Materi dan Kajian Berkaca Diri – TAWAKKAL

TAWAKKAL

 

 

Setiap manusia pasti mempunyai kebutuhan hidup baik kebutuhan jasmani (fisik) yang berupa kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan, keamanan, aktifitas fisik, berpasangan, ilmu maupun kebutuhan rohani (jiwa) yang berupa kebutuhan akan kemerdekaan berpendapat, keselamatan akhirat dan kebutuhan akan penghambaan kepada Tuhan.

Kebutuhan manusia dapat juga dikelompokkan dalam cara memperolehnya yaitu kebutuhan yang hanya didapat dengan cara usaha atau pengorbanan misalnya kebutuhan akan makanan, minuman dll., serta kebutuhan yang dapat diperoleh dengan cuma-cuma (gratis) misalnya udara, cahaya dsb.

Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka akan terjadi masalah pada dirinya, terjadi keguncangan dan kegelisahan hidup. Misalkan dalam kehidupan keluarga, setiap anggota keluarga pasti membutuhkan kasih sayang, jika kasih sayang tersebut tidak dapat diperoleh oleh masing masing individu dalam keluarga, maka dalam keluarga tersebut pasti terjadi masalah dan akhirnya akan terjadi konflik dalam keluarga.

Kebutuhan manusia tersebut sangat banyak dan beragam dan setiap orang mempunyai kebutuhan yang berbeda, tergantung ukuran yang digunakan oleh setiap individu dalam memandang kebutuhan itu, hal ini terkait erat dengan cara pandang dan kedewasaan masing-masing individu. Ada seseorang yang merasa cukup dengan kondisi yang ada, menerima apa yang ada, namun bagi orang lain hal tersebut dirasa kurang sehingga selama hidup yang terpikir adalah bagaimana untuk memperoleh kebutuhan tersebut dan cenderung berlebihan, hal ini menimbulkan kegelisahan jika kebutuhan tidak terpenuhi.

Selain kebutuhan yang bersifat mendasar, setiap manusia juga mempunyai keinginan-keinginan dalam hidupnya dimana mereka selalu menginginkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya dari segala sisi kehidupannya setelah kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi. Suatu contoh misalkan seseorang membutuhkan kendaraan motor untuk bekerja atau untuk aktifitas sehari-haris, mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut, disini akan timbul kegelisahan atau kegoncangan setelah kebutuhan tersebut terpenuhi kegelisahan tersebut hilang, lama kelamaan seolah olah motor yang telah ada tersebut serasa tidak berarti, karena mereka menginginkan memiliki mobil dan seterusnya keingingan-keinginan tersebut tidak akan pernah berakhir dan selalu berkecamuk dalam benaknya, sehingga kegelisahan dan kegoncangan akan selalu timbul tenggelam hanya karena keinginan-keinginan yang sesaat bahkan tidak jarang keingingan tersebut tidak proporsional / tidak rasional.

Kegoncangan atau permalahan tersebut diatas timbul dan terjadi jika kebutuhan atau keinginan tidak terpenuhi atau berpotensi untuk tidak terpenuhi.  Dalam kondisi inilah akan jelas terlihat bahwa seseorang tersebut selama ini menggantungkan atau mensandarkan kebutuhan hidupnya kepada siapa.  Jika seseorang menggantungkan hidupnya (dalam memenuhi kebutuhan hidup) kepada Perusahaan, maka kegoncangan dan kegelisahan akan timbul dan menyiksa jika Perusahaan tempat bergantungnya bermasalah, misalnya bangkrut atau terjadi pengurangan tenaga kerja dsb, karena mereka menganggap dan meyakini bahwa Perusahaanlah yang memberikan rizki dan memenuhi segala kebutuhan hidupnya selama ini.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup lahir bathin seharusnya kita hanya bergantung kepada Allah SWT, jika tidak maka bersiaplah untuk kecewa, gelisah dan menderita, karena segala sesuatu selain Allah akan berubah dan hancur.

 

Sebagai bahan renungan marilah kita simak ilustrasi berikut ini :

Coba kita renungkan perjalanan hidup kita dari masa bayi hingga dewasa saat ini, pastilah masih jelas dalam ingatan kita sejarah ketergantungan hidup kita.  Ketika kita masih bayi atau anak-anak kita sangat bergantung bergantung kepada orang tua dalam segala hal dan tanggung jawab kita dilimpahkan sepenuhnya kepada orang tua, oleh karena itu hati kita akan senang, tenang dan tenteram jika orang tua masih ada dan bersama sama kita. Pada waktu orang tua tiada sedangkan segala kebutuhan hidup masih bergantung kepada orang tua, maka kegelisahan dan kegoncangan jiwa mulai timbul seolah olah masa depan kita telah berakhir. Semakin kita tumbuh dewasa semakin ketergantungan kepada orang tua berkurang yang pada akhirnya kita sama sekali tidak bergantung pada orang tua bahkan orang tualah yang menjadi tanggung jawab kita, namun demikian tempat kita bergantung telah bergeser dan berganti kepada sesuatu yang diyakini dan dirasakan dapat menjamin segala kebutuhan hidup kita yaitu misalnya Perusahaan tempat kita bekerja, gelar kesarjanaan, pangkat dan jabatan, kepandaian, simpanan kekayaan kita, deposito dan harta benda kita. Kita merasa tentram dengan memiliki hal-hal tersebut, perasaan kita meyakini hidup kita tidak akan kekurangan dan akan terjamin dengan adanya hal-hal tersebut, oleh karena itu kita cenderung mempertahankannya mati-matian. Kita lupa bahwa hal-hal tersebut akan dapat berubah, hilang, musnah dan binasa. Jika kondisi jiwa demikian maka dapat dipastikan kegelisahan, kekecewaan dan kehancuran juga akan menanti kita seiring dengan hilangnya, musnahnya, hancurnya hal-hal yang kita pergantungi tersebut. Oleh karena itu sadarkan diri kita, benahi cara berfikir kita bahwa hanya Allahlah tempat kita menggantungkan dan menyandarkan segala kebutuhan hidup kita, karena Allahlah yang menjadikan segala sesuatu, Allahlah sumber segala sesuatu, bergantunglah sepenuhnya kepada Pemilik segala sesuatu, bergantunglah kepada Yang Tidak Akan Pernah Hancur dialah Allah Azza wa Jalla.

Bentuk bentuk keguncangan dalam diri akibat salah dalam menggantungkan / menyandarkan diri (menggantungkan diri kepada selain Allah) antara lain adalah :

  • Sedih
  • Khawatir
  • Takut
  • Gelisah dsb.

Kondisi jiwa tersebut sedikitnya haruslah menjadi barometer bagi kita, bahwa jika rasa tersebut muncul dengan tidak proposional, berarti ada yang salah dalam diri kita. Kita perlu menelusuri dalam diri apa sumber dari perasaan seperti itu, mungkin kita masih bergantung kepada selain Allah, walaupun sedikit atau sebagian. Kita harus secepatnya merubah cara berfikir dan merubah ketergantungan kita dalam menjalankan kehidupan ini seluruhnya hanya kepada Allah. Jika hal tersebut dapat dilakukan niscaya kegoncangan jiwa yang berupa perasaan sedih, khawatir, takut, gelisah dsb akan hilang dengan sendirinya dan selanjutnya keyakinan sepenuhnya kepada Allah akan tumbuh yang menumbuhkan pula rasa / perasaan ceria, optimis serta perasaan mulia lainnya.

 

Model ketergantungan :

Segala kebutuhan hidup dan segala aspek kehidupan dari yang kecil maupun yang besar semuanya tanpa terkecuali, seharusnya hanya kita pergantungkan kepada Allah semata. Namun kenyataan yang terjadi pada diri adalah kita tidak bergantung sepenuhnya kepada Allah, mungkin hanya sebagian kecil dari kebutuhan hidup kita yang dirasa kita gantungkan kepada Allah, tetapi tanpa sadar sebagian besar kebutuhan hidup kita gantungkan kepada selain Allah.

Contoh yang sederhana adalah, pada saat kita atau salah satu keluarga kita sakit, perasaan kita yang dapat menyelamatkan atau menyembuhkannya adalah dokter atau rumah sakit kita tidak berfikir dan tidak yakin sedikitpun bahwa Allahlah yang menyembuhkan, sehingga jika telah dibawa ke dokter atau ke rumah sakit, perasaan kita jadi tenang, namun sebaliknya jika tidak ada dokter atau rumah sakit, hati dan perasaan kita gelisah tidak menentu, padahal kalau kita perhatikan banyak orang yang meninggal di rumah sakit, rumah sakit dan dokter bukan yang menyelamatkan kita, yang menentukan segalanya adalah Allah SWT, kita pergi ke rumah sakit atau dokter hanya semata-mata ikhtiar yang diperintahkan oleh Allah, hakikatnya bukan rumah sakit atau dokternya yang menyelamatkan.

Contoh lainnya adalah, kita telah bekerja untuk mencari nafkah di perusahaan selama puluhan tahun dan tanpa kita sadari hidup dan kehidupan kita telah kita pergantungkan kepada perusahaan atau atasan dimana kita bekerja. Hal ini dapat diketahui manakala terjadi masalah pada perusahaan tempat kita bekerja, atau atasan yang telah baik dan kita percaya dapat menjamin karir kita pindah atau meninggal, yang terjadi pada diri adalah kegelisahaan, ketakutan dan kekhawatiran akan masa depan kita, seolah olah yang mengatur dan yang memberi rizki adalah atasan atau perusahaan, kita lupa bahwa hanya Allahlah yang menjamin rizki dan kehidupan kita.

Dari contoh tersebut diatas dapat diambil pelajaran bahwa ketergantungan atau penyandaran diri hanya kepada Allah adalah untuk semua aspek kehidupan, seluruh kebutuhan hidup secara utuh dan kondisi ini harus dipertahankan apapun yang terjadi pada diri kita.

 

Kapankah kita harus bergantung kepada Allah ?

Ketergantungan kita kepada Allah dalam segala aspek kehidupan tersebut diatas hanya selama kita hidup didunia, pertanyaannya adalah apakah setelah kematian, badan kita hancur masih ada kebutuhan dan ketergantungan ?

Ketergantungan kita kepada Allah tidak hanya di dunia saja justru di akhirat kelak kehidupan sebenarnya yang kekal abadi, dan hanya kepada Allah kita akan bergantung, mohon pertolongan atas siksa akhirat yang maha dahsyat.  Ketergantungan kepada Allah tidak akan berhenti oleh kematian didunia bahkan sampai kehidupan diakhirat yang kekal abadi.

Aktifitas ketuhanan manusia tetap dari dunia hingga akhirat, oleh karenanya dapat dibayangkan betapa menderitanya kita di akhirat kelak jika saat ini pada saat kita hidup di dunia kita tidak bergantung kepada Allah, kita hanya bergantung pada manusia lain, makhluk lain serta benda-benda yang juga akan mati dan hancur. Selain itu banyak diantara kita yang selama hidup di dunia merasa sudah bergantung kepada Tuhan, tetapi pada kenyataannya bukan tuhan yang sebenarnya tapi tuhan menurut bayangan dan pemikiran dan dugaan mereka, sehingga dapat dibayangkan di akhirat kelak betapa dahsyat penderitaannya.

 

Sebab-sebab menggantungkan / menyandarkan pada sesuatu selain Allah.

  • Dianggap memiliki kemampuan, yaitu menganggap yang disandari benar-benar mampu dan bisa diharapkan, misalkan jika seseorang mempunyai teman atau anggota keluarga seorang pejabat atau seorang yang berkuasa atau berpengaruh, maka dalam hati dan perasaannya menjadi tenang karena mereka menganggap dia dapat menjamin kehidupannya atau dapat mengeluakan mereka dari kesulitan hidup di dunia.
  • Kebisaan turun temurun, kebiasaan dalam masyarakat dan keluarga yang menganggap sesuatu atau seseorang yang disandari memiliki kemampuan yang dapat mengeluarkan dari kesulitan hidup atau dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kebiasaan tersebut mendarah daging dan sulit untuk diubah. Seperti contoh diatas, pemikiran dan keyakinan tersebut akan diwariskan atau dicontoh dari generasi kegenerasi.
  • Sugesti, doktrin yang dibentuk secara terus menerus dalam masyarakat dan keluarga. Karena kebiasaan penyandaran diri yang salah tersebut diatas, dapat dibentuk dari doktrin, sugesti atau ajaran.  Contohnya adalah jika kita bekerja di perusahaan, terdapat doktrin-doktrin dari atasan atau teman sekerja sebagai berikut  “ Kalau anda tidak digaji, anda mau makan apa ?; perusahaan ini besar dan dapat menjamin kehidupan anda sampai 7 turunan “, dsb.
  • Ikut-ikutan, hal ini sering terjadi karena pengaruh lingkungan, masyarakat dan keluarga yang mempunyai kebiasaan, keyakinan dan pemahaman yang dipercara dan diyakini dan dipandang umum dan benar sehingga mengikuti tanpa mengkaji dan menghayati terlebih dahulu.

Akibat hal-hal tersebut diatas maka kita menggantungkan hidup dan kehidupan kepada selain Allah dan hal tersebut dilakukan dengan keyakinan. Sebaliknya, sebab timbulnya ketergantungan manusia adalah karena manusia diciptakan Allah sesuai kodratnya terdapat sbb.:

  • Kelemahan
  • Kekurangan
  • Keterbatasan
  • Ketidakmampuan
  • Ketidak sempurnaan

 

Keguncangan hidup terjadi antara lain karena :

Keguncangan hidup dapat terjadi dan disebabkan oleh berbagai hal yang sumbernya adalah karena yang dijadikan sandaran hidup selama ini tidak seperti yang diharapkan :

  • Sandaran-sandaran yang diyakini selama ini, kenyataannya tidak dapat diandalkan.
  • Adanya ancaman / potensi ancaman terhadap kesinambungan pemenuhan kebutuhan baik yang berupa fisik maupun psikis/jiwa antara lain yaitu :
    • Penghilangan nyawa, saat ini banyak orang kaya yang menyewa body guard atau semacamnya untuk melindungi diri dari kematian, namun apa yang terjadi orang tersebut tetap saja tidak dapat tenang dan kenyataannya hal tersebut tidak dapat menyelamatkan dari kematian.
    • Harta benda, sudah menjadi image dan keyakinan banyak orang bahwa harta benda dapat menenteramkan kehidupan sehingga kebanyakan orang memburu harta dan mempertahankannya secara berlebihan, sehingga mereka melakukan berbagai macam cara untuk mempertahakan sumber dan keberadaan harta tersebut. Kebanyakan orang berkeyakinan bahwa dengan harta benda yang banyak dapat menyelesaikan segala masalah di dunia ini, namun kenyataannya banyak orang-orang kaya yang bunuh diri, korupsi dsb.
    • Perusakan dan ancaman kesehatan baik fisik maupun psikis. Banyak orang yang meyakini kesehatan hanya ditentukan oleh diri dalam menjaga kesehatannya antara lain dalam gaya dan cara hidup, namun kenyataannya banyak yang orang yang menjaga kesehatan dengan baik tetapi tetap saja tidak dapat menolak diri dari sakit.
    • Kegelisahan dan kegoncangan dapat juga terjadi karena ancaman terhadap pemaksaan idealisme ataupun ancaman kehilangan idealisme tertentu. Banyak orang membentuk kelompok untuk mempertahankan idealisme, hal ini dilakukan salah satunya untuk mengatasi kegoncangan tersebut.
    • Sumber pencaharian, hal ini terkait erat dengan kebutuhan hidup berupa harta benda. Kegoncangan yang disebabkan ancaman terhadap sumber pencaharian saat ini paling banyak terjadi, misalkan seseorang akan mempertahankan pekerjaannya dikantor dengan menjilat atasan dsb., agar kegoncangan tersebut tidak terjadi.
    • Hubungan keluarga, persahabatan dsb. Umumnya orang akan takut hubungan keluarga dan persaudaraan terputus, hancur dan cenderung mempertahankan hanya karena tidak terganggunya hubungan tersebut, bukan karena Allah.

 

Proses perpindahan sandaran hidup :

Pada saat sesuatu yang digantungi / disandari tersebut kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, dalam arti tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup, tidak dapat mengeluarkan dari kesulitan hidup, tidak dapat menyelesaikan masalah, tidak dapat diandalkan, tidak dapat dan tidak sanggup menolong, atau tidak benar setelah dikaji.

Pada saat terjadi hal tersebut diatas yaitu saat yang dipergantungi atau yang disandari hilang, hancur, tidak berfungsi dan tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak sesuai dengan yang diyakini sebelumnya maka timbul kekosongan keyakinan, terjadi keguncangan jiwa, kegelisahan, kekhawatiran, kesedihan. Dalam kondisi ini seseorang akan mencari pemahaman, keyakinan  terhadap sandaran hidup yang baru.  Keyakinan kepada sandaran baru tersebut merupakan proses pembelajaran kesadaran kepada siapa seharusnya dia harus bergantung / bersandar.

Salah satu contoh misalnya jika seseorang selama ini menggantungkan diri pada perusahaan tempat dia bekerja kemudian perusahaan tersebut bangkrut, maka dia bimbang dan menudian sadar bahwa keyakinannya selama ini tidak benar, maka dia akan mencari sandaran hidup yang lain.

Jika terjadi kegoncangan tersebut banyak orang yang kembali menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah, karena merasa sudah tidak ada yang dapat menolongnya, namun apa yang terjadi setelah permasalahan hidup selesai, orang akan cenderung melupakan Allah dan tidak menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah, kembali menyandarkan diri kepada manusia, benda-benda.

Selain kondisi tersebut diatas, terjadi juga kondisi seseorang yang seluruh kebutuhannya terpenuhi, hal ini merupakan sarana ujian apakan orang tersebut masih bergantung kepada Allah.  Inilah yang disebut dengan hakikat cobaan dan musibah yaitu berfluktusasinya kondisi kebutuhan hidup tersebut.

 

 

 

 

 

Urutan ketergantungan / sandaran manusia :

 

  • Ketergantungan kepada orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup terutama pada seseorang yang belum dewasa (belum mempunyai penghasilan), misalnya air susu ibu pada balita, kebutuhan penyediaan makanan, biaya sekolah dsb.
  • Ketergantungan kepada sumber penghasilan yang dianggap menjamin kebutuhan hidup berupa profesi, usaha, pekerjaan, kantor, organisasi, negara dll.
  • Ketergantungan kepada orang tertentu karena dianggap mempunyai kemampuan untuk menjamin hidupnya atau karena butuh, karena mencintai, karena suami, istri, anak atau saudara.
  • Ketergantungan kepada benda berupa uang, harta, deposito, senjata dsb.
  • Ketergantungan kepada jabatan, menganggap bahwa jabatanlah yang dapat mempuat hidup makmur dan tenteram, sehingga tidak jarang memperolehnya dan mempertahankannya dengan berlebihan dan dengan cara yang dilarang Allah.
  • Ketergantungan kepada obat, misalnya kepada penderita penyakit atau kepada pecandu narkoba dsb.
  • Ketergantungan kepada kebiasaan, yang susah dan tidak mau diubah karena kebisaan tersebut telah membentuk karakter.
  • Ketergantungan kepada sosial lingkungan dsb.

 

Unsur-unsur tawakkal :

Tawakkal adalah penyandaran atau ketergantungan sepenuhnya hanya kepada Allah. Seperti yang telah diterangkan dalam Al Qur’an bahwa hasil orang bertawakkal adalah seseorang tersebut hatinya akan tenang hanya mengingat Allah dan jika terjadi cobaan atau guncangan hidup dia tetap sabar, istiqomah dan tawakkal.  Orang yang bertawakkal dapat mengatasi kecemasan, keguncangan jiwa dll., sehingga rasa cemas, takut, sedih tersebut tidak membuat seseorang tersebut lupa Allah atau tidak membuat seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah, bahkan kondisi cemas, takut, sedih tersebut akan membuat orang yang bertawakkal semakin dekat kepada Allah dan hal tersebut menjadi pelajaran dan hikmah. Tawakkal merupakan kondisi jiwa yang harus kita bentuk dalam diri secara terus menerus.

 

Unsur-unsur tawakkal adalah :

  • Adanya kecenderungan bathin hanya kepada Allah.
  • Adanya yang disandari atau dipergantungi yaitu hanya Allah.
  • Adanya kondisi atau rasa bersandar, bergantung dan berharap atas seluruh aspek kehidupan.
  • Mempercayakan sepenuhnya kepada yang disandari yaitu Allah.
  • Jangka waktunya tak terbatas, hidup hingga mati, dunia sampai akhirat.

 

Salah satu cara menumbuhkan tawakkal adalah mengerjakan dengan sungguh-sungguh syariat yang diajarkan Rasul.

Sebarkan kebaikan: