dengan sendirinya kita dituntut untuk menyadari hal ini dengan hati nurani yang paling dalam agar senantiasa mengingatNya.

 

Merasakan bahwa yang diberikan itu sangat diperlukan.

 

Kecenderungan manusia dalam menghargai sesuatu apabila benda pemberian sangat diperlukan, jika tidak diperlukan manusia cenderung tidak akan menghargainya. apabila ada sebuah pemberian dianggap tidak diperlukan maka manusia biasanya akan menyepelekan pemberian itu.

 

Sekalipun benda atau apapun yang diberikan itu berharga mahal tetapi belum tentu diperlukan oleh yang menerima. Sebagai contoh seorang anak berusia 3 tahun diberi hadiah sebuah berlian  yang sangat mahal maka sikap si anak tersebut akan acuh tak acuh atau bahkan mungkin dicampakkan, tetapi jika sebuah permen yang diberikan kepadanya pasti dia akan sangat merasakan kegembiraan.

 

Anak tersebut belum mampu memahami betapa bernilainya sebuah berlian, namun jika anak telah dewasa dan memahami maka dengan serta merta dia akan memberikan penghargaan sesuai dengan yang seharusnya.

 

Kita sering kurang menyadari bahwa sesungguhnya apa yang melekat pada diri kita, adalah perlengkapan hidup pemberian Tuhan yang sangat diperlukan dan tak ternilai harganya. Kita beranggapan bahwa pemberian Tuhan tersebut sebagai hal yang wajar yang harus ada didalam diri kita. Dengan pemikiran ini kita tidak perlu lagi menghargai apa yang ada didalam diri kita, yang kita perlukan atau inginkan adalah yang berada diluar diri, seperti harta, tahta, ilmu, dll. maka seluruh jiwa raga kita akan tercurah untuk mendapatkannya.

 

Hati dan jiwa kita sering kali tidak dapat merasakan betapa berharganya perlengkapan didalam diri yang berikan Tuhan. Usaha untuk menyadarkan diri agar bersyukur perlu dilakukan untuk memberikan kesadaran kepada diri kita, kita perlu merenungkan kembali betapa berharganya setiap perlengkapan yang ada didalam diri.  Cara yang perlu ditempuh adalah mulai belajar dan menghayati penderitaan yang dialami orang-orang yang tidak lengkap organ tubuhnya.

 

Bagaimana keadaan mereka yang hidup tanpa panca indera yang lengkap, misalnya tuna rungu, tuna netra, cacat mental, cacat fisik, dll. Renungan dan pembelajaran ini akan menggugah kita agar dapat merasakan betapa tak  ternilainya pemberian Tuhan. Yang sangat penting diketahui adalah tidak ada barang serupa yang dijual dipasaran karena tak satupun manusia mampu membuatnya.

 

Menghargai dan merasa senang dengan pemberian itu.

 

Kita berpendapat bahwa apabila seseorang memperoleh sesuatu dari orang lain pasti setiap orang akan merasa senang dan akan menghargai pemberian itu. Pada kenyataanya belum tentu demikian adanya. Banyak orang yang tidak suka dan tidak menghargai pemberian orang lain kepada dirinya.

 

Pada suatu ketika seorang kawan saya mengundang anak yatim dan fakir miskin untuk dijamu dengan makan-makan dengan menu yang sangat lezat, dugaan kawan saya adalah bahwa jamuan ini akan membahagiakan mereka karena mereka adalah dari golongan tidak mampu. Dugaan tersebut meleset, setelah selesai makan bersamaan, anak yatim dan fakir miskin tersebut ternyata marah-marah kepada kawan saya, bahkan kawan saya mendapatkan cemoohan yang cukup menyakitkan hati.

Atas kejadian ini kawan saya menanyakan sikap mereka yang kurang bersahabat, ternyata anak yatim tersebut merasa kecewa karena tuan rumah hanya memberikan makanan saja tidak disertai dengan bingkisan lainnya.

 

Rasa syukur akan tumbuh apabila didalam diri kita ada rasa bahagia kerena mendapatkan sesuatu dari orang lain, jika rasa senang atas pemberian itu tidak ada dengan sendirinya rasa syukurpun tidak akan pernah ada.

 

Adanya ungkapan terima kasih didalam diri.

 

Dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak pemberian orang lain yang kita terima dan sangat membahagiakan mulai dari pemberian perhatian, senyuman, percakapan yang menghibur, pertolongan tenaga, pemberian makanan, nasehat, uang dsb. Kita sangat senang menerimanya dan terasa membahagiakan.

 

Dari semua pemberian orang lain yang menyenangkan tersebut belum tentu timbul rasa terima kasih pada diri kita. Ada beberapa kemungkinan reaksi yang muncul dibenak kita dalam merespon kebaikan orang lain :

  • Pemberian dianggap hal yang seharusnya.

Banyak kebaikan orang lain yang diberikan kepada kita dalam berbagai bentuk, kita mengangggap kebaikan itu memang seharusnya dilakukan oleh mereka karena kita telah banyak memberikan kebaikan pula kepada mereka. Apabila mereka tidak memberikan kebaikan kepada kita, justru menimbulkan kesan yang kurang baik bagi mereka karena dianggap tidak tahu balas budi.

  • Pemberian dianggap hal yang wajar.

Kebaikan orang lain akan kita tanggapi dengan dingin karena hal tersebut kita anggap wajar didalam pergaulan sesama manusia, kita tidak perlu terlalu berlebihan dengan berterima kasih kepada mereka.

  • Pemberian menimbulkan rasa terima kasih.

Kebaikan orang lain diterima dengan rasa lapang, diiringi pengharagaan atas kebaikan orang tersebut kemudian tumbuh rasa terima kasih. Perasaan ini muncul pada setiap kebaikan yang dilakukan orang kepada kita dalam bentuk sekecil apapun.

  • Pemberian menimbulkan penghargaan kepada si pemberi.

Suatu pemberian yang sangat dibutuhkan oleh yang menerima akan menimbulkan kesan yang mendalam pada diri sipenerima, kemudian timbul penghargaan yang besar kepada si pemberi . Kesan ini akan timbul apabila sipenerima benar-benar menyadari, menghayati akan besarnya arti dan makna pemberian.

 

Dalam kenyataannya tidak setiap orang dapat memahami arti dan makna pemberian orang lain pada dirinya dan menganggap biasa-biasa saja, bahkan bisa jadi pemberian dianggap masih kurang.

 

Tiadanya pengahargaan kepada si pemberi diantaranya disebabkan :

  • Harapan sipenerima terlalu tinggi, tidak sesuai dengan apa yang diterima sebagaimana contoh anak yatim diatas.
  • Pemberian merupakan kebiasaan yang terus menerus sehingga dianggap kewajiban. Sebuah yayasan kemanusiaan yang menerima bantuan rutin dari para donatur, lama kelamaan menjadikan para donatur sebagai orang yang harus memberi sejumlah dana, karena hal ini sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun maka rasa penghargaan sedikit-demi sedikit berkurang dan menjadi biasa saja. Seorang pembantu rumah tangga dengan gaji tetap, tetapi karena kedermawanan pemilik rumah selalu meberikan hadiah dalam jumlah tertentu, pada mulanya sang pembantu merasa berterima kasih namun setelah kebiasaan ini berlangsung lama akhirnya sang pembantu merasa biasa saja. Demikian juga pemberian dari orang tua kepada anaknya, dianggap suatu kewajiban yang akhirnya anak tidak merasakan jasa orangnya selama membesarkannya.

 

Ada hambatan lain yang menyebabkan seseorang sulit bersyukur yaitu sifat iri, sifat ini muncul pada saat ada orang lain didekatnya diberi lebih, namun pemberian ini dianggap kurang adil maka akibatnya akan timbul rasa kurang nyaman  yang akhirnya rasa terima kasih menjadi berkurang.

 

Untuk menumbuhkan rasa syukur didalam diri hendaknya kita kembali merenungkan dan mempelajari betapa besarnya pemberian Tuhan yang diberikan kepada diri kita secara terus menerus.

 

Beberapa hal yang perlu kita pelajari agar dapat menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmatnya al :

  • Renungkan kembali proses kejadian diri kita sejak tiada.
  • Renungkan betapa tak ternilainya harganya seluruh pemberian Tuhan kepada kita.
  • Tumbuhkan kesadaran kita untuk berterima kasih kepada Tuhan.
  • Bandingkan pemberian Tuhan kepada kita dengan pemberian kepada orang lain yang lebih randah dari kita.
  • Biasakan memberikan perhatian dan membantu orang yang sakit, kekurangan, membutuhkan pertolongan.
  • Banyak-banyak mengingat nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita sekecil apapun.
  • Berusaha untuk menurunkan keinginan dan target-target hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan.
  • Berusaha menerima dengan redho dan ikhlas segala keadaan dalam hidup.

 

Dalam prakteknya kita perlu menyadari dan merasakan secara terus menerus  bahwa yang ada dalam diri baik secara fisik, materi dan segalanya merupakan pemberian atau ni’mat dari Allah Yang Maha Pemberi. Kita perlu menyadarkan diri secara terus menerus bahwa Allahlah yang memberikan segalanya baik kepada diri maupun kepada seluruh makhluq di alam semesta ini.

 

Pemberian Allah tiada ternilai harganya dan tidak mungkin logika kita dapat mengukurnya, karena begitu besarnya pemberian Allah tersebut.   Namun banyak diantara kita yang tidak dapat merasakan pemberian Allah tersebut, sehingga rasa syukur akan nikmat tidak merasuk dalam hati dan tidak dapat menyatu dalam diri.

Kita harus mengakui bahwa kita banyak mengalami kesulitan untuk memahami, menghayati, apalagi mengamalkan syukur dalam kehidupan. Kenapa Kita Sulit Bersyukur ? padahal telah banyak ayat-ayat Al Qur’an dibaca, telah banyak buku yang menjelaskan tentang syukur yang kita baca dan banyak nasehat yang menganjurkan agar kita senantiasa bersyukur.

 

Kita menyadari bahwa kondisi jiwa dan perbuatan kita sangat jauh dari sikap syukur yang sebenarnya, bahkan yang terjadi adalah jiwa kita berlawanan dengan sikap syukur.  Jiwa kita lebih banyak menuntut, bercita-cita, berharap, berkeinginan yang melampaui batas bahkan sering tidak realistis.

 

Dalam kehidupan sehari-hari hampir seluruh waktu hidup kita dipakai untuk memikirkan tuntutan perasaan dan keinginan memperoleh benda-benda, serta kesenangan yang kita butuhkan.

 

Sedikit sekali waktu yang kita pergunakan untuk melihat, merenungkan nikmat  yang telah kita peroleh dalam hidup ini, sehingga kita sulit memahami bahwa yang telah kita nikmati sebenarnya jauh lebih besar dan lebih berharga dibanding dengan yang kita inginkan. Karena kita kurang menghayati besarnya nikmat di dalam diri maka membuat jiwa kita kering, sulit sekali bersyukur.

 

Jiwa yang bersyukur banyak bermanfaat bagi diri sendiri baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, bahkan banyak ayat Al Qur’an yang menyebutkan bahwa orang-orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya didunia dan di akhirat akan dibalasi dengan syorga.

 

Beberapa manfaat yang dapat kita rasakan langsung apabila kita bersyukur a.l.:

  • Bersyukur merupakan sarana relaksasi dengan cara mengalihkan ingatan dari mengikuti tuntutan dalam diri berupa  keinginan, kebutuhan, target yang belum diperoleh, kepada mengingat dan menikmati  hal-hal yang sangat positif yang telah diperoleh. Bersyukur  akan dapat menurunkan kegelisahan, karena gejolak keinginan, tuntutan dan harapan menurun. Dengan mensyukuri nikmat secara sungguh-sungguh, maka secara otomatis fikiran dan perasaan akan terkendali, sedangkan harapan serta keinginan yang berlebihan dengan sendirinya akan berkurang.
  • Bersyukur membuat akal fikir lebih jernih, karena fikiran tidak dipenuhi dengan keinginan-keinginan dan khayalan-khayalan yang bersifat memaksa diri yang akhirnya menjerumuskan.
  • Mengurangi ketegangan fikiran, mengurangi beban mental, karena akal fikir tidak dibebani hal hal yang tidak pasti, tidak realistis yang cenderung berlebihan.
  • Meningkatkan kesehatan mental dan fisik, karena sebagian besar penyakit fisik disebabkan dan bersumber dari fikiran atau tekanan-tekanan yang ada dalam akal fikir.
  • Menggali dan menyadarkan akal fikir agar kembali mengingat kebaikan-kebaikan yang telah dinikmati yang selama ini dan telah terlupakan.
  • Menggugah kesadaran hati nurani bahwa apa yang telah diperoleh dan dinikmati jauh lebih berharga, lebih besar dibandingkan dengan apa yang kita harapkan dan kita angan-angankan.
  • Adanya kecenderungan dalam diri untuk memelihara dan memakai nikmat secara benar sesuai petunjuk Allah dan RasulNya.
  • Membentuk sikap jiwa menjadi reliastis dan mengurangi sikap berkhayal.
  • Dengan kesadaran bahwa sebenarnya kita telah diberikan sesuatu yang tak ternilai harganya secara cuma-cuma akan menumbuhkan rasa terima kasih kepada Sang Maha Pemberi.
  • Menumbuhkan kesadaran bahwa Tuhan Maha Kasih Sayang kepada diri kita dan kepada seluruh makhluk-Nya. Karena jasaNya yang tak terhingga kepada diri kita akan timbul kehendak untuk menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah Tuhan semesta alam.

 

 

 

Uraian tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita keuntungan bersyukur jika diterapkan dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjunya bagaimana kita memahami makna syukur secara mendalam, marilah kita renungkan ayat-ayat Al Qur’an berikut :

 

2 : 152, 172, 185, 243 ( Al Baqoroh)

152 :  Karena itu, ingatlah kamu kepada Ku, niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku.

172 :  Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada Nya kamu menyembah.

185 :  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang haq dan yang batil).  Karena itu barang siapa diantara kamu hadir dibulan itu, maka hendahlah ia berpuasa pada bulan itu dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.  Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur.

243 :  Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah berfirman kepada mereka : “ Matilah kamu “. Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetap kebanyakan manusia tidak bersyukur.

 

3 : 144 ( Ali ‘Imron)

Muhammad itu tidak lain adalah seorang Rosul, sunnguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rosul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik kebelakang (murtad) ?.  Barang siapa yang berbalik kebelakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudhorot kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

 

14 : 7 ( Ibrahim )

Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan : “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih “.

 

39 : 7, 66 ( Az Zumar)

7 :     Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridloi kekafiran bagi hamba-Nya dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridloi bagimu kesukaranmu itu; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada) mu.

66 :   Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.

 

 

 

46 : 15 (Al Ahqaaf)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang tua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, mengandungnya sampai menyapihnya adalah 30 bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai 40 th ia berdo’a : “ Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapak ku dan supaya aku dapat berbuat amal yang sholeh yang Engkau ridloi, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri “.

 

Jika kita renungkan ayat-ayat Al Qur’an diatas, dapat disimpulkan bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk bersyukur, apabila kita bersyukur Allah akan menambah nikmatNya, Allah akan redho terhadap kesukaran yang dihadapi, adanya indikasi betapa sulitnya mensyukuri nikmat dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur. Ancaman bagi yang tidak bersyukur adalah jika manusia kufur nikmat  maka akan datang azab atau siksaan.

 

Kesalahan kita selama ini adalah kurang menghayati bersyukur, sehingga pola pikir syukur tidak terbentuk.  Kita hanya memunculkan berbagai keinginan bahkan sangat berlebihan tanpa dapat dikontrol dengan baik, sehingga daya fikir yang berorientasi pada keinginan dan angan-angan akan menghilangkan nikmat yang sudah ada sekaligus akan menghancurkan potensi bersyukur.

 

Renungan-renungan yang mengarah untuk menumbuhkan rasa syukur seharusnya menjadi kebiasan yang melekat pada diri, sehingga lambat laun kita dapat merasakan nikmat tersebut,  kesombongan kita lambat laun berkurang, dan tumbuh sikap tawadhu’ dan menghargai orang lain yang tidak seberuntung kita.  Rasa syukur tersebut akan menumbuhkan sifat-sifat baik lainnya,  kita akan bersungguh-sungguh mengenal sang Maha Pemberi, Dialah yang sangat berjasa pada diri dan kehidupan ini.

 

Sebagai bahan renungan selanjutnya kita perlu mengkaji nikmat kehidupan secara mendasar dan menyeleuruh dalam rangka memudahkan kita mempelajari dan menghayati syukur nikmat, beberapa nikmat kehidupan yang perlu kita renungkan adalah sbb :

 

  • Nikmat diberikannya kesempatan untuk merasakan hidup didunia.

Nikmat yang pertama kali kita terima dalam kehidupan ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk merasakan kehidupan didunia ini. Nikmat ini sangat besar artinya dan merupakan awal dari segala sumber nikmat.

Betapa berharganya nikmat ini terlihat dari keinginan seluruh manusia untuk memepertahankan hidupnya, apa saja kita korbankan asalkan kita tetap bisa hidup. Bagaimana pengorbanan seorang ibu yang berjuang habis-habisan agar anaknya tetap hidup. Manusia sendiri begitu gigih membuat larangan membunuh bagi manusia lainnya. Seharusnya kita perlu menyadari dengan sungguh-sungguh betapa berharganya kesempatan hidup yang diberikan Tuhan kepada kita.

 

 

 

  • Nikmat dihidupkan sebagai makhluk termulia dibumi.

Kita perlu mengkaji hakikat kedudukan seorang manusia dimuka bumi, manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dibanding makhluk lainnya. Tubuh yang indah, otak yang cerdas, kemampuan yang lebih dari makhluk lainnya. Coba kita renungkan bagaimana sekiranya kita diberikan kesempatan hidup menjadi seekor cacing, tikus, anjing,  kucing, babi, serigala, lintah, dll. Dengan mengkaji yang demikian ini kita akan memberikan penghargaan atas pemberianNya karena dijadikan sebagai manusia.

 

  • Nikmat perlengkapan hidup yang tak ternilai harganya.

Kita sangat mengagung-agungkan materi, tekhnologi, kebendaan, dan memuji barang-barang yang mahal harganya yang sangat diperlukan. Kita lupa bahwa perlengkapan hidup yang telah diberikan Tuhan kepada diri kita yang terdiri bathiniah dan lahiriah jauh lebih bernilai dibanding dengan benda-benda buatan manusia. Otak manusia kehebatannya jauh melebihi komputer sehebat apapun, jantung manusia lebih hebat fungsinya dari kemampuan daya pompa apapun dan seterusnya. Semuanya perlengkapan hidup dapat kita renungkan sedetail mungkin untuk mengetahui batapa nilainya tak terhingga yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Disamping itu Tuhan telah memberikan sarana penunjuang lainnya al. air, matahari, udara, cuaca dan sebagainya yang diberikan secara cuma-cuma.

 

  • Nikmat kesehatan.

Kesehatan adalah segala-galanya bagi kelangsungan hidup manusia, hidup hampir-hampir tidak berarti jika kesehatan kita terganggu. Mungkin kita telah melupakan betapa berharganya nilai kesehatan bagi kita. Kesehatan secara umum telah diberikan kepada kita dalam waktu yang sangat panjang agar kita dapat menjalani kehidupan manusia secara normal. Namun kita kurang menyadari betapa berharganya kesehatan yang diberikan kepada kita. Apabila kita sakit kita akan menukarkan seluruh harta benda yang kita miliki untuk kesehatan,  demikian berharganya kesehatan yang telah kita nikmati.

 

  • Nikmat adanya petunjuk hidup melalui para nabi dan rosul.

Secara fisik manusia sebenarnya tidaklah berbeda dengan hewan, dari sudut hawa nafsu bahkan manusia lebih buas dari hewan. Kerusakan didaratan dan dilautan adalah akibat keserakahan manusia. Perjalanan hidup hewan hanya sebatas didunia saja sedangkan manusia hidup harus mempertanggung jawabkan kehidupannya diakhirat kelak. Keserakahan manusia pada umumnya bisa memnimbulkan bencana dimuka bumi.

Sekiranya tidak didatangkan petunjuk hidup yang diabawa para rosul, dapat dibayangkan betapa manusia akan menuruti hawa nafsunya yang demikian dahsyat, manusia bisa menjadi sangat buas dalam hidupnya. Satu manusia akan menjadi musuh bagi manusia lain, bahkan ancaman terhadap kerusakan alam semakin besar.

Selama hidup didunia manusia cenderung mengikuti nafsunya, dikhirat kelak manusia sebagai makhluk yang paling mulia harus mempertanggung jawabkan perbuatanNya. Sekiranya Tuhan tidak menurunkan petunjuk hidup dan hari pertanggung jawaban maka jelas manusia akan sengsara dialam dunia ini karena saling membunuh untuk kepentingan nafsunya. Diakhirat kelak manusia akan mendapatkan siksa yang pedih karena perbuatannya.

Demikian pentingnya petunjuk Tuhan yang dibawa para nabi dan rosul apabila dilaksanakan akan membawa seluruh manusia selamat dunia dan akhirat.

 

  • Nikmat Rizki

–   Ilmu

Bagaimana Tuhan telah mengajarkan berbagai pengetehuan kepada mansuia yang sebelumnya manusia tidak mengetahui, pengetahuan datang kepada manusia dengan berbagai cara, ada yang langsung melalui pengalaman hidup sejak kecil, ada yang melalui pendidikan sekolah, ada yang melalui ketrampilan bekerja dst. Kesemuanya itu diberikan Tuhan kepada manusia.

 

–   Harta

Harta benda yang kita miliki sebenarnya adalah pemberian Tuhan hanya sebatas titipan belaka yang harus dipergunakan sesuai dengan kehendakNya. Harta diberikan kepada manusia secara tidak merata ada yang lebih ada yang kurang. Tuhan mempunyai maksud tersendiri dengan perbedaan pemberianNya kepada setiap manusia baik berupa ilmu, harta, kesehatan dll.

 

–   Keluarga

Kita dapat merasakan bahwa manusia membutuhkan sebuah keluarga dalam hidupnya untuk menyambung keturunan, didalam keluarga terdapat kenikmatan tersendiri, disamping dalam rangka menyalurkan kebutuhan biologis, juga kebutuhan membentuk  komunitas kecil yang terdiri anak, ayah, ibu.

 

–   Hubungan sosial

Sebagai makhluk manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan komunitas manusia lainnya dalam rangka saling mengenal, saling memberi, saling membutuhkan satu sama lain. Dalam komunitas sosial ini manusia dapat hidup lebih maju dan berkembang dari hari kehari. Kemampuan, ilmu, potensi yang berbeda-beda menyebabkan komunitas sosial dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

 

Nimat kehidupan tersebut diatas adalah sebagian nikmat Tuhan yang diberikan kepada kita diantara nikmat lainnya yang tak terbilang jumlahnya. Jika kita renungi dengan sebenarnya nikmat-nikmat tersebut, maka tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak bersyukur kepada Tuhan. Namun demikian manusia dengan berbagai sifat buruknya sering banyak menuntut lebih banyak, manusia sangat sulit menerima perbedaan  dan mencari alasan untuk tidak bersyukur.

 

Pemberian Tuhan yang seharusnya disyukuri sering berubah menjadi masalah karena sifat iri pada saat melihat orang lain diberi lebih dari kita. baik dari segi perlengkapan tubuh, kesehatan, rizki, ilmu, harta, dll. Hawa nafsu manusia cenderung lebih banyak menutut dibanding dengan keharusan menerima dan mensyukuri yang telah diberikan.

Inilah masalahnya mengapa manusia sangat sulit untuk mensyukuri nikmat.

 

 

 

 

Beberapa hambatan bersyukur yang kita rasakan  al :

  • Peran iblis, syaiton yang akan selalu mengobarkan hawa nafsu yang akan memperbudak manusia.
  • Nafsu hewani yang menuntut secara terus menerus.
  • Prasangka buruk yang selalu menghantui fikiran.
  • Sifat iri, dengki, keinginan berlebihan, angan-angan, kesenangan, tuntutan kesejahteraan, terget materi, dll yang selalu timbul setiap saat.
  • Beban hidup yang harus dipenuhi menimbulkan tekanan pada jiwa.

 

Besarnya hambatan didalam diri manusia untuk dapat mensyukuri nikmat Tuhan hendaknya tidak mengurangi upaya kita dalam membentuk kepribadian yang akan menguntungkan diri kita sendiri didunia maupun diakhirat, kita perlu berjuang terus menerus mengusahakan akan syukur dapat menjadi bagian dari hidup kita.

 

Beberapa karakteristik yang perlu dimiliki seseorang dalam bersyukur al :

  • Kesadaran untuk menghargai dan menjunjung tinggi nikmat yang ada.
  • Tertanam dalam diri perasaan atau rasa berterima kasih kepada Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah SWT.
  • Tedapat rasa yang mendalam bahwa Sang Pemberi adalah yang sangat berjasa dalam hidup dan kehidupan ini. Kondisi jiwa ini akan menumbuhkan perasaan, kesadaran  dan sikap untuk mengabdi dan beribadah sepenuhnya kepada Sang Pemberi, Allah SWT.

 

Kepada siapa kita bersyukur dan berterima kasih dalam hidup ini ?.

Bersyukur akan menumbuhkan sikap berterima kasih kepada yang berjasa pada diri. Banyak orang yang tidak tahu kepada siapa harus berterima kasih, pada  umumnya terima kasih hanya kepada orang yang berjasa secara materi.

 

Secara lebih mendalam kita seharusnya berterima kasih kepada siapa saja yang telah berjasa terutama kepada  :

  • Kepada Allah. Bersyukur kepada Allah adalah mutlak, karena Dialah sumber segala sesuatu, Dialah yang menciptakan dan menjalankan kehidupan ini.
  • Kepada para Nabi dan Rosul dan para Shalihin. Sewajarnya kita bersyukur kepada beliau karena jasanya yang begitu besar kepada umat manusia yang membawa kita kedalam keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat.  Seandainya nabi dan rasul tidak ada, akan terjadi kerusakan moral dan kesengsaraan dunia akhirat. Hakikat kehidupan ini yang sebenarnya berdimensi dunia akhirat, masalah dunia tidak seluruhnya dapat diketahui oleh manusia apalagi akhirat apabila kita hanya mempergunakan akal saja. Perjuangan dan pengorbanan para Nabi dan Rosul sangat besar secara lahir bathin, kasih sayangnya dan pengorbanannya melebihi kasih sayang orang tua terhadap anak. Mereka tidak mengharapkan imbalan sedikitpun dari umatnya, yang diinginkan hanya keselamatan umat dunia akhirat.   Hanya petunjuk para Nabi dan Rasul yang dapat menyelamatkan dan membawa kesejahteraan manusia dunia akhirat.
  • Kepada Orang Tua, bagaimana jasa orang tua terhadap anaknya, yang telah melahirkan, membesarkan, membela, memberikan segalanya hanya untuk anaknya.
  • Kepada sesama manusia. Berterima kasih kepada manusia mudah difahami dan diketahui karena jasanya langsung dapat dirasakan saat itu juga.  Namun demikian banyak orang yang tidak tahu berterima kasih. Yang terlihat adalah kesalahannya saja tanpa melihat kebaikan dan jasanya.  Oleh karenanya kewajiban kita adalah merubah cara berfikir agar dapat menghargai dan berterima kasih kepada orang lain, salah satunya dengan cara melihat jasa dan kebaikannya, lupakan keburukannya.

 

Bagaimana cara menumbuhkan rasa syukur dalam diri ?.

Untuk meumbuhkan rasa syukur dalam diri salah satunya adalah dengan melakukan penyadaran terhadap diri dengan perenungan sbb.:

  • Menyadarkan diri bahwa nikmat-nikmat dikehidupan ini sedemikian banyak yang kita pakai dan nikmati, misalnya nikmat yang ada pada diri secara fisik berupa anggota tubuh, panca indera, kesehatan dan nikmat diluar diri berupa alam semesta, air, udara, matahari, binatang, tumbuhan dan banyak lagi, kesemuanya berguna dan bermanfaat bagi diri dan kehidupan ini. Jika nikmat tersebut diukur dengan materi jelas tak ternilai harganya.  Coba kita renungkan jika sesorang yang tidak mempunyai mata (buta), maka orang tersebut akan menilai jika dia diberi mata dan dapat melihat maka mata nilainya lebih besar dari apapun, dia hanya menginginkan mata, bagi dia kekayaan materi tidak ada artinya dibandingkan dengan mata.
  • Menyadarkan diri dan merenungkan hikmah yang dipetik pada saat mengalami musibah, hilangnya nikmat dalam diri, mungkin akan menggugah kita untuk mensyukuri nikmat tersebut. Kalau kita ditimpa musibah, kita segera ingat kepada Yang Memberi, pada saat itu kita berdo’a dengan sungguh-sungguh untuk diberi jalan keluar dari musibah. Namun apa yang terjadi jika kita berada dalam keadaan lapang, kita lupa pada Yang Memberi. Agama sangat menganjurkan agar kita banyak mengunjungi orang sakit, membantu penderitaan orang yang terkena musibah.
  • Kita perlu membandingkan dengan orang-orang yang kurang beruntung, misalnya orang yang cacat atau yang lebih susah dari diri kita, agar menyadari bahwa kita telah diberikan sesuatu yang sangat berharga dan kita sangat beruntung.
  • Bayangkan jika sekiranya kita dalam kesulitan hidup ditolong orang, diizinkan untuk tinggal bersama orang tersebut dalam satu rumah, pada saat kita sakit datang orang menjenguk sekaligus memberikan obat-obatan sampai sembuh, dibela orang pada saat tersiksa dan tak berdaya dan sebagainya. Hal ini untuk menumbuhkan rasa terima kasih, bagaimana berjasanya Tuhan memberikan kehidupan dan perlengkapan hidup, bagaimana nabi dan rosul menyelamatkan umatnya, bagaimana orang tua memberikan kasih sayang dan berjuang untuk diri kita dst.

 

Ciri-ciri orang yang bersyukur :

  • Merasa berterima kasih atas kehidupan ini kepada Allah, semua yang terjadi pada diri kita , orang lain dan semua makhluk adalah atas kehendak Allah semata.
  • Tuntutan terhadap kesenangan hidup sangat rendah.

 

 

  • Daya juang, kesabaran, konsistensi, istiqomah tinggi dalam hidupnya, motivasi hidupnya didasarkan pada rasa syukur terhadap nikmat Tuhan, maka pola hidupnya disesuaikan aturan Allah dan Rosul-Nya. Hal ini tumbuh karena kesadaran untuk berterima kasih kepada Allah dan kesadaran berbuat untuk Allah dan Rasul-Nya.
  • Ketaatan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan sesuai petunjuk Allah dan Rosul-Nya sangat tinggi.
  • Rasa sosialnya tinggi, karena merasa bahwa yang ada dan yang dia miliki adalah hanya pemberian Allah dan dapat merasakan penderitaan orang lain.
  • Adanya ketenangan berfikir dalam menghadapi kehidupan ini, karena kesibukan fikiran mengejar materi menurun. Keinginan dan harapan hanya sekedar yang diperlukan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
  • Memanfaatkan dan memelihara nikmat yang ada dengan baik secara proposional sesuai petunjuk Allah dan Rosul-Nya, Sadar bahwa pemberiaan Allah harus dijaga dan digunakan dengan benar, sehingga tidak timbul sikap yang boros atau membanggakan diri.
  • Lingkungan sekitarnya akan merasakan kedamaian. Sikap orang bersyukur akan memberikan ketentraman dalam keluarga dan lingkungan masyarakat, karena orang bersyukur jauh dari sifat iri dan dengki, kesadaran sosialnya sangat tinggi, dermawan dan suka membantu orang lain yang mengalami kesulitan, mereka sadar dan ingin berbuat yang terbaik untuk keluarga dan lingkungannya sesuai yang diperintahkan Allah dan Rosul-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebarkan kebaikan: