Sombong

Himpunan Masyarakat Peduli Akhlak

( H I M A P A )

Perumahan Harapan Jaya Blok B 276

Bekasi Utara

Kajian hari Sabtu tanggal  16.02.2002

SOMBONG

 

Sejak kecil kita sudah mengenal kata sombong, kata ini merupakan ungkapan kepada seseorang yang kurang baik sikapnya. Hampir semua orang tidak suka kepada orang yang memiliki sifat sombong, sekalipun dia sendiri adalah orang yang sombong.

Kita sering mendengar orang tua menasehati anaknya agar kelak jika sudah besar tidak menjadi orang yang sombong, para ruhaniawanpun sering memberikan nasehat kepada umatnya agar menjauhi rasa sombong karena kesombongan adalah suatu sikap yang tidak terpuji dan akan menyebabkan manusia tidak disukai manusia lainnya.

Namun demikian sekalipun kita semua tidak menyukai kesombongan, ternyata perasaan sombong didalam diri sering muncul tanpa disadari dengan berbagai jenis dan bentuknya mulai dari kesombongan halus sampai dengan kesombongan yang sangat nyata.

Seorang dengan bangganya mengatakan bahwa saya adalah penguasa didaerah ini semua orang takut kepadanya, dia selalu membusungkan dada dihadapan orang lain seolah-olah dialah yang paling hebat, semua orang kecil dihadapannya tak ada orang yang lebih baik dari dia.

Seorang murid sekolah merasa besar kepala, sangat kagum pada dirinya sendiri manakala dia menjadi juara dikelasnya, seolah-olah tidak akan ada orang lain yang lebih baik dari dia, semua kawan-kawannya dianggap kecil, lebih rendah dari dirinya. Karena kehebatannya dia tidak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak pandai, dia selalu menghargai orang-orang yang pintar dan menganggap kecil teman-teman yang nilainya rendah.

Berbeda dengan kejadian di lingkungan Rukun Tetangga, ada gunjingan para tetangga yang sangat tidak suka kepada sebuah keluarga di lingkungannya yang hidup menyendiri, tidak mau bergaul dengan tetangga lainnya karena merasa dia adalah keturunan darah biru, keturunan raden, merasa lebih kaya, lebih pandai dari orang lain, dan dia hanya akan bergaul dengan manusia yang sederajat dengannya.

Dikantor juga terjadi ketidak sukaan orang kepada rekan kerjanya karena merasa diremehkan, direndahkan, sehingga lingkungan kerjanya selalu menjauhi orang yang sombong ini karena ia merasa hebat sendiri. Para pejabat membusungkan dada karena merasa dirinya lebih tinggi kedudukannya dari yang lain, teman-teman lain dianggap tidak ada, dia ingin selalu dihormati, disanjung, dilayani, tak satupun manusia dalam pandangannya sejajar dengan dia, hanya dia yang paling tinggi.

Penyakit kesembongan juga sering melanda para ulama, ruhaniwan, yang menganggap dirinya paling tahu agama, merasa lebih, semua manusia dianggapnya murid dan bodoh, jika dikritik marah, diberi saran tidak didengar, jika diingatkan selalu membela diri seolah-olah hanya dirinya saja yang benar. Kita menyaksikan berapa banyak orang yang merasa dirinya pintar sendiri, benar sendiri tidak dapat menerima masukan dari orang lain, sikap ini sering-menimbulkan permusuhan dikalangan para ulama sendiri, bahkan dapat mempengaruhi umatnya untuk saling bermusuhan satu sama lain.

Karena kesombongan para ulama, umat menjadi terpecah belah, mudah diadu domba, kondisi umat semakin hari akan semakin hancur. Musyawarah para ulama tidak membuahkan hasil, bahkan bisa menimbulkan pertentangan baru. Ukhuwah dan persatuan yang selalu digembar-gemborkan hanya sebatas retorika yang terjadi justru sebaliknya.

Demikian gambaran selintas bagaimana kesombongan terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari yang akibat buruknya harus diterima.

Kisah-kisah diatas merupakan bagian dari keadaan yang kita dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya hampir setiap orang tidak suka dengan sikap sombong.

Jika kita renungkan lebih jauh mengapa setiap manusia tidak suka bergaul dengan orang yang sombong. Tuhan telah menganugerahkan kepada manusia berbagai sifat buruk dan baik secara alami. Manusia bisa mengambil pelajaran didalamnya tentang keuntungan dan kerugian dari sifat sombong ini.

Ada kesombongan yang sangat menyakitkan hati dan merugikan manusia pada kehidupan ini, utamanya bila kesombongan menguasai diri seroang panguasa, misalnya raja, presiden, dll. Kesombongan pada orang yang demikian ini akan melahirkan berbagai penderitaan dikalangan rakyatnya, kerugian kemanusiaan akan sangat besar terjadi karena pemerintah sangat otoriter, kejam, keras, dll. Hal ini diabadikan dalam sejarah pemerintahan masa lalu yang dikenal dengan raja Fir’aun yang sempat menyatakan dirinya sebagai Tuhan.

Jika kita kaji lebih lanjut ternyata kesombongan lebih banyak merugikan dan membahayakan manusia itu sendiri dibanding dengan keuntungan yang akan diperolehnya.

 

Beberapa kerugian yang akan kita rasakan apabila kesombongan menguasai diri kita :

  • Orang sombong tidak disukai orang lain karena orang menginginkan dirinya dihargai oleh orang lain maka jika bergaul dengan orang yang tidak menghargai pasti akan timbul perasaan tidak suka. Seandainyapun dia berusaha menyukai kita, pasti karena ada kepentingan yang lain dibalik itu misalnya karena takut, membutuhkan hartanya, ingin jabatan, dll.
  • Orang sombong cenderung menjadi bodoh karena merasa benar sendiri, paling hebat sehingga tidak menerima masukan dari orang lain, sulit mendapatkan ilmu yang lebih dari yang dimilikinya karena gengsi belajar dari orang lain.
  • Orang lain yang tidak suka dengan kesombongan cenderung mengancam akan menghalangi setiap kebaikan, keberuntungan orang sombong, sehingga kesuksesan banyak mengalami hambatan.
  • Lingkungan cenderung tidak perduli terhadap orang yang sombong terumata jika orang sombong tersebut suatu saat terkena musibah yang membutuhkan pertolongan lingkungannya.
  • Jika kesombongan melekat pada diri seorang pemimpin, pejabat, maka akan banyak korban dipihak rakyatnya.
  • Jika kesombongan menguasai diri para ulama, ruhaniawan, maka umatnya akan mudah terpecah belah, egoisme golongan, egoisme mazhab, egoisme guru dlll.

 

Uraian diatas memberikan gambaran kepada kita tentang kesombongan dan kerugiannya yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Kesombongan yang kita rasakan tersebut dapat dipahami oleh sebagian besar masyarakat kita.

 

Selanjutnya bagaimana kita dapat memahami makna kesombongan berdasarkan pandangan Al Qur’an, marilah kita renungkan ayat-ayat Al Qur’an sbb. :

 

2 : 34, 87 (Al Baqoroh)

34 :   Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat : “ Sujudlah kamu kepada Adam “, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk orang-orang kafir.

87 :   Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Quddus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pejalaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri, maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh ?.

 

4 : 36, 173 ( An Nisaa’)

36 :   Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada orang tua ibu bapa, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga banggakan diri.

173 : Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari padan Allah.

 

 

7 : 36, 40, 48, 75, 76, 88, 133 ( Al A’raaf)

36 :   Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.

40 :   Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-sekali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk syurga hingga  onta masuk ke lobang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.

48 :   Dan orang-orang diatas A’Raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan : “ Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu “.

75 :   Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri diantara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman diantara mereka : “ Tahukah kamu bahwa Shaleh diutus (menjadi Rasul) oleh Tuhannya ?”, mereka menjawab : ” Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya “.

76 :   Orang-orang yang menyombongkan diri berkata : “ Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu “.

88 :   Pemuka-pemuka dari kaum Syu’aib yang menyombongkan diri berkata : “ Sesunggunya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami atau kamu kembali kepada agama kami “, berkata Syu’aib : “ Dan apakah (kamu akan mengusir kami) kendatipun kami tidak menyukainya ?”.

133:  Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

 

10 : 75 (Yunus)

Kemudian sesudah Rasul-Rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mu’jizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

 

9 : 514 : 21 (Ibrahim)

Dan mereka semuanya (di Padang Masyar) akan berkumpul menghadap hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong : “ Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari pada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja ?” , mereka menjawab : “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu, sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”.

 

 

17 : 37, 83 (Al Israa’)

37 :   Dan janganlan kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi, dan sekalil-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

83 :   Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya berpalinglah dia dan membelakang dengan sikap yang sombong dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputusasa.

 

23 :  46 (Al Mu’minun)

Kepada Fir’aun dan pembesar-pembesar kaumnya, maka mereka ini takabur dan mereka adalah orang-orang yang sombong.

 

  • : 21 (Al Furqon)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuannya dengan Kami :

“Mengapakah tidak diturunkan kepada kami Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita? “, sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kedzaliman).

 

28 : 39 (Al Qashash)

Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di Bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.

 

29 : 39 (Al Ankabut)

Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman, dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di Bumi dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu).

 

31 : 18 (Luqman)

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka Bumi dengan angkuh.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 

34 : 31-33 (Saba’)

31 :   Dan orang-orang yang kafir berkata : “ Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Qur’an dan tidak pula kitab yang sebelumnya “, Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri : “ Kalau tidaklah karena kamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.

32 :   Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah : “ Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu ? (tidak), sesungguhnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.

 

33 :   Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri : “ (Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) diwaktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagiNya”.   Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab.  Dan Kami pasang belenggu dileher orang-orang yang kafir, mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.

 

38 : 2, 74, 75 (Shaad)

2   :   Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.

74 :   Kecuali Iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.

75 :   Allah berfirman :” Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku ciptakan dengan kedua tangan Ku.  Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi ?”.

 

40 : 47, 48, 56 (Al Mu’min)

47 :   Dan (ingatlah) ketika mereka berbantah bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri , “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka ?”.

48 :   Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab : “ Sesungguhnya kita semua sama sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hambaNya”.

56 :   Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan Allah, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

 

41 : 15, 38 (Fushilat)

15 :   Adapun kaum Ad, maka mereka menyombongkan diri dimuka Bumi tanpa alasan yang benar dan berkata :” Siapakah yang lebih sangat kekuatannya dari kami ?”.  Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih sangat kekuatanNya dari mereka ?. Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.

38 :   Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang disisi Tuhanmu bertasbih kepada Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.

 

45 : 31 (Al Jaatsiyah)

Dan adapun orang-orang kafir (kepada mereka dikatakan) :” Maka apakah belum ada ayat-ayat Ku yang dibacakan kepada Mu, lalu kamu menyombongkan diri dan kamu jadi kaum yang berbuat dosa “.

 

46 : 10, 20 (Al Ahqaf)

10 :   Katakanlah : “ Terangkanlah kepadaku bagaimana pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dai Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri.  Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalin “.

20 :   Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke Neraka (kepada mereka dikatakan) :” Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah  menyombongkan diri di muka Bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik “.

 

71 : 7 (Nuh)

Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.

 

74 : 23 (Al Muddatstsir)

Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri.

 

57 : 23 (Al Hadiid)

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

 

96 : 6, 7 (Al Alaq)

6 :     Ketahuilah sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.

7 :     Karena dia melihat dirinya serba cukup.

 

16 : 22-24 (An Nahl)

22 :   Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka orang-orang yang tidak beriman kepada Akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah) sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

23 :   Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.

24 :   Dan apabila dikatakan kepada mereka :” Apakah yang telah diturunkan  Tuhanmu ? ”  mereka menjawab : ” Dongeng-dongengan orang orang dahulu “.

 

 

 

31 : 7 (Luqman)

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat ditelinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.

 

80 : 5 (‘Abasa)

Adapun orang-orang yang merasa dirinya serba cukup.

 

9 : 25 ( At Taubah)

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’min) di medan peperangan yang banyak dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat sedikitpun dan Bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai berai.

 

Kesombongan yang dijelaskan dalam alqur’an mengandung makna yang lebih luas dibanding kesombongan yang difahami masyarakat awam pada umumnya.

Makna kesombongan yang tersirat dalam al qur’an untuk dikaji bersama sbb :

  • Dari kata-kata sombong juga berarti takabbur, merasa cukup, memandang besar diri sendiri, angkuh dsb.
  • Dari aspek keyakinan sombong berarti kafir, fasik, zalim, berdosa.
  • Dari esensinya sombong berarti menolak, tidak mengindahkan, meremehkan keimanan kepada Allah, Rosul-Rosul-Nya, kitab-kitab-Nya.
  • Terhadap sesama manusia kesombongan juga terjadi kepada orang tua, karib-kerabat, anak yatim, tetangga, teman sejawat, ibnu sabil, hamba sahaya.
  • Dari makhluk yang menjadi panutan kesombongan yaitu Iblis dan Fir’aun.
  • Dari sudut akibat, kesombongan akan mendapatkan hukuman bencana taufan, kutu, katak, darah, dan diakhirat menerima siksaan yang pedih di neraka yang kekal abadi.

 

Al Qur’an telah memberikan gambaran kepada kita mengenai kesombongan untuk dapat kita fahami bersama, beberapa kriteria yang telah dijelaskan perlu kita ambil makna hakikinya agar dapat kita jadikan bahan renungan.

 

Bebarapa hal yang harus kita waspadai apakah kesombongan itu menguasai diri kita ?, kita harus memahami secara utuh tanda-tanda kesombongan yang membawa  keburukan dan bahaya yaitu :

  • Kesombongan terhadap ajaran agama adalah sebuah sikap yang diawali dari perasaan, pemikiran didalam diri berupa kecenderungan untuk menolak, meremehkan dan tidak mengindahkan Allah, Rosul-Rosul dan Kitab-Kitab-Nya. Apabila kita mengikuti perasaan dan fikiran seperti ini maka kita tergolong kafir dan fasik.
  • Salah satu kesombongan halus terhadap Allah yaitu apabila kita enggan atau tidak mau  ber do’a, merasa tidak berdosa kepada Allah sehingga sulit sekali memohon ampun.
  • Kesombongan terhadap sesama manusia adalah sebuah perasaan, fikiran yang merasa lebih besar, lebih mulia dari manusia lainnya dalam hal kedudukan, harta, ilmu, kesempurnaan bentuk fisik, kekuasaan, mental dll, sehingga menimbulkan sikap meremehkan dan merendahkan orang lain.
  • Dalam hubungan sosial biasanya tidak mau menghargai pendapat orang lain, merasa benar sendiri, merasa tidak pernah bersalah terhadap orang lain, ingin selalu didengar dan diikuti oleh orang lain.

 

Sumber kesombongan :

Sumber kesombongan berasal dari dalam diri yang dihembuskan oleh iblis, syaiton, diikuti oleh berbagai perasaan nafsu yang buruk. Selain dari pada itu sumber kesombongan juga berasal dari lingkungan, orang-orang disekitar kita yang selalu mempengaruhi agar kita turut menjadi sombong.

Apabila kesombongan sudah menjadi tabiat lingkungan sekitar kita dan sudah menjadi budaya, maka hal ini akan sangat mempengaruhi diri kita. Kesombongan- yang telah membudaya akan sangat sulit diperbaiki karena manusia disekelilingnya merasa hidup wajar dan merasa sudah baik. Mereka tidak sadar bahwa pada dirinya telah dikuasai penyakit hati yang berat berupa kesombongan namun mereka tidak dapat menerimanya, seperti orang yang menderita sakit jiwa, jika ditanya tentang penyakitnya mereka menjawab “ saya tidak sakit “.

Tidak semua orang dapat mengetahui kesombongan pada dirinya, bahkan ada sebagian orang telah menjadikan kesombongan sebagai bagian dari dirinya sendiri maupun lingkungan masyarakatnya, rasa sombong telah menjadi hal yang biasa dan budaya yang tidak dianggap sesuatu hal yang buruk.

 

Macam-macam Kesombongan :

Kita perlu mengkaji lebih lanjut masalah kesombongan agar dapat difahami secara lebih luas termasuk berbagai gejala yang terjadi pada diri kita agar kita dapat mengantisipasi sejak dini.

Pemahaman terhadap kesombongan dan gejala-gejalanya sangat perlu pelajari  untuk mempermudah kita agar dapat mencegah sedapat mungkin sekaligus mengadakan perubahan menuju sifat-sifat yang baik.

Kesombongan dan gejala-gejalanya dapat kita simpulkan dalam beberapa macam antara lain :

  1. Kesombongan kepada Allah.

Kesombongan kepada Allah merupakan sumber dari segala kesombongan, secara jelas dalam Al Qur’an diistilahkan kafir, fasik, hal ini terjadi pada saat para nabi dan rosul menyampaikan kebenaran kitab-kitab-Nya, wahyu-Nya, kemudian ditolak oleh sebagian masyarakat saat itu. Kesombongan jenis ini sampai sekarangpun masih banyak menguasai diri manusia. Manusia secara tegas menolak ajaran agama islam, meremehkan dan mereka lebih mengagungkan kitab atau pemikiran lainnya.

Jika kesombongan hanya dilihat dari sudut pandang penolakan terhadap Allah, kitab, rosul, maka umat islam tidak termasuk dalam kesombongan jenis  ini.

Namun jika kita teliti lebih lanjut sebagai seorang muslim apakah benar kita sudah terbebas dari kesombongan terhadap Allah, hal ini sulit diketahui karena kita merasa sudah beriman, yang didukung oleh lingkungan dan budaya kita.

Sekiranya kita ingin memahami lebih dalam tentang kesombongan kepada Allah tentunya kita harus mengkaji gejala-gejala yang ada didalam diri kita terutama sikap bathin terhadap Allah.

Beberapa pertanyaan yang harus kita ungkapkan kepada diri sendiri diantaranya :

Apakah iman kita kepada Allah sudah benar ?

Apakah kita benar-benar memenuhi perintah Allah ?

Apakah kita benar-benar merasakan keberadaan Allah ?

Apakah kita benar-benar memahami ke Maha Besaran Allah ?

Apakah kita benar-benar merasakan keberadaan Allah ?

Apakah kita sungguh-sungguh ingin berjumpa dengan Allah ?

Apakah kita merasakan peranan Allah dalam kehidupan ?

Apakah ada kerinduan dihati kepada Allah ?

Apakah kita telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup, tempat menghambakan diri, meminta pertolongan ?

 

Jika kita dapat menjawab pertanyaan dengan kata Ya maka sedikit banyak kesombongan terhadap Allah setidaknya sangat sedikit. Namun jika kita menjawab tidak atau belum berarti kesombongan kepada Allah sangat menguasai diri kita, maka kita perlu belajar lebih banyak agar dapat mengurangi kesombongan.

Kesombongan kepada Allah seperti ini sangat halus dan sulit diketahui orang awam, kita merasa sudah beriman, sudah muslim tetapi sebenarnya keimanan dan keislaman yang sesungguhnya masih jauh dari diri kita.

Kesombongan kepada Allah merupakan kondisi bathin dan perasaan yang cukup sulit diketahui, jika kita ingin lebih jauh memahami makna kesombongan terhadap Allah marilah kita perhatikan diri kita setiap saat dalam berbagai kondisi dan situasi pada kehidupan ini.

Kesombongan kepada Allah dalam arti menolak Allah dan Rosul-Nya dalam kehidupan ini merupakan kesombongan yang jelas, sedangkan yang lebih halus dari pada itu adalah menyepelekan Allah, tidak menganggap Allah, meremehkan Allah, tidak sungguh-sungguh kepada Allah, tidak serius kepada Allah dst.

Kita dapat mengukurnya pada saat melaksanakan sholat, pada hakikatnya sholat adalah suatu cara yang diajarkan Allah kepada manusia untuk menghadapkan diri secara ritual baik lahir maupun bathin kepada Allah. Pada saat sholat kita berhadapan dengan Yang Maha Besar, Maha Agung. Maha Mulia, Maha Suci, Maha Menentukan, Maha Raja.

 

 

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah benar kita bersujud lahir bathin pada saat sholat. Apakah benar kita merasakan berhadapan dengan yang serba Maha. Coba bandingkan jika kita berhadapan dengan atasan, pejabat, presiden atau orang berkuasa.

Jika tidak atau belum benar dalam sholat maka berarti kadar kesombongan kita masih besar atau dengan kata lain kekafiran didalam diri kita masih besar, bersegaralah bertobat.

Pada umunya kita sholat hanya ala kadarnya untuk menggugurkan kewajiban, badan kita sholat tetapi hati dan perasaan kita keluyuran kemana-mana, perasaan bathin hanya tertuju kepada hal-hal yang bersifat bendawi, Tuhan Yang Maha Melihat diacuhkan, diremehkan, tidak diindahkan oleh  kita sendiri.

Kesombongan halus kepada Allah terjadi didalam diri kita antara lain disebabkan :

  • Keyakinan kepada Allah sangat lemah, Allah hanya difahami sebagai Pencipta dan setelah itu tidak ada hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya, sehingga kita merasakan segala sesuatu terputus dengan Allah. Segala sesuatu bekerja dan berjalan sendiri secara alami tanpa campur tangan Allah, kita tidak merasakan peran Allah dalam- hidup dan kehidupan. Dengan demikian kita tidak terlalu membutuhkan Allah dalam hidup. Pada kondisi ini kita terjebak dalam- hukum sebab akibat yang sempit, sehingga segala yang terjadi adalah mutlak disebabkan usaha atau kejadian sebelumnya yang mendahuluinya.
  • Kita merasa cukup, merasa besar, merasa hebat, tidak memerlukan pertolongan Allah, segala sesuatu pada diri dan dunia ini sudah cukup untuk menghadapi kehidupan.

 

Akibat kesombongan kepada Allah yang melekat dalam diri kita,  menyebabkan munculnya berbagai sifat buruk yang lain :

  1. Tidak merasakan bahwa rizki yang diperoleh berasal dari pemberian Allah, kita menganggap bahwa rizki yang ada hasil kerja keras, karena kehebatan dan kepandaian kita atau pemberian manusia lain.
  2. Yang dianggap pemberi adalah manusia maka timbul sikap lebih patuh, tunduk dan lebih mengutamakan manusia yang dianggap berjasa dibandingkan Allah, kemudian timbul sikap mempertuhankan manusia.
  3. Muncul pula sikap menjilat kepada atasan atau orang yang dianggap dapat memberikan materi atau pangkat.
  4. Sikap kikir akan mengiringi, karena menganggap rizki tidak datang dari Allah tetapi hasil susah payah diri sendiri. Rizki akan berkurang jika diinfakkan atau digunakan untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
  5. Nikmat dari Allah tidak terasa, sehingga rasa bersyukur & berterima kasih kepada Allah tidak ada.
  6. Tidak bersungguh sungguh untuk taat kepada Allah dan tidak bersungguh sungguh dalam mengenal Allah.
  7. Tidak khusu’ dalam beribadah (sholat). Sholat hanya untuk menggugurkan kewajiban semata.
  8. Tidak percaya atau tidak yakin akan kehidupan ghaib

 

  1. Kesombongan terhadap para Nabi dan Rosul.

 

Kita telah mendengar dan membaca sejarah bahwa kehadiran para Nabi dan Rosul kedunia ini adalah utusan Tuhan yang membawa misi memperbaiki akhlak manusia, Nabi dan Rosul datang pada setiap periode tertentu dimana pada saat itu dibutuhkan seorang manusia yang mampu membimbing manusia agar hidup dijalan yang lurus.

Kehadiran para Rosul kedunia ini tidak sepenuhnya mendapat sambutan yang baik, bahkan sering kali para Nabi dan Rosul mendapatkan sambutan yang sangat menyakitkan, dalam banyak kejadian sebagian Nabi dikejar untuk dibunuh.

Kejadian yang digambarkan dalam sejarah masa lalu dan seterusnya juga dialami oleh Muhammad Rosulullah sebagai Nabi dan Rosul terakhir. Pada awalnya manusia tidak dapat menerima kehadiran Rosulullah karena manusia merasa  ajaran yang ada saat itu adalah ajaran yang benar, sedangkan ajaran- yang dibawa Muhammad tidak sejalan dengan ajaran nenek moyangnya. Mereka merasa kebenaran hanya dimilikinya sendiri, tak ada yang lain yang benar, mereka tidak mau menerima masukan dari yang lain sekalipun masukan itu adalah kebenaran sejati.

Penolakan terhadap kehadiran nabi Muhammad bukan saja terjadi pada masa lalu tetapi hingga saat ini sebagian besar masyarakat dunia masih menolak ajaran Muhammad sebagai agama yang benar.

Dikalangan umat islam sendiri masih banyak yang menolak ajaran Nabi Muhammad untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, ada penolakan secara terang-terangan, ada penolakan secara halus, ada penolakan sebagian, ada penolakan yang tidak disadari.

Penolakan terhadap kehadiran para Nabi dan Rosul ini sebagai sebuah cermin bahwa didalam dirinya ada sebuah perasaan tidak mau menerima karena merasa dirinya lebih baik dan merasa cukup dengan prinsip hidup yang dianutnya. Merasa diri lebih baik atau ajaran yang dianutnya masih lebih baik dari para Rosul, sebenarnya prinsip inilah yang dikatakan menyombongkan diri.

Kita sebagai orang awam hanya melihat bahwa seseorang yang sombong kepada Nabi dan Rosul adalah orang yang menolak secara terang-terangan kehadirannya, atau menolak masuk agama para Rosul. Sedangkan apabila kita sudah memeluk agama para Rosul kita sudah menganggap diri kita orang yang baik.

Jika dilihat secara apa adanya mungkin orang yang sudah masuk islam, membaca syahadat dianggap sudah patuh dan taat kepada Rosul dan dinyatakan sebagai orang muslim.

Namun jika kita meneliti lebih jauh, banyak terjadi seorang muslim menolak, mengabaikan, meremehkan, melalaikan perintah menjalankan syariat islam. Mereka cenederung menjadikan agama hanya sebagai sebutan, agama untuk penyesuaian diri dengan lingkungan, agama karena keturunan dll. Sedangkan pedoman dan prinsip hidupnya sehari-hari yang diterapkan tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad S.A.W.

Karena itulah kita perlu melihat apakah kesombongan kepada para Nabi dan Rosul juga terjadi pada diri kita dan keluarga kita. Kita perlu merenung lebih dalam dengan sebenarnya apakah didalam hati, perasaan kita ada penolakan terhadap para Nabi dan Rosul, apakah kita menganggap para Nabi dan Rosul lebih rendah dari orang-orang besar, lebih rendah dari diri kita.

Beberapa ciri adanya kesombongan kepada para nabi dan rosul al :

  1. Merasa lebih hebat dan lebih pintar dari para Nabi dan Rosul.

Adanya perasaan bahwa para Nabi dan Rosul adalah manusia tradisional yang tingkat kecerdasannya tidak lebih tinggi dari kita, sehingga kita lebih menghargai logika dan kekuatan akal fikir sendiri. Atau berada dibawah para pembesar, pemikir, ilmuwan modern yang ada sekarang ini.

  1. Ajaran para Nabi dan Rosul dianggap ajaran yang biasa dan tidak penting, sehingga tidak tertarik mempelajarinya, kita lebih tertarik untuk mempelajari ilmu-ilmu duniawi yang dianggap memberikan keuntungan- langsung secara materi. Kita tidak tertarik untuk mempelajari dan mengenal siapa Nabi & Rosul dan ajarannya.
  2. Kita tidak dapat merasakan betapa besarnya jasa para Nabi & Rosul bagi diri kita, karena ajarannya telah sampai kepada kita dengan perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar.
  3. Kita lebih yakin kepada pendapat para imam & fatwa-fatwa atau filsafat orang orang terkenal dibandingkan dengan ajaran para Nabi & Rosul.
  4. Sikap, perilaku dan akhlaq tidak mencontoh para Nabi & Rosul, yang dicontoh adalah akhlaq orang lain dalam menjalankan hidup dan kehidupan.

 

  1. Kesombongan terhadap Al Qur’an.

 

Orang lain selain ummat islam jelas  mereka  bersikap  sombong  terhadap Al-Qur’an kartena Al Qur’an dianggap tidak memiliki pelajaran yang berharga,  jelas sikap mereka adalah pasti menolak Al Qur’an apabila dijadikan sebagai pegangan hidup.  Namun dikalangan ummat islam sendiri tidak sedikit yang menolak Al Qur’an dalam artian yang sebenarnya, namun penolakannya bersifat halus dengan cara meremehkan, mencemooh, melalaikan, tidak perduli, dst.

 

Beberapa tanda-tanda orang yang sombong terhadap Al Qur’an antara lain :

  1. Tidak tertarik mempelajari dan memahami ilmu Al Qur’an akan tetapi lebih tertarik dan mengejar ilmu-ilmu dunia (misal : Ilmu Ekonomi, Teknik dsb.) karena menganggap ilmu-ilmu dunia tersebut lebih bermanfaat secara langsung dalam hidup dan kehidupan.
  2. Tidak menjadikan Al Qur’an sebagai rujukan dan pedoman dalam menjalani kehidupan.
  3. Menganggap Al Qur’an sebagai bacaan biasa, tidak dapat merasakan bahwa Al Qur’an adalah wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Muhammad Rosulullah.
  4. Merasa lebih hebat untuk mengikuti pendapat atau filsafat orang-orang terkenal dibandingkan dengan Al Qur’an.
  5. Al Qur’an hanya digunakan untuk justifikasi atau pembenaran tujuan-tujuan sesaat sesuai keingingan hawa nafsu.
  6. Al Qur’an hanya dipelajari untuk diperdebatkan, tidak untuk diamalkan.
  7. Al Qur’an hanya dipelajari bacaannya, tidak untuk dipahami dan diamalkan isi dan kandungannya, bahkan kefasihan dalam membaca hanya tujuan utama sehingga merasa pandai, hebat dan suci.
  8. Al Qur’an dianggap tidak dapat dijadikan acuan untuk mencapai kebenaran yang hakiki, maka untuk mendapatkan kebenaran hakiki dicari dari ilmu-ilmu lainnya.

 

 

  1. Kesombongan terhadap Orang Tua.

 

Kesombongan terhadap orang tua secara nyata banyak terjadi di masyarakat  kita dewasa ini, terutama terhadap orang tua yang telah lanjut usia dan menggantungkan hidup pada anaknya. Ada keluarga yang menganggap orang tua sebagai beban keluarga, bahkan tidak jarang orang tua dijadikan pelampiasan amarah dan kekesalan anaknya sendiri. Dimasyarakat modern dimana suami istri sibuk bekerja dikantor, orang tuanya ada yang dijadikan sebagai pembantu untuk mengurus cucu dsb., tidak ada penghormatan terhadap orang tua sedikitpun.

Mungkin juga kesombongan terhadap orang tua terjadi pada diri kita secara halus, yaitu kurang rasa kasih sayang kepada orang tua karena lupa akan kasih sayang orang tua sejak kecil kepada kita. Lupa akan jasa orang tua yang sangat besar kepada kita sehingga orang tua kita anggap orang yang tak pernah punya jasa pada diri kita.

Beberapa tanda kesombongan terhadap orang tua antara lain :

  1. Tidak dapat merasakan dan melupakan begitu saja jasa orang tua terhadap diri kita. Kita sudah lupa betapa orang tua telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, bahkan tidak jarang orang tua mengorbankan kebahagiaannya demi membesarkan dan mendidik kita sampai kita dewasa.
  2. Tidak merasakan dan melupakan bahwa kita dilahirkan oleh orang tua dengan taruhan nyawa.
  3. Menganggap atau merasa saat ini tidak membutuhkan orang tua, karena sudah dapat berdiri sendiri dan mencari nafkah sendiri.
  4. Orang tua kedudukannya disejajarkan atau lebih rendah dari orang lain. Tidak ada penghargaan khusus terhadap orang tua .
  5. Menganggap orang tua tidak mempunyai kontribusi atau manfaat dalam keluarga, bahkan kita menganggap orang tua sebagai beban.
  6. Kita menganggap dan merasakan bos kita, teman kita lebih berjasa dibandingkan orang tua.
  7. Jarang dan bahkan tidak pernah berdo’a untuk keselamatan dan kebahagiaan orang tua.
  8. Jarang dan hampir tidak pernah menyenangkan orang tua, bahkan kita sering membentak atau mengucapkan kata-kata kasar kepada orang tua.

 

  1. Kesombongan terhadap sesama manusia.

 

Kesombongan sesama manusia tidak terlalu sulit diketahui, masyarakat awampun akan merasakannya secara langsung, ini biasanya terjadi pada orang yang berbeda status sosialnya, berbeda kekayaannya, kepandaiannya, tingkat pengetahuan baik pengetahuan umum maupun pengetahuan agama.  Kesombongan tidak hanya pada orang berstatus berbeda akan tetapi kesombongan terjadi juga pada orang yang punya status yang sama tetapi salah satunya memang memiliki dasar sifat sombong.

Secara umum sombong adalah apabila didalam diri seseorang merasa lebih dari orang lain, baik itu kelebihan fisik, pengetahuan, kekayaan, kepandaian, pangkat, keturunan dsb.

Akibat dari rasa sombong terhadap sesama manusia tersebut akan tumbuh sifat-sifat buruk antara lain :

  1. Menutup diri dari sebagian manusia lainnya sehingga cenderung bersifat egois, tertutup, materialistis.
  2. Sulit mendapat nasehat, karena menganggap dirinya yang paling pintar dan paling berilmu atau yang paling suci (terutama terjadi pada ulama dan kiyai).
  3. Ujub, ria’, niatnya selalu ingin dipuji orang (tujuannya hanya karena orang atau materi).
  4. Takabbur, kagum terhadap diri.
  5. Pemarah, mudah tersinggung, dalam pergaulan.
  6. Iri & dengki, tidak ingin orang lain melebihinya dalam segala sesuatu.
  7. Mencela dan mengejek orang lain, menganggap orang lain rendah atau untuk menutupi kekurangannya dimata orang.
  8. Tidak menerima kebenaran, karena menganggap pemahaman yang ada dalam dirinya adalah yang paling benar dan orang lain salah.
  9. Bohong, tidak dapat dipercaya, pembual, hal ini terjadi untuk mempertahankan kedudukannya dimata orang atau saingannya.

 

  1. Kesombongan terhadap makhluk-makhluk lain.

 

Dampak kesombongan terhadap Allah akan berakibat pada timbulnya kesombongan terhadap semua makhluknya. Moral dan etika sama sekali tidak akan dipakai dalam menjalankan kehidupan ini.

Kesombongan akan menutup mata hati sekaligus membekukan hati nurani kita dari kepekaan sebagai makhluk manusia yang paling mulia diantara semua makhluk yang ada dibumi ini. Segala keputusan, pertimbangan hanya menurutkan kehendak hawa nafsu, keinginan sesaat dan mengabaikan keluhuran budi pekerti.

Beberapa tanda-tanda kesombongan terhadap makhluk lain al. :

  • Tidak mempedulikan makhluk lain disekitarnya, misalnya hewan dan tumbuhan, menganggap hanya dirinya yang hidup.
  • Bersikap sewenang-wenang terhadap lingkungan hidup. Hewan, tumbuhan sekitarnya dan alam sekitarnya akan dikorbankan untuk memenuhi hawa nafsunya, maka akan timbul kerusakan lingkungan hidup.
  • Tidak percaya pada dunia ghaib, menganggap hanya dunia nyata saja kehidupan.

 

Tujuan mengenal sifat sombong :

Sifat sombong ada dalam diri kita dalam berbagai bentuknya baik yang jelas dapat dirasakan  maupun yang halus. Kita perlu mengenal dengan baik sifat sombong ini sebagai tindakan waspada terhadap diri sendiri apabila suatu saat muncul dan menguasai maka kita sesegera mungkin berusaha untuk menghindarinya atau mengendalikannya.

 

Sebab-sebab timbulnya rasa sombong didalam diri al :

  • Kurangnya pengetahuan tentang hakikat sifat-sifat yang ada didalam diri sendiri.
  • Kurangnya kesadaran untuk mengenal perilaku manusia dan budi pekerti.
  • Tidak percaya bahwa didalam diri terdapat sifat-sifat buruk dan makhluk yang menjerumuskan yaitu iblis, syaiton.
  • Adanya prinsip meterialistis yang berlebihan sehingga ukuran derajat kehidupan terletak pada nilai material semata.
  • Tidak mengenal nilai-nilai ruhaniah yang seharusnya dipelihara didalam jiwa manusia.
  • Tidak mengenal hakikat makna kehidupan dan tujuan hidup yang hakiki.
  • Tidak percaya dan tidak mempunyai tanggung jawab akan adanya hari pembalasan setelah kematian.
  • Tidak menyadari bahwa ada yang menciptakan, memelihara, mengatur dirinya dan alam semesta diluar jangkauan pengetahuan dan panca indranya.
  • Mabuk kesenangan pribadi, kebahagaiaannya hanyalah penghargaan orang lain.

 

Usaha memperkecil kesombongan dan jika perlu menghilangkannya dapat diupayakan dengan cara antara lain :

  1. Berusaha dengan sungguh-sungguh mengenal diri sendiri dan hakikat perjalanan hidup, tujuan hidup, hari pertanggung jawaban hidup seorang manusia.
  2. Berusaha dengan sungguh-sungguh mengenal yang menciptakan, menghidupkan dirinya dan alam semesta.
  3. Menyadari dan menghayati hakikat pemberian perlengkapan hidup dari Tuhan kepada diri dan seluruh makhluk-Nya.
  4. Berusaha dengan sungguh-sungguh mengenal Rosul, dengan cara mempelajari ajaran, sejarah hidup dan akhlaq Rosul serta menghayati dan mengamalkan ajarannya.
  5. Menyadarkan diri dan menghayati jasa-jasa serta pengorbanan orang tua terhadap diri kita sejak didalam kandungan sampai usaha orang tua dalam memelihara kita sejak kecil.
  6. Mengenal diri, meneliti kelemahan-kelemahan diri, menyadarkan diri bahwa sebelumnya kita tiada kemudian diciptakan, dihidupkan, semuanya diberi oleh Allah dan kita akan kembali kepada Allah dan hanya ketaqwaan, keimanan, keikhlasan kepada Allah yang membawa kita selamat di Dunia dan Akhirat.
  7. Menyadarkan diri bahwa sebenarnya kita tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Tiada sesuatupun yang diciptakan Allah yang sia-sia.
  8. Menyadarkan diri bahwa dalam diri kita banyak kekurangan dan kelemahan, mencatat dan meneliti kekurangan tersebut.
  9. Berlapang dada untuk menerima masukan, saran, kritik dari orang lain sebanyak-banyaknya.
Sebarkan kebaikan: