Bid’ah

BID’AH
OBAT ATAU RACUN

“ KULLU BID’ATIN DHALALAH “ artinya setiap bid’ah itu sesat. ( Al Hadits )

Kebingungan masyarakat.
Tulisan ini terinspirasi setelah menyaksikan fenomena umat islam yang terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia. Pada awalnya umat islam hidup bersama dengan penuh keharmonisan bahkan dikenal dengan masyarakat yang ramah tamah, suka bergotong royong, suka berkumpul dan mengaji, mereka semua merasakan hidup bersama yang sangat menyenangkan. Namun suatu saat mereka dikejutkan dengan istilah “Bid’ah“ yang dibawa oleh orang tertentu, katanya bid’ah itu sesat, kesesatan ganjarannya adalah neraka. Setelah munculnya istilah ini sifat masyarakat yang semula ramah-tamah senang berkumpul berubah menjadi egois, yang semula saling menghormati berubah menjadi suka mencela, yang semula rendah hati berubah menjadi sombong merasa paling benar. Rasa persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun hancur dalam sekajap mata.
Tidak jelas apa artinya bid’ah, tetapi yang pasti kata-kata ini telah menyebabkan kebingungan dikalangan umat islam. Orang beribadah menjadi serba takut, kreatifitas beramal salehpun menjadi terbunuh.
Ilustrasi dibawah ini dapat menjadi renungan bagaimana dampak negative yang terjadi setelah vonis “bid’ah” diberlakukan kepada umat islam yang sedang belajar untuk menjadi mukmin yang baik.
Vonis “bid’ah” ini menjadi mesin pembunuh kreatifitas dalam beramal saleh dan sebagian orang menjadikan sebagai alat efektif untuk memecah belah umat islam.
Kronolgi kejadian dibeberapa daerah yang sering kita dengar, ada sekelompok orang yang sedang bergairah belajar ilmu agama, mereka bersemangatnya melaksanakan amal saleh, tiba-tiba semangatnya beramal saleh menurun dan sangat ketakutan, kreatifitasnya mati dan bingung disebabkan kata bid’ah. Mereka adalah kaum perempuan yang kurang pendidikannya, nenek-nenek dan kakek-kakek, orang-orang yang baru belajar islam bahkan ada diantaranya yang mualaf.
Cara belajar Al Qur’an mereka adalah menghafal secara bersama-sama maklumlah mereka tidak sehebat orang-orang tamatan pesantren atau sarajana IAIN, mereka hanya punya waktu sedikit, pengajianpun hanya seminggu sekali hanya cara itu yang dapat mereka lakukan. Tiba-tiba terdengar kata “Bid’ah“ yang menakutkan, mengerikan, katanya “ tidak ada dalilnya ngaji dengan cara bersama-sama, siapa yang melakukan akan masuk neraka “ setelah mendengar kata-kata ini mereka yang baru belajar itu lari tunggang langgang ketakutan. Kata Bid’ah menjadi moster yang menakutkan, mengerikan. Perkumpulan dan persaudaraan hilang seketika kemudian berubah menjadi saling curiga, saling mencela, hubungan bathin antara sesama muslim menjadi rusak karena sebagian dari mereka merasa paling berhak masuk surga, sedangkan yang lain merasa tersudutkan karena divonis masuk neraka. Akhirnya orang mualaf kembali keagamanya, sebagian orang muslim menjadi murtad karena kebingungan.

Memanfaatkan kata “bid’ah” untuk kepentingan diri atau kelompok.
Ilustrasi lainnya, ada sekelompok jamaah pengajian yang berlajar cukup lama kepada seseorang. Dari kelompok ini ada beberapa orang muridnya yang mencoba belajar ketempat lain untuk menambah wawasan, murid ini pun semakin pandai karena banyak gurunya. Rupanya pelajaran agama yang diperoleh dari orang lain sedikit berbeda dan lebih aplikatif, ilmu ini tidak dimiliki oleh gurunya yang lama, maklumlah semua manusia tidak sempurna ada kelebihan dan kekurangannya. Melihat keadaan ini sang guru lama merasa khawatir muridnya menjadi kurang loyal dan jumlahnyapun berkurang, akhirnya sang gurupun mengeluarkan senjata pamungkas yang menakutkan yaitu fatwa “Bid’ah“ kepada ajaran orang lain sebagai cara mempertahankan kepentingannya.
Ilustrasi lain, ada seorang pengusaha ingin mencari kekayaan dengan cara menebang kayu illegal didalam hutan. Tetapi mereka harus menghadapi para santri yang suka datang kedalam hutan. Pengusaha ini sangat kebingungan bagaimana caranya agar santri tidak masuk hutan. Akhirnya sang pengusaha berinisitatif mendekati guru para santri tersebut untuk mendukung idenya. Sang gurupun mulai membatasi ruang gerak muridnya agar tidak masuk kedalam hutan dengan mengeluarkan fatwa “ Mendekati hutan itu bid’ah karena tidak ada haditsnya”. Para santripun menjadi ketakutan tak ada yang berani masuk hutan maka sang pengusaha dengan leluasa menebang hutan tanpa ada masalah lagi.

Taklid buta dan tekstual
Anehnya banyak juga orang-orang yang sudah mengaji lama dan cukup berpendidikan begitu patuh kepada gurunya tanpa mengkaji lebih dalam makna yang sesungguhnya dari kata bid’ah ( taklid buta ). Padahal kata bid’ah merupakan vonis (hukuman) berat yaitu masuk neraka, sungguh vonis yang sangat mengerikan. Mungkin banyak yang tidak sadar akan hal ini. Bagi mereka yang pemahamannya serba dalil, tekstual, terlulis, mereka menafsirkan kata bid’ah dengan perbuatan baik yang tidak ada hadits tertulisnya. Ada beberapa kemungkinan yang membuat mereka memiliki padangan ini diantaranya :
1. Mereka orang malas membaca dan tidak ada kemampuan membeli buku dan hanya berpedoman kepada satu buku saja, sehingga tidak menemukan hadits tertulisnya padahal mungkin saja ada pada hadits lain yang belum diketahuinya. Umumnya mereka merasa dirinya paling sempurna.
2. Mereka termasuk taklid buta ( apa kata gurunya dianggap Maha Benar.)
3. Mereka ikut-ikutan lingkungannya, pokoknya bid’ah saya tidak perduli.
4. Mereka yang tidak sadar bahwa untuk memvonis bid’ah harus memiliki pengetahuan yang luas khususnya memahami dengan baik seluruh isi Al Qur’an yang jumlah ayatnya ribuan dan memahami seluruh hadits yang jumlahnya puluhan ribu. Kadang-kadang baru tahu satu, dua ayat Al Qur’an dan beberapa potong hadits sudah berani memvonis bid’ah.
5. Mereka tidak tahu tetapi sok tahu.

Beberapa mubaligh yang insyaf.
Saya pernah menjumpai beberapa orang mubaligh yang begitu keras memvonis bid’ah kepada sebuah kelompok pengajian, namun setelah beberapa tahun kemudian saya bertemu kembali ternyata mubaligh tadi berbalik mengikuti kelompok yang ditentangnya tersebut. Saya bertanya kepada mereka mengapa anda sekarang mengikuti faham yang dahulu pernah anda vonis bid’ah dan masuk neraka. Mereka menjawab sederhana ” dulu saya belum memahami ”.
Dari kejadian ini dapat kita tarik hikmah mungkin saja kita salah dalam memberikan vonis bid’ah. Sungguh hal ini sangat mengerikan, tapi ironinya vonis ditimpakan kepada kepada orang lain seenaknya saja, bahkan ada juga yang menjatuhkan vonis sedangkan mereka tidak faham.

Ada sebuah kondisi yang terbalik yaitu sesuai hadits tapi disalahkan.
Pada suatu hari ada seorang melaksanakan wudhu seperti biasa membasuh muka, tangan, kepala, kemudian dia hanya mencuci kaki kirinya saja yang kanan tidak, maka orang-orang islam sekelilingnya heran dan mencap orang ini bid’ah karena hanya mencuci kaki kirinya saja. ( benarkah ini bid’ah ? )
Kemudian dijumpai pula seorang yang sedang melakukan sholat dan dia selalu membawa saputangan atau selendang disakunya. Saat sholat dia selalu membuang ludahnya disaputangannya dan dilipat-lipat dimasukannya kesakunya. Saat ditanya kamu sholat selalu membuang ludah itu bid’ah dan jorok. ( benarkah dia bid’ah ? )
Ada seseorang yang buang air selalu membelakangi kiblat katanya ajaran nabi, apakah ini ajaran bid’ah ? kata ulama seharusnya tidak demikian.
Tugas anda mencari hadits yang tidak umum ini dari tumpukan dalil lebih dari 50.000 hadits yang layak dipercaya, kasus ini baru masalah kecil dari dari jutaan masalah umat yang harus diselesaikan. ( Renungkan )

Memvonis hukuman yang tidak adil adalah tindakan dholim.
Vonis hukuman untuk orang yang berbuat bid’ah adalah kesesatan yang akhirnya adalah neraka, hukuman ini sangat berat. Mungkin sabda Rosulullah ” Kullu bid’atin dholala ” ini ditujukan untuk menyelamatkan prinsip-prinsip islam agar tidak disalah gunakan. Disamping itu untuk menjaga persatuan umat islam agar tidak simpang siur sehingga membahayakan existensi ajaran islam itu sendiri. Tetapi saat ini justru terbalik, kata bid’ah dipakai untuk memvonis umat islam lain yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka, sedangkan sebagian yang lain untuk membuat pembenaran atas ajarannya sendiri, ada juga untuk mempertahankan jamaahnya. Bayangkan orang-orang yang berniat baik dan baru belajar islam, mereka tidak kafir, tidak munafik, tidak fasik, tidak musyrik tidak berbuat dosa besar, tidak menyakiti orang lain, tiba-tiba divonis bid’ah masuk neraka. Mungkin saja vonis bid’ah ini tidak benar tetapi hanya beda penafsiran. Bila kita salah menjatuhkan vonis bid’ah kepada orang lain maka berarti kita mendhalimi orang lain. Allah memerintahkan kepada kita untuk berbuat adil, menjaga persatuan umat, bertindak bijaksana, berkasih sayang terhadap sesama muslim dan seterusnya. Mari kita renungkan dan belajar lebih banyak agar kita tidak mudah menjatuhkan vonis berlebihan yang akhirnya membahayakan diri kita sendiri dan memecah belah umat islam. Memelihara persatuan umat islam adalah kewajiban kita bersama.

Kesimpulan :
Keberadaan hadits ” Kullu Bid’atin Dhalala ” ditujukan untuk melindungi umat islam dari perpecahan, penyalahgunaan, serta memagari umat islam dari membuat sesuatu aturan sesenaknya sendiri. Bisa jadi kita salah dalam memvonis bid’ah kepada orang lain, ini berarti kita telah melakukan bid’ah itu sendiri. Bila diibaratkan umat islam dalam keadaan sakit yang disebabkan perpecahan, maka hadits ini berfungsi sebagai obat untuk mempersatukan umat islam. Tetapi bila dosisnya tidak tepat atau salah menggunakannya bisa jadi akan menjadi racun bagi umat islam itu sendiri. Kita perlu berhati-hati.

Sebagai bahan renungan marilah kita kaji bersama Al Qur’an QS. Al Hujurat ( 49 ) : 11 – 12

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain ( karena ) boleh jadi mereka ( yang diolok-olokan ) lebih baik dari mereka ( yang mengolok-olokan )……. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain ….. ”

Renungan :
Merendahkan orang lain dan berprasangka buruk saja adalah dosa yang dilarang oleh Allah apalagi memvonis sesama orang beriman dengan bid’ah atau masuk neraka. Kita belum tentu lebih baik dari mereka dalam pandangan Allah, bisa jadi ilmu kita yang belum sempurna. Memang betul bid’ah dan kesesatan itu ada didunia ini tetapi untuk menjatuhkan vonis bid’ah bukan seenaknya, perlu pengkajian yang mendalam dan menyeluruh bila perlu melibatkan ulama sedunia. Karena itu hendaknya kita semua berhati-hati, jangan bicara asal bunyi atau ikut-ikutan yang akhirnya akan merusak persatuan umat islam dan mendholimi diri sendiri dan orang lain.

Bekasi, 22 November 2007

( Lukman Hakim)

HR. Bukhari No. 244 (Shahih Bukhari Penerbit Fa Wijaya Jakarta )
” Apa bila kamu sedang shalat……. janganlah kamu meludah ke arah kiblat tetapi kekiri atau kebawah tapak kakinya. Kemudian nabi mengambil ujung cedarnya, lalu beliau meludah disitu, kemudian dilipat-lipatnya seraya bersabda ” atau perbuatlah begini ”.

HR. Bukhari No. 100 Buku sda.
…… Raulullah berwudhu muka, tangan, kepala dst, …… Sesudah itu disauknya air, lalu dibasuhnya kaki kirinya. Kemudian ia berkata ” Beginilah saya lihat Rosulullah saw berwudhuk ”

HR. Bukhari No. 107 Buku sda.
Abdullah bin umar r.a. menceritakan “ saya naik keloteng rumah Hafsah untuk suatu keperluan, kelihatan oleh Rosulullah sedang buang air membelakang kiblat dan menghadap ke Syam “

Masih banyak lagi hadits sejenis ini

Sebarkan kebaikan: